Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Pendidikan sebagai Kunci dalam Menggapai Impian

5 menit baca 12.353 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Jumat: Pendidikan sebagai Kunci dalam Menggapai Impian
Foto: Pinterest
Bagikan:

Oleh: Drs. KH. Abdullah Tholib, MM, Wakil Ketua Umum MUI kota Tangerang

السّلام عليكم ورحمة الله ويركاته

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ.

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدهُ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، إِتَّقُوْااللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Tiada untaian kata yang indah kecuali rasa syukur kita yang mendalam ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat-Nya yang–tidak mungkin–setiap hamba-Nya dapat menghitungnya.

Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu sehat dan kesempatan. Alhamdulillah, di kesempatan yang baik ini kita dapat mendayagunakan kedua nikmat ini untuk melangkahkan kaki kita dari rumah, dari tempat dagang, kantor, dan tempat lain untuk menuju ke masjid dalam mendirikan shalat Jumat berjamaah.

Semoga langkah-langkah kita dicatat oleh Allah sebagai amal saleh. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan, pemimpin, dan suri teladan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya yang selalu menjalankan sunnah-sunnahnya.

Dalam kesempatan dan di tempat yang mulia ini, kita berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan wasilah melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kata pendidikan mengandung dua elemen yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu proses pembelajaran atau transfer of knowledge dan pembentukan kepribadian yang baik atau good character building.

Ilmu pengetahuan merupakan investasi yang sangat berharga dan hanya bisa diperoleh melalui proses pendidikan yang berkualitas. Namun, ilmu pengetahuan tanpa didasari oleh kepribadian yang baik akan terkendala saat berada di tengah-tengah masyarakat.

Karena itu, ilmu dan adab atau akhlak (kepribadian) harus sejalan beriringan. Keduanya harus ditempa dalam proses pendidikan. Dengan perhatian ini, maka investasi pendidikan akan menghasilkan kesuksesan di masa depan.

Pendidikan adalah aspek yang harus diperhatikan oleh seluruh pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, karena pendidikan adalah kunci dari segala sesuatu.

Melalui proses pendidikan yang baik, seseorang bisa membuka cakrawala dunia seluas-luasnya dan menggapai berbagai kebaikan yang dicita-citakan.

Dalam Islam, meski negara dalam keadaan harus berperang melawan musuh, namun Allah SWT melarang semua pergi ke medan perang.

Ditegaskan bahwa sebagain masyarakat harus tidak ikut perang, tidak lain demi memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddiin) yang tidak lain tujuannya adalah memberikan pengajaran kepada mereka ketika telah kembali dari berperang.

Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam surat At-Taubat ayat 122 :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi  semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri mereka.”

Rasulullah SAW juga mewajibkan bagi setiap orang untuk mencari ilmu, sebagaimana disampaikan dalam sabdanya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim.”(HR Thabrani)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketahuilah, bahwa salah satu tujuan diutusnya para rasul oleh Allah SWT adalah untuk menyampaikan dan mengajarkan tentang pentingnya proses pembelajaran dan juga pendidikan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Aquran, tepatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 151:

كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kalian kitab (Alquran) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kalian ketahui.”

Selain ayat di atas, juga disebutkan dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa diutusnya Rasulullah SAW tidak lain untuk mendidik/mengajar.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللّٰهَ لَمْ يَبْعَثْنِيْ مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk mempersulit orang lain dan tidak pula untuk mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik (pengajar) yang memberi kemudahan.” (HR Muslim)

Bahkan para tawanan Perang Badar tidak diminta tebusan berupa harta benda atau yang lain, tetapi tebusan yang diminta mengajarkan ilmu menulis kepada anak-anak kaum Anshar. Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah mementingkan ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang.

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad juz 4 halaman 92, dijelaskan:

كَانَ نَاسٌ مِنَ الْأَسْرَى يَوْمَ بَدْرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ فِدَاءٌ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءَهُمْ اَنْ يُعَلِّمُوْا اَوْلاَدَ الْأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ

“Sebagian tawanan Perang Badar tidak memiliki sesuatu sebagai tebusan mereka, kemudian Rasulullah menetapkan tebusan mereka dengan cara mereka mengajarkan anak-anak Anshar ilmu menulis.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berkompeten. Melalui pendidikan pula, setiap orang dapat mengembangkan potensi dan bakatnya secara maksimal.

Demikian juga, pendidikan dapat membantu mereka mencapai impian dan tujuan hidup mereka serta akan memberikan kontribusi positif kepada orang lain. Karena itu, maka pendidikan merupakan warisan yang harus diberikan kepada generasi yang lebih lanjut.

Pendidikan lebih berharga dibandingkan dengan harta. Warisan harta akan habis dimakan waktu dan orang yang berharta akan selalu menjaga hartanya, sedangkan warisan ilmu akan terus berkembang seiring zaman dan orang yang berilmu akan selalu dijaga oleh ilmunya.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Tirmidzi)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Demikianlah Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan pendidikan, sekaligus bukti bahwa Islam sangat memerangi buta huruf dan kebodohan.

Umat Islam diwajibkan untuk memperkaya ilmu pengetahuan agar dapat membaca, memahami, meneliti, dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang tertulis dalam mushaf maupun ayat-ayat kauniyah.

Proses pembelajaran dalam memperkaya ilmu pengetahuan, dengan cara membaca, meneliti, dan memahami, harus disertai dengan mengingat Allah SWT, karena semua ilmu pengetahuan yang ada dalam alam jagat raya ini adalah ciptaan-Nya belaka.

Hal ini telah Allah digariskan dalam wahyu pertama yang telah dturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam surat Al-‘Alaq, ayat 1-4:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena.”

Dari sini, kiranya dapat dikatakan bahwa dengan pendidikan orang akan mencapai proses berbudaya yang tinggi. Dengan pendidikan, orang akan memperkaya ilmu pengetahuan, dan dengan ilmunya dia akan mencapai suatu derajat yang tinggi.

Demikian juga orang berilmu dan berbudaya akan muncul dari dalam dirinya sebuah kharisma, yang bisa jadi tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang tidak berilmu dan berbudaya.

Dan pada akhirnya, orang berpendidikan, berilmu, dan berbudaya akan mencapai kesuksesan dalam menggapai cita-cita yang diimpikan.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.