Khutbah Jumat: Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Dr Alvian Iqbal Zahasfan, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Metodologi, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ
لِلهِ نَحْمَدُهُ ونستهديه ونشكره، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ
لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
لا نبي بعدَه.
اللّٰهُمَّ فَصَلِّ
وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ التناد.
أما بعد، عباد
الله أوصي نفسي أولا وأوصيكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قَالَ اللهُ تَعَالَى
فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) وقال أيضا: (وَالْعَصْرِ.
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.)
Sidang Jumat yang
Dirahmati Allah,
Hari ini, di mimbar yang mulia
ini, khatib mengajak dan mengingatkan, terutama pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa
menjaga dan meningkatkan iman dan takwa, dalam arti bersungguh-sungguh
dalam menjalankan segala perintah
Allah dan menjauhi semua larangannya.
Tak lupa khatib juga mengajak
jamaah untuk mempertebal kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karena
mencintai Rasulullah merupakan bagian dari iman.
Barang siapa yang
ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah. Barang siapa yang ingin merajut
jalinan dengan Allah, maka rajutlah jalinan dengan Baginda Nabi. Itulah jalan
dan cara yang disampaikan Allah langsung dalam Kitab-Nya, surat Ali Imran ayat 31:
قُل اِن كُنتُم
تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِى يُحبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغفِرْ لَـكُم
ذُنُوبَكُم وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sidang Jumat yang
Diberkati Allah,
Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema “Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal”.
‘Ibadallah…, ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah “isti’adzah” atau mohon
perlindungan kepada Allah dari empat hal, sebagaimana terekam dalam doanya
berikut ini:
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ
نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، (وفي رواية: ومن دعوة لا
يُستجابُ لها)
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak
bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, doa yang tidak
didengar (tidak dikabulkan).” (HR
An-Nasai)
Mari kita perjelas satu per satu. Semoga
kita dapat memahami kenapa Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari
empat hal tersebut.
Isti’adzah pertama,
Nabi berlindung dari “ilmu yang tidak bermanfaat”. Apa itu ilmu yang
tidak bermanfaat? Menurut Imam Al-Qadhi ’Iyyadl ilmu yang tidak bermanfaat adalah:
العلم الذي لا
يُعمل به، أو لا يهدي إلى طاعة الله، ولا يُثمِر خشيةً ولا صلاحًا
“Ilmu yang tidak diamalkan, atau yang tidak
mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, atau yang
tidak membuahkan rasa
takut dan yang tidak membuahkan kesalehan.”
Artinya, ilmu yang dihindari di sini adalah
ilmu yang dimiliki tetapi hanya menjadi materi perdebatan, sebagai sarana
mencari ketenaran dan popularitas, sebagai bangga-banggaan atau gagah-gagahan, untuk mencari gelar, dan/atau untuk sekadar mencari dunia.
Seharusnya niat mencari ilmu adalah untuk
menghilangkan kebodohan, melaksanakan kewajiban dan mencari ridha Allah. Sementara
buah dari ilmu yang bermanfaat adalah “al-khasyyah” atau rasa takut
kepada Allah. Hal ini sebagai ditegaskan Allah dalam surat Fathir ayat 28:
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.”
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,
Isti’adzah yang
kedua, Nabi SAW berlindung dari “hati yang tidak khusyuk”.
Menurut Al-Qadhi ’Iyyadl, hati yang tidak
khusyuk adalah:
هو القلب
القاسي الذي لا تَلينه المواعظُ، ولا تُؤثِّر فيه آياتُ الله.
“Yaitu hati yang keras, yang tidak menjadi lunak oleh nasihat dan tidak
terpengaruh oleh ayat-ayat Allah.”
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat
74:
ثُمَّ قَسَتْ
قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ
مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا
يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ
خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras
seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang
memancar sungai-sungai darinya, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air
darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah
tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Bahkan, dalam surat Az-Zumar ayat 22, Allah
mengancam hati yang keras:
فَوَيْلٌ
لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah keras untuk mengingat
Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”
Sementara itu, menurut Nabi Muhammad, penyebab hati keras ada tiga. Penyebab pertama adalah terlalu banyak tertawa. Nabi SAW bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ
الْقَلْبَ
“Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati.” (HR At-Tirmidzi)
Penyebab kedua adalah dosa yang ditumpuk-tumpuk, tanpa diperhatikan dan disadari. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ
نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik
hitam pada hatinya.” (HR Ibnu Majah)
Adapun penyebab yang ketiga adalah jauh dari Allah. Menyangkut
hal ini, Nabi SAW bersabda:
أَبْعَدُ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“Orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras.” (HR At-Tirmidzi)
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,
Isti’adzah yang
ketiga adalah memohon perlindungan kepada Allah dari “jiwa yang tidak pernah
puas”. Jiwa yang tidak pernah puas disebut dengan tamak. Sedangkan kebalikannya
adalah jiwa yang qana’ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi ’Iyyadl:
التي لا تَقنَع
بما رزَقَها الله، ولا تزال مُتطلعةً إلى الدنيا
“Yaitu jiwa yang tidak merasa cukup terhadap rezeki yang Allah telah bagikan, dan
terus-menerus menginginkan kenikmatan dunia.”
Dari sini, mari kita perhatikan,
bukankah huru-hara, korupsi,
perang,
dan segala bentuk kerusakan di bumi ini, tidak lain adalah disebabkan jiwa-jiwa yang serakah, yang tamak, yang tak pernah
bersyukur, dan tak pernah merasa
cukup dengan pemberiaan Allah.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Isti’adzah yang keempat, yang terakhir, adalah berlindung dari “doa yang tidak
didengar”. Artinya, bukannya Allah tidak mendengar doa kita—karena Allah Maha Mendengar, Allah mendengar
segala sesuatu—yang dimaksud di sini adalah Allah tidak mengabulkan doa kita.
Kalau doa tidak dikabulkan, dipastikan ada
rasa kecewa dalam diri seseorang. Sebaliknya, jika doanya dikabulkan, tentu
akan merasa senang. Lantas, apakah penyebab doa tidak diterima Allah?
Jawabannya adalah tiga hal yang menjadi penyebabnya.
Pertama, sebab harta yang diperoleh dari cara yang haram. Kedua, sebab
melakukan kezaliman kepada orang lain. Ketiga, sebab lalai atau tidak yakin
saat berdoa. Karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan dengan saksama. Jangan
sekadar membaca doa, melainkan juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa
tersebut tidak dikabulkan.
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,
Demikian inilah empat isti’adzah atau
permohonan perlindungan kepada Allah, yang dilakukan oleh Nabi SAW supaya
dihindarkan darinya.
Jika kita perhatikan dari urutan hadis di
atas, kita dapat menyimpulkannya bahwa; ilmu yang tidak bermanfaat akan melahirkan hati yang
tidak khusyuk; hati yang tidak
khusyuk akan
menumbuhkan jiwa yang rakus; dan jiwa yang rakus akan menghalangi terkabulnya doa.
Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga
ilmu kita bermanfaat, hati kita khusyuk, jiwa kita qana’ah, dan doa kita
diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.
بَارَكَ
اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.