Doa saat Menyentuh dan Mencium Hajar Aswad
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Salah satu momen yang paling berkesan dalam ibadah haji dan umroh adalah ketika seorang muslim berada di hadapan Hajar Aswad, lalu berusaha menyentuhnya atau memberi isyarat kepadanya saat memulai thawaf. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah.
Bagi sebagian orang, itu mungkin tampak sebagai gerakan lahiriah semata. Padahal, jika seseorang memahami hikmahnya, maka saat itu menjadi momentum dzikir, pengagungan kepada Allah, sekaligus peneguhan komitmen untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW, yakni meneladani tindak lampahnya.
Baca juga: Doa saat Memandang Ka’bah di Masjidil Haram
Imam Bukhari meriwayatkan satu hadis mengenai sikap Umar bin Khattab terhadap Hajar Aswad yang mencerminkan komitmennya untuk mengikuti sunnah Nabi. Umar menegaskan bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang hakikatnya tidak memberi manfaat dan mudharat, lalu beliau menyentuh dan menciumnya karena melihat Rasulullah melakukan hal itu.
أنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنه قال
للرُّكنِ: أما واللهِ، إنِّي لَأعلَمُ أنَّكَ حَجَرٌ لا تَضُرُّ ولا تَنفَعُ،
ولَولا أنِّي رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استَلَمَكَ ما
استَلَمتُكَ، فاستَلَمَه، ثُمَّ قال: فما لَنا وللرَّمَلِ، إنَّما كُنَّا راءَينا
به المُشرِكينَ، وقد أهلَكَهمُ اللهُ، ثُمَّ قال: شيءٌ صَنَعَه النَّبيُّ صلَّى
اللهُ عليه وسلَّم فلا نُحِبُّ أن نَترُكَه
“Sesungguhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Hajar Aswad: ‘Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuhmu.” Lalu beliau pun menyentuhnya. Kemudian beliau berkata: ‘Apa urusan kita dengan ramal (berlari-lari kecil saat thawaf)? Dahulu kami melakukannya untuk memperlihatkan kekuatan kepada kaum musyrikin, padahal sekarang Allah telah membinasakan mereka.” Lalu beliau berkata lagi: ‘Sesuatu yang pernah dilakukan Nabi SAW, maka kami tidak suka meninggalkannya.’” (HR Bukhari)
Baca juga: 4 Doa Perjalanan Haji dan Umroh yang Dianjurkan: Dari Berangkat hingga Tiba di Tanah Suci
Adapun doa saat
menyentuh atau menciumnya, disebutkan dalam beberapa riwayat hadis. Di antaranya
adalah riwayat dari Abdullah bin Umar melalui jalur Nafi’, bahwa setiap kali
menyentuh Hajar Aswad, beliau membaca kalimat berikut:
بِاسْمِ
اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Dengan nama Allah,
dan Allah Maha Besar.” (As-Sunan al-Kubra [Beirut: Dar al-Kutub al’Ilmiyah],
juz 5, h. 128)
Selain diriwayatkan oleh
al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra, hadis ini juga diriwayatkan oleh Abdur
Razzaq as-Shan’ani dalam Al-Mushannaf dan oleh at-Thabarani dalam Ad-Du‘a.
Dalam riwayat lain
terdapat perbedaan lafaz . Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ad-Du’a,
terdapat satu riwayat dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa ketika menyentuh Hajar
Aswad, beliau membaca lafaz berikut:
لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ تَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ،
وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, pernyataan ini sebagai pembenaran terhadap Kitab-Mu dan sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi-Mu.” (Ad-Du’a [Beirut: Dar al-Kutub al’Ilmiyah], h. 270)
Baca juga: 5 Bacaan Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Adapun riwayat yang lebih jelas terdapat dalam kitab Al-Umm. Imam Syafi’i mencatat satu riwayat dari Ibnu Juraij terkait lafaz bacaan saat menyentuh Hajar Aswad, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah.
أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أُخْبِرْتُ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نَقُولُ إِذَا اسْتَلَمْنَا الْحَجَرَ؟ قَالَ: قُولُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ إِيمَانًا بِاللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sa’id
mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku diberi kabar bahwa
sebagian sahabat Nabi SAW berkata: ‘Wahai Rasulullah, apa yang kami ucapkan
ketika kami menyentuh Hajar Aswad?’ Beliau menjawab: ‘Ucapkanlah: Bismillahi
wallahu akbar, imanan billahi wa tashdiqan bima ja’a bihi Rasulullahi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” (Al-Umm, (Beirut: Dar
al-Fikr), juz 2, h. 186)
Dalam lanjutan penjelasannya,
Imam Syafi’i juga menyebutkan bahwa seorang yang thawaf sebaiknya memulai
thawafnya dengan membaca lafaz:
اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
Dari penjelasan ini, dipahami,
bahwa lafaz yang dibaca oleh Rasulullah ketika menyentuh dan mencium Hajar
Aswad—sebagaimana riwayat yang disebutkan Imam Syafi’i, adalah sebagai berikut:
بِاسْمِ
اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ إيمَانًا بِاَللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kalau lafaz ini digabungkan dengan lafaz yang dibaca saat thawaf, maka selengkapnya lafaz tersebut menjadi seperti ini:
بِاسْمِ اللَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، إِيمَانًا بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dengan nama Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar. Pernyataan ini sebagai wujud keimanan kepada Allah dan pembenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”
Baca juga: Lafaz Bacaan Talbiyah Sesuai yang Diajarkan Nabi
Jika diperhatikan
dengan seksama, semua riwayat yang dipaparkan di atas menyebutkan lafaz yang
sama, atau mirip. Jadi tidak ada perbedaan substansi, melainkan sedikit lafaz
yang berbeda. Sehingga bisa diamalkan semuanya.
Sepatutnya, siapa pun
yang diberi kesempatan berdiri di hadapan Hajar Aswad, hendaknya menghadirkan
hati. Ucapkan dzikir dengan penuh kesadaran, bukan sekadar ikut-ikutan.
Pada saat itu, seorang hamba seolah sedang memperbarui janjinya kepada Allah dan komitmen untuk setia mengikuti petunjuk Nabi-Nya.