Khutbah Jumat: Memperhatikan Keharaman “April Mop”
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupate Mojokerto
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ
الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ (أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ
ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dari atas mimbar ini, khatib berwasiat kepada
kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha
meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan melaksanakan semua
perintah-Nya dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan-Nya.
Dalam kesempatan
khutbah ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan judul Keharaman “April
Mop”
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Mengutip dari
Wikipedia, April Mop atau dikenal dengan April Fools' Day dalam bahasa
Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun.
Pada hari itu, orang
dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa
dianggap bersalah. Hal ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya
terhadap keluarga, musuh, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan
orang-orang yang mudah ditipu.
Hadirin yang Berbahagia,
Para ulama mendefinisikan berbohong dengan
makna; “Menyampaikan perkataan yang berbeda dengan kenyataan padahal ia tahu
bahwa perkataannya itu memang berbeda dengan kenyataan”. Berbohong hukumnya
bisa dosa kecil, dosa besar, bahkan bisa menjerumuskan kepada kekufuran.
Jika sebuah
kebohongan tidak mengandung bahaya yang mengenai seorang muslim, maka ia
termasuk dosa kecil. Namun demikian, dosa kecil tidak boleh diremehkan karena
gedung pencakar langit pada hakikatnya adalah tumpukan dari batu-batu bata yang
kecil. Karenanya, jangan meremehkan dosa kecil.
Sedangkan jika
sebuah kebohongan mengandung bahaya yang mengenai seorang muslim, maka hal ini
termasuk dosa besar. Dan jika dalam kebohongan tersebut terdapat unsur
menghalalkan perkara yang telah disepakati keharamannya oleh para ulama, dan
kalangan awam serta terpelajar mengetahui keharamannya, dan hal itu tidak samar
baginya seperti keharaman zina, anal seks dan mencuri, atau mengharamkan
perkara halal yang nyata-nyata halal, yang mana kalangan awam dan terpelajar
juga mengetahui kehalalannya, seperti jual beli dan nikah—maka kebohongan
tersebut adalah kekufuran. Na’udzu billahi min dzalik.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Penting untuk
kita ketahui bersama bahwa berbohong hukumnya haram, baik dilakukan dengan niat
bercanda maupun sungguh-sungguh. Baik dengan kebohongan tersebut seseorang
ingin membuat banyak orang tertawa atau tidak, tetap saja hal ini haram. Hal
ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:
وَيْلٌ
لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ ثُمَّ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَهُمْ وَيْلٌ لَهُ وَوَيْلٌ
لَهُ
“Sungguh
celaka orang yang berbicara kepada suatu kaum, kemudian ia berbohong untuk
membuat mereka tertawa, sungguh celaka ia, sungguh celaka ia.” (HR Ahmad)
Ancaman dengan
menggunakan redaksi “wail (celaka)” menunjukkan dosa besar yang
menjadikan pelakunya berhak mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.
Hadirin yang Berbahagia,
Jadi, berbohong hukumnya haram, baik di awal April
maupun di waktu-waktu lainnya. Baik dilakukan dengan tujuan bercanda ataupun
tidak.
Lebih parah lagi,
kebohongan “April Mop” sering kali disertai dengan perbuatan menakut-nakuti
seorang muslim. Misalnya, seseorang berbohong dengan mencandai temannya; “Anakmu
meninggal” atau “Istrimu mengalami kecelakaan.” Sebab itu sangat
menyakitkan untuk didengar.
Padahal menakut-nakuti
seorang muslim hukumnya haram. Dalam Musnad Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah
SAW bersabda:
لَا يَحِلُّ
لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi
seorang Muslim menakut-nakuti Muslim lainnya.” (HR Ahmad)
Hadis ini disampaikan
Nabi SAW ketika sebagian orang menakut-nakuti salah
seorang sahabatnya dengan tujuan bercanda, yaitu dengan mengambil anak panah
darinya saat ia sedang tidur.
Saudara-Saudaraku,
Jadi, kebohongan,
sekali lagi, itu tidak dibanarkan meskipun dimaksudkan untuk bercanda, sebagaimana
diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ الْكَذِبَ لَا يَصْلُحُ مِنْهُ جِدٌّ
وَلَا هَزْلٌ، وَلَا أَنْ يَعِدَ الرَّجُلُ ابْنَهُ ثُمَّ لَا يُنْجِزُ
لَهُ، إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى
الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ
يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“Sesungguhnya dusta itu tidak layak,
baik dalam keadaan serius maupun bercanda. Dan tidak pantas seseorang berjanji
kepada anaknya, kemudian ia tidak menepatinya. Sesungguhnya kejujuran menuntun
kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Sebaliknya, dusta menuntun
kepada kerusakan, dan kerusakan menuntun kepada neraka.” (HR al-Hakim)
Jadi meskipun
tujuannya untuk membuat orang
lain tertawa, dan meskipun tidak
mengandung unsur menyakiti orang lain, hukumnya tetap haram.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنِّي
لَأَمْزَحُ وَلَا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًّا
“Sungguh aku pun
bercanda, akan tetapi aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.” (HR ath-Thabarani)
Dalam hadis ini, Rasulullah
memberitahukan bahwa beliau kadang bercanda karena hikmah tertentu, namun
beliau tidak mengatakan kecuali perkataan yang benar, yakni beliau tidak pernah
berbohong.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Demikianlah
khutbah Jumat singkat yang bisa khatib sampaikan. Semoga bermanfaat.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى،
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، وأَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا)،
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ