Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Idul Fitri: Spirit Ramadhan untuk Membangun Bangsa

9 menit baca 4.234 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Spirit Ramadhan untuk Membangun Bangsa
Foto: Pinterest
Bagikan:

Oleh: KH M Cholil Nafis, Lc., Ph.D, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

الله ُأَكْبَرُ9x  ، كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ، وَأَتَمَّ لَنَا النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الْإِسْلَامَ دِيْنًا. تَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ وَلُطْفِهِ، أُسَبِّحُ لَهُ سُبْحَانَهُ، رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ وَكِيْلٌ، يُعِزُّ بَعْضَنَا وَيُذِلُّ بَعْضَنَا، إِلَهٌ كَرِيْمٌ وَاحِدٌ، جَلِيْلٌ مُنَزَّهٌ عَنِ الشَّبِيْهِ وَالشَّرِيْكِ وَالْمُمَاثِلِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ لَهُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنٌ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَشَفِيْعَنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا ﷺ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. صَلِّ اللَّهُمَّ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاعْفُ عَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

أما بعد، فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia,

Di pagi hari nan indah, dalam suasana ceria dan penuh makna, di tengah nuansa kebahagiaan dan kegembiraan, di hari kemenangan umat Islam, kita merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Hari ini kaum muslimin telah lulus melatih diri dalam madrasah kemanusiaan (madrasah insaniyah) selama sebulan Ramadhan dan menang hingga lulus melewati ujian “jihad akbar”, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Maka Idul Fitri disebut sebagai “Hari Kemenangan” karena ia menandai keberhasilan seorang mukmin dalam menjalani proses spiritual selama Ramadhan. Kemenangan ini bukan bersifat fisik atau materi, tetapi kemenangan moral dan ruhani: mampu menahan diri, meningkatkan ibadah, serta memperbaiki akhlak.

Orang yang berhasil menjaga puasanya dari hal-hal yang merusak nilai ibadahnya, itulah yang sejatinya meraih kemenangan. Karenanya, hakikat Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah—kesucian jiwa dan kejernihan hati nurani.

Kita wajib merayakan kemenangan dan kembali makan di siang hari sebagaimana fitrahnya, kaum muslimin disunnahkan (dianjurkan) di mana pun berada untuk mengagungkan nama Allah SWT, memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan tasbih atas hidayah Allah SWT yang diberikan kepada kita sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Hal ini sebagaimana  yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

 وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangannya dan hendaklah kemu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah: 185)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Ramadhan bukan sekadar latihan sementara, tetapi pendidikan untuk menguasai diri sepanjang hayat. Imam Asy-Syafi’i berkata:

إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَحْبِسَ نَفْسَكَ، اسْتَوْلَتْ عَلَيْكَ شَهَوَاتُكَ

Jika engkau tidak mampu menahan dirimu, maka hawa nafsumu akan menguasaimu.”

Ungkapan ini menegaskan pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan seorang muslim. Nafsu (syahwat) pada dasarnya adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi jika tidak dikendalikan, ia akan menguasai dan mengarahkan manusia pada hal-hal yang berlebihan, bahkan menyimpang.

Kemampuan menahan diri (ḥabs an-nafs) adalah inti dari akhlak dan spiritualitas Islam. Dalam konteks Ramadhan, latihan puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan keinginan yang paling dasar sekalipun, seperti makan dan minum. Jika latihan ini tidak dilanjutkan setelah Ramadhan, maka hawa nafsu akan kembali mendominasi.

Ungkapan ini juga mengandung peringatan bahwa manusia tidak bisa netral: jika tidak menguasai dirinya, maka dirinya akan dikuasai. Oleh karena itu, pengendalian diri harus menjadi kebiasaan yang terus dijaga, agar seseorang tetap berada di jalan yang benar dan tidak terjerumus dalam sikap berlebihan (israf) atau perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Imam al-Ghazali berkata:

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ هُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَمَّا تَشْتَهِي

Puasa adalah setengah dari kesabaran, dan kesabaran itu menahan diri dari apa yang diinginkan.”

Kesabaran didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri dari keinginan yang tidak semestinya. Artinya, sabar bukan sekadar pasif menerima keadaan, tetapi aktif mengendalikan dorongan diri agar tetap berada dalam batas yang benar.

Kekuatan sejati manusia bukan pada kebebasan mengikuti keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan keinginan tersebut.

Ungkapan tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep efisiensi dalam kehidupan. Efisiensi pada hakikatnya adalah kemampuan menggunakan sesuatu secara tepat, tidak berlebihan, dan sesuai kebutuhan. Sementara kesabaran—sebagaimana dijelaskan dalam ungkapan tersebut—adalah kemampuan menahan diri dari dorongan keinginan yang berlebihan.

Di sinilah titik temu keduanya. Efisiensi tidak mungkin terwujud tanpa pengendalian diri. Banyak pemborosan terjadi bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan yang tidak terkendali. Puasa melatih seseorang untuk mengatakan “cukup” terhadap sesuatu yang sebenarnya diinginkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Dalam kehidupan, mendapatkan sesuatu sering kali lebih mudah daripada menjaganya. Hal ini juga berlaku dalam ibadah Ramadhan. Selama bulan Ramadhan, suasana mendukung: lingkungan religius, ibadah berjamaah, dan ritme hidup yang terarah.

Namun, setelah Ramadhan berlalu, tantangan justru lebih besar. Tidak ada lagi suasana kolektif yang kuat, sehingga menjaga konsistensi ibadah, pengendalian diri, dan akhlak menjadi lebih sulit.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya: apakah nilai-nilai Ramadhan mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan di sini pula letak kaitan erat antara Idul Fitri dan efisiensi hidup: puasa mendidik manusia untuk hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan mampu mengatur kebutuhan dengan bijak.

Efisiensi pada dasarnya adalah kemampuan menggunakan sumber daya secara tepat, tidak boros, dan tidak melampaui batas. Nilai ini sangat selaras dengan ajaran puasa.

Ketika seseorang mampu menahan diri dari hal yang sebenarnya halal di siang hari, itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kapasitas besar untuk mengontrol konsumsi dan gaya hidupnya. Maka, Idul Fitri menjadi momentum untuk membawa kebiasaan baik ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, tantangannya, setelah Idul Fitri, banyak orang justru kembali pada pola hidup konsumtif—berlebihan dalam makan, belanja, dan penggunaan sumber daya. Padahal, esensi kemenangan Idul Fitri adalah keberlanjutan dari latihan pengendalian diri tersebut.

Kemenangan sejati adalah ketika seseorang tetap mampu menjaga kesederhanaan, meskipun kesempatan untuk berlebih itu terbuka lebar.

Dalam konteks kehidupan modern, terutama di tengah tekanan ekonomi dan krisis energi, semangat efisiensi menjadi semakin penting.

Penghematan listrik, penggunaan bahan bakar secara bijak, serta pengelolaan konsumsi rumah tangga adalah bentuk nyata dari nilai-nilai puasa yang diterapkan setelah Ramadhan. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral dan spiritual.

Dalam Islam, konsep efisiensi memiliki akar yang sangat kuat dalam ajaran tentang larangan isrāf (berlebih-lebihan).

Efisiensi bukan sekadar istilah ekonomi modern, tetapi merupakan bagian dari etika hidup seorang muslim, yaitu menggunakan sesuatu secara tepat, secukupnya, dan tidak melampaui batas kebutuhan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa israf bukan hanya perilaku yang tidak baik secara sosial, tetapi juga tidak dicintai oleh Allah. Artinya, efisiensi dalam Islam bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari ketaatan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia,

Selain itu, efisiensi juga berkaitan dengan keadilan sosial. Ketika seseorang tidak berlebihan, maka ada ruang untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Di sinilah Idul Fitri memperkuat nilai solidaritas: zakat, infak, dan sedekah menjadi sarana distribusi kesejahteraan.

Dengan hidup efisien, kita tidak hanya menjaga diri dari pemborosan, tetapi juga membuka peluang untuk membantu sesama.

Adapun zakat merupakan instrumen penting dalam Islam yang berfungsi sebagai sarana berbagi untuk membantu sesama. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi wujud nyata kepedulian sosial.

Melalui zakat, seorang Muslim diajarkan bahwa sebagian harta yang dimilikinya bukan sepenuhnya miliknya, melainkan ada hak orang lain di dalamnya.

Dengan menunaikan zakat, kita turut meringankan beban fakir miskin, membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar, dan menghadirkan rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih dari itu, zakat memiliki tujuan strategis dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Islam tidak menghendaki kekayaan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja. Zakat menjadi mekanisme distribusi agar harta mengalir ke berbagai lapisan masyarakat, sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan.

Dengan demikian, zakat bukan hanya ibadah individual, tetapi juga sistem sosial yang mendorong terciptanya keadilan dan pemerataan ekonomi.

Indonesia memiliki potensi zakat yang sangat besar, diperkirakan mencapai sekitar 327 triliun rupiah per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa zakat sebenarnya bisa menjadi kekuatan ekonomi umat yang luar biasa. Namun, realitasnya, penghimpunan zakat yang terealisasi baru sekitar 10 persen dari potensi tersebut.

Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kesadaran, kepercayaan, dan sistem pengelolaan zakat. Sebagian masyarakat belum sepenuhnya menunaikan zakat melalui lembaga resmi, sementara di sisi lain, optimalisasi distribusi dan edukasi zakat juga masih perlu diperkuat.

Jika potensi ini bisa digali secara maksimal, zakat dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial di Indonesia

Jika potensi zakat dimaksimalkan dengan pengelolaan yang profesional dan tepat sasaran, maka dampaknya akan sangat besar. Apalagi dengan memaksimalkan potensi infaq dan sedekah tentu akan lebih besar kemungkinan menyejahterakan umat.

Zakat, infaq dan wakaf tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan umat, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara. Semua ini merupakan bagian dari dana philanthrophy yang dapat digunakan untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan sektor produktif masyarakat. Jika baik pengelolaannya, maka philanthrophy umat dapat menjadi kekuatan ekonomi yang strategis—bukan hanya mengentaskan kemiskinan, tetapi juga membangun kemandirian dan kemajuan bersama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia,

Berikutnya, zakat dan kepedulian akan dapat membangun persaudaraan, yaitu atas dasar saling melaksanakan hak dan kewajiban.

Mungkin sering kali seseorang didapati pandai menuntut hak, tapi abai terhadap kewajibannya. Harusnya ini disadari sebagai sikap yang tidak benar. Antara hak dan kewajiban harus ditempatkan secara proporsional. Seperti saling menolong dalam masalah kebaikan, tidak saling menyakiti dan saling memberi rasa damai dari semua ucapan dan tindakan.

Pada dasarnya, Islam sangat menganjurkan saling memberi untuk memupuk rasa saling mencintai dan menyayangi. Sifat meminta sering kali menimbulkan acuh dan bahkan mengurangi harkat martabat diri. Tangan yang memberi itu lebih utama daripada menerima. Maka, untuk merawat rasa cinta harus dibangun atas saling memberi.

Disebutkan dalam satu riwayat hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ‏:‏ تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda: ‘Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai’.” (HR. Bukhari)

Kalau kita menganalisis menggunakan teori ilmu sharf pada kata “تهادا” menggunakan istilah musyarakah yang artinya adalah feedback dari orang yang diberi hadiah. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Memang terkadang orang yang diberi hadiah tidak punya modal untuk memberikan yang lebih atau bahkan yang semisal, tapi bisa membalasnya dengan ucapan yang baik dan mendoakannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Pada hari kemenangan kita dalam mengikat hawa nafsu untuk mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar, haus dan hubungan seksual di siang hari, maka marilah, kita tunjukkan indikator keberhasilan dalam meraih ketakwaan, kita tunjukkan kesejatian diri yang “fitri” yang senantiasa menebarkan cinta kasih, persaudaraan, kebersamaan, kemampuan menahan amarah, dan mampu memaafkan orang lain, serta pandai saling berbagi dengan zakat dan sadekah, infaq dan wakaf.

Fitrah yang sesungguhnya adalah ketika takwanya bertambah, berarti persaudaraan semakin rekat, peran serta kemanusiaan lebih baik, amal salehnya meningkat dan semakin menjauhkan diri dari perilaku-perilaku maksiat.

Bersikap fitrah adalah berorientasi pada pemenangan “ruh Ilahi”  atas tanah “lumpur”. Semoga Allah SWT menuntun dan membimbing kita untuk selalu menjaga jiwa kita agar tetap bertakwa dan berjalan pada fitrahnya

Dengan kembali ke fitrah diri, mudah-mudahan kita tambah mempererat tali persaudaraan dan persatuan.

Tugas kita kini dan seterusnya adalah mengisi kemerdekaan dan merealisasikan cita-cita para pahlawan dalam menggapai kemaslahatan bersama untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan semua ini dapat dicapai dengan spirit mengelola hawa nafsu yang dilatih selama puasa Ramadhan.

Semoga Allah SWT menuntun dan membimbing kita untuk selalu menjaga jiwa kita agar apa yang kita perbuat tetap selalu ikhlas karena Allah SWT.

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: (يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْاالله َعَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ).

بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

الله أكبر7x ، كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ  أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ.