Bagaimana Tanda-Tanda Haji Mabrur? Begini Penjelasan Ulama
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Ibadah haji adalah puncak penghambaan seorang muslim. Di dalamnya terkumpul pengorbanan harta, tenaga, waktu, kesabaran, serta ketundukan total kepada Allah SWT.
Mengingat betapa beratnya hal itu, setiap jamaah tentu tidak sekadar berharap telah menunaikan kewajiban, tetapi mendambakan satu derajat mulia, yaitu haji mabrur. Sebuah haji yang diterima oleh Allah dan berbuah keselamatan di akhirat.
Baca juga: 5 Bacaan Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Rasulullah SAW
menegaskan keutamaannya dalam sabda beliau:
الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali
surga.”
Hadis ini menunjukkan
bahwa haji mabrur bukan perkara ringan. Balasannya langsung disebut surga, yang
berarti ibadah tersebut dilakukan dengan keikhlasan, ketundukan, dan diterima
di sisi Allah SWT.
Lalu para sahabat
bertanya tentang tanda-tandanya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:
قَالُوا:
يَا نَبِيَّ اللهِ مَا بِرُّ الْحَجِّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ،
وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
“Mereka bertanya,
‘Wahai Nabi Allah, apa tanda kebaikan haji mabrur itu?’ Beliau menjawab, Memberi
makan dan menyebarkan salam.” (HR
Ahmad)
Dalam riwayat Imam
at-Thabrani disebutkan pula:
الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟
قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ
“Haji mabrur tidak
ada balasan baginya kecuali surga. Sahabat bertanya, ‘Apa tanda kemabrurannya?’
Beliau menjawab, Memberi makan dan berkata baik.” (HR at-Thabrani)
Dua riwayat ini memberi pelajaran penting bahwa kemabruran haji tidak berhenti pada rangkaian manasik di Tanah Suci. Tanda-tandanya tampak setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat.
Baca juga: Ikhtiar dan Doa bagi Jamaah Haji agar Mendapatkan Predikat Mabrur
Orang yang hajinya diterima akan lebih peduli kepada sesama, ringan membantu, ramah dalam pergaulan, serta menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan. Haji yang benar melahirkan manfaat sosial, bukan sekadar kebanggaan pribadi.
Para ulama juga
menjelaskan hakikat haji mabrur dari berbagai sudut pandang yang saling
menguatkan. Imam al-Qurthubi menyebut:
وَقَالَ
الْفُقَهَاءُ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ هُوَ الَّذِي لَمْ يُعْصَ اللَّهُ تَعَالَى
فِيهِ أَثْنَاءَ أَدَائِهِ
“Para fuqaha
berkata: Haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi kemaksiatan kepada Allah
selama pelaksanaannya.” (Al-Jami‘
li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)
Artinya, sejak berihram hingga selesai, ibadah itu dijaga dari dosa, pertengkaran, kezaliman, dan pelanggaran syariat. Haji bukan sekadar hadir di tempat suci, tetapi juga menjaga diri dengan sungguh-sungguh.
Baca juga: Panduan Mandi Ihram dalam Ibadah Haji dan Umroh
Tidak berhenti pada
aspek teknis ibadah, Imam al-Qurthubi juga menukil ucapan Hasan al-Bashri:
الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ هُوَ أَنْ يَرْجِعَ صَاحِبُهُ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي
الْآخِرَةِ
“Haji mabrur ialah
ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai
akhirat.” (Al-Jami‘ li
Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)
Ini menunjukkan bahwa
tanda paling nyata dari haji mabrur adalah perubahan orientasi hidup. Seseorang
yang sebelumnya terlalu sibuk mengejar dunia, setelah berhaji menjadi lebih
sadar bahwa hidup ini singkat dan akhirat jauh lebih penting.
Makna ini diperkuat
Imam al-Ghazali, beliau menegaskan:
بَلْ
عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ
مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ
“Tanda haji mabrur
ialah ia pulang dengan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, dan bersiap
bertemu Pemilik Ka‘bah setelah berjumpa dengan Ka‘bah.” (Ihya’ ‘Ulumiddin [Beirut: Dar
al-Ma‘rifah], juz 1, h. 261)
Kiranya ungkapan ini perlu untuk benar-benar direnungkan. Betapa banyak orang dapat melihat Ka‘bah, tetapi tidak semua pulang dengan hati yang semakin rindu kepada Allah.
Baca juga: Niat Ihram Haji dan Umroh Disertai Doa Lengkap dengan Artinya
Dalam Hasyiyah
al-Jamal dijelaskan pula:
وَحَاصِلُهُ
أَنَّ الْحَجَّ الَّذِي وُفِّيَتْ أَحْكَامُهُ وَوَقَعَ مَوْقِعًا لِمَا طُلِبَ
مِنْ الْمُكَلَّفِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ
“Intinya, haji
mabrur adalah haji yang ditunaikan dengan memenuhi seluruh ketentuannya dan
dilaksanakan sebagaimana yang dituntut secara sempurna.” (Hasyiyah al-Jamal/Futuhat al-Wahhab
bi Tawdih Syarh Manhaj ath-Thullab [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 440)
Ini berarti kemabruran
menuntut kesungguhan lahir dan batin. Dengan kata lain, diperlukan pemahaman
seputar ilmu manasik yang benar, niat yang lurus, serta adab yang terjaga.
Sementara Imam
al-Munawi menyimpulkan dengan sangat praktis, sebagai berikut:
وَمِنْ
عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنَّهُ يَرْجِعُ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِدُ
الْمَعَاصِي
“Tanda diterimanya
haji adalah ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali
mengulangi maksiat.” (Faidh
al-Qadir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir [Mesir: al-Maktabah at-Tijariyyah
al-Kubra], juz 3, h. 406)
Demikian inilah ringkasan paling jelas. Jika setelah haji seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih menjaga shalat, lebih lembut kepada keluarga, lebih amanah dalam pekerjaan, dan semakin menjauhi dosa, maka itu pertanda baik bagi hajinya. Sebaliknya, jika sepulang haji tetap tenggelam dalam kebiasaan lama, maka ia perlu banyak muhasabah.
Baca juga: Begini Tata Cara Membaca Talbiyah bagi Laki-Laki dan Perempuan
Haji mabrur sejatinya
bukan gelar sosial yang disematkan masyarakat. Makna kemabruran bukan terletak
pada sebutan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Haji mabrur adalah perubahan nyata
yang terlihat dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.
Jadi ukuran kemabruran tidak selesai saat thawaf terakhir, tidak berhenti saat pesawat mendarat di tanah air, dan tidak cukup dengan pakaian ihram yang telah dilepas. Ukurannya justru dimulai dan bisa dilihat dari ketika seseorang kembali menjalani hidup sehari-hari. Bila hidupnya menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi manusia, maka di sanalah cahaya haji mabrur mulai tampak.