Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Tuntunan Ibadah

4 Doa Perjalanan Haji dan Umroh yang Dianjurkan: Dari Berangkat hingga Tiba di Tanah Suci

5 menit baca 7.118 dibaca
4 Doa Perjalanan Haji dan Umroh yang Dianju
Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang sangat istimewa. Untuk menunaikannya, seseorang memerlukan persiapan yang tidak sedikit, baik dari segi fisik, materi, mental, maupun spiritual. Hal ini membuat perjalanan haji dan umroh berbeda dengan ibadah lainnya, lantaran di dalamnya terdapat unsur safar (perjalanan) yang panjang, pengorbanan serta kesiapan hati untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

Dalam Islam, orang yang sedang bepergian dianjurkan untuk memperbanyak doa. Kondisi safar termasuk keadaan yang dekat dengan pengabulan doa. Karena itu, perjalanan menuju Tanah Suci menjadi kesempatan berharga bagi jamaah haji dan umroh untuk bermunajat kepada Allah sejak berangkat dari rumah hingga tiba di tempat tujuan.

Baca juga: Panduan Mandi Ihram dalam Ibadah Haji dan Umroh

Rasulullah SAW dalam salah satu redaksi pernah bersabda bahwa ada tiga doa yang mustajab (terkabul) dan tidak diragukan lagi, salah satunya adalah doa musafir:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Dawud)

Oleh karena itu, jamaah haji maupun umroh sangat dianjurkan memperbanyak doa sepanjang perjalanan. Sebab doa saat dalam kondisi yang demikian sangat mustajab.

Baca juga: Niat Ihram Haji dan Umroh Disertai Doa Lengkap dengan Artinya

Berikut ini empat doa perjalanan haji dan umroh yang dianjurkan dibaca:

1. Doa Berangkat dari Rumah

Ketika hendak meninggalkan rumah untuk menempuh perjalanan haji atau umroh, jamaah dianjurkan membaca doa yang dahulu dibaca Rasulullah SAW saat keluar rumah. Doa ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (wafat 279 H) dalam kitab Sunan-nya, yang berisi permohonan perlindungan agar perjalanan diberi keselamatan lahir dan batin.

Berikut lafaz doa yang dimaksud:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَزِلَّ أَوْ نَضِلَّ، أَوْ نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، أَوْ نَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْنَا

Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, Allāhumma innā na‘ūdzu bika min an nazilla au nadhilla, au nadhlima au nudhlama, au najhala au yujhala ‘alainā.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, kami bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari tergelincir atau tersesat, menzalimi atau dizalimi, berbuat bodoh atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (Sunan at-Tirmidzi [Beirut: Dar al-Gharb al-Islami], vol. 5, h. 427)

Baca juga: Anjuran dan Keutamaan Mandi Ihram

2. Doa Setelah Duduk di Kendaraan

Saat telah berada di atas kendaraan, baik mobil, bus, maupun pesawat, jamaah disunahkan membaca doa safar sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibn Farhun al-Maliki (wafat 799 H) dalam kitabnya. Doa ini mengingatkan bahwa seluruh sarana perjalanan tidak lain merupakan karunia Allah SWT.

Berikut lafaz doa yang dimaksud:

بِسْمِ اللَّهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Bismillāhi, subḥānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Mahasuci Allah yang telah menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak akan mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami pasti akan Kembali.” (Irsyad as-Salik Ila Af’al al-Manasik [Riyadh: Maktabah al-‘Ubaikan], vol. 1, h. 195)

Baca juga: Talbiyah dalam Haji dan Umroh, Apa Hukum Membacanya?

3. Doa ketika Kendaraan Mulai Bergerak

Saat kendaraan mulai berjalan, para ulama menganjurkan membaca doa yang menanamkan rasa tawakkal dan keyakinan bahwa seluruh perjalanan berada dalam penjagaan Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali (wafat 505 H) dalam karya monumentalnya, Ihya’ ‘Ulumiddin sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ، وَبِاللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Bismillāhi, wa billāhi wallāhu akbaru, tawakkaltu ‘alallāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘adhīm. Mā syā’allāhu kāna wa mā lam yasya’ lam yakun. Subḥānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, dengan pertolongan Allah, dan Allah Mahabesar. Aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami pasti akan kembali.” (Ihya’ ‘Ulumiddin [Beirut: Dar al-Ma’rifah], vol. 1, h. 247)

Baca juga: Begini Tata Cara Membaca Talbiyah bagi Laki-Laki dan Perempuan

4. Doa ketika Tiba di Tempat Tujuan

Tatkala sudah tiba di kota tujuan, termasuk saat sampai di Makkah atau Madinah, dianjurkan juga untuk kembali membaca doa. Doa yang dianjurkan dalam hal ini sejalan dengan riwayat Imam an-Nasai (wafat 303 H) dalam kitab Sunan-nya mengenai kebiasaan Nabi Muhammad ketika hendak memasuki suatu tempat.

Berikut lafaz doa yang dimaksud:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا

Allāhumma innī as’aluka khairahā wa khaira ahlihā wa khaira mā fīhā, wa a’ūdzu bika min syarrihā wa syarri ahlihā wa syarri mā fīhā.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan tempat ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan tempat ini, keburukan penduduknya, dan keburukan yang ada di dalamnya.” (As-Sunan al-Kubra [Beirut: ar-Risalah], vol. 8, h. 117)

Baca juga: Lafaz Bacaan Talbiyah Sesuai yang Diajarkan Nabi

Demikianlah kirannya perlu dipahami, bahwa perjalanan haji dan umroh bukan sekadar perpindahan tempat semata, namun juga perjalanan ruhani dalam rangka taqarrub ilallāh (mendekatkan diri kepada Allah).

Karena itu, setiap tahap perjalanannya sangat dianjurkan agar diisi dengan bacaan doa dan dzikir. Mulai dari keluar rumah, naik kendaraan, saat perjalanan berlangsung, hingga tiba di Tanah Suci, seluruhnya merupakan kesempatan berharga untuk bermunajat.

Semoga Allah memudahkan perjalanan para jamaah, menerima ibadah mereka dan menganugerahkan haji mabrur serta umroh yang maqbulah. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.