Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah

5 menit baca 1.067 dibaca
Ustadz Achmad Fuad, S.Pd.

Oleh: Ustadz Achmad Fuad, S.Pd.

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Banyak orang terlihat baik, tampak saleh saat hidup lapang. Namun, kualitas takwa justru tampak ketika seseorang berada dalam kesulitan. Di saat itulah sabar menjadi ukuran kekuatan iman. Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan.” (QS. Luqman: 17)

Pada hakikatnya, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan menjaga diri tetap lurus saat keadaan berat, tidak larut dalam emosi, dan tidak jatuh pada kezaliman.

Baca juga: Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Insya Allah Syahid Akhirat, Begini Penjelasan Kiai Cholil

Syekh Muhammad Mutawalli as-Sya‘rawi menjelaskan bahwa musibah ada dua macam. Ada musibah yang tidak memiliki “lawan” (ghorim), dan ada musibah yang datang melalui ulah manusia, atau sebab terdapat “lawan” (ghorim). (Lihat (Tafsir as-Sya’rawi al-Khawathir [Kairo: Dar Akhbar al-Yaum], juz 9, h. 5463)

Musibah seperti sakit, bencana alam, kehilangan orang tercinta, atau kecelakaan biasanya tidak memiliki pihak yang disalahkan. Dengan kata lain, ini murni atas kehendak Allah.

Sedangkan penghinaan, penipuan, fitnah, dan kezaliman dari manusia sering lebih berat dirasakan karena ada sosok yang memancing emosi.

Banyak orang sabar menghadapi musibah yang secara langsung dikehendaki Tuhan, tetapi gagal sabar menghadapi perlakuan manusia. Padahal di situlah ujian akhlak yang besar.

Baca juga: Mati Syahid dalam Perspektif Hadis dan Penjelasan Ulama

Menurut Syekh Sya’rawi, Allah berfirman tentang sabar menghadapi musibah tanpa pihak lawan dalam ayat berikut:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan.” (QS. Luqman: 17)

Sedangkan terhadap gangguan manusia, Allah berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh itu termasuk perkara yang mulia dan membutuhkan keteguhan.” (QS. Asy-Syura: 43)

Tiga Tingkatan Sabar

Dalam kitab Tafsir as-Sya’rawi al-Khawathir, Syekh as-Sya‘rawi menjelaskan bahwa sabar saat disakiti manusia memiliki tiga tingkatan:

1. Menahan Marah

Tahap pertama adalah menahan ledakan emosi. Tidak membalas dengan caci maki, kekerasan, atau tindakan buruk. Ini dasar kesabaran.

2. Memaafkan

Tingkat berikutnya adalah memaafkan. Memaafkan bukan kelemahan, tetapi tanda jiwa yang kuat. Orang beriman tidak terus hidup dalam dendam.

3. Membalas dengan Kebaikan

Inilah maqam tertinggi, yakni membalas keburukan dengan kebaikan. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Tidak semua orang mampu sampai pada tingkat ini, tetapi itulah akhlak seorang mukmin yang bertakwa.

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Komitmen dalam Bertakwa

Cara terbaik bertakwa di masa sulit adalah meyakini bahwa semua yang terjadi berada dalam ilmu dan kehendak Allah, bukan terjadi sia-sia. Allah SWT berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Jadi musibah bukan selalu menjadi tanda kebencian Allah. Bisa jadi jalan penghapus dosa, pengangkat derajat, atau sarana mengembalikan seorang hamba agar mendekat kepada-Nya.

Baca juga: Menata Ulang Perilaku Kita Terhadap Alam, Refleksi Atas Musibah Banjir

Karena itu, saat hidup sempit jangan mencari pelarian dalam maksiat. Jangan rusak diri dengan mabuk, narkoba, zina, atau dosa lainnya. Justru saat sulit, ibadah harus dijaga, sabar harus dikuatkan, dan hati harus semakin dekat kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menunjukkan bahwa alternatif yang paling baik untuk menghadapi musibah adalah sabar dan shalat. Sabar menguatkan hati, sedangkan shalat menghubungkan seorang hamba dengan Tuhan-nya.

Karena itu, disebutkan dalam banyak riwayat hadis, bahwa ketika Rasulullah SAW menghadapi persoalan berat, beliau segera mendirikan shalat.

Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern

Menurut Ibnu Katsir, implementasi sabar mencakup dalam dua hal, yakni sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam ketaatan.

Sabar dalam menjauhi maksiat berarti menahan diri dari perkara haram, dosa, dan segala yang dilarang Allah, meskipun hawa nafsu menginginkannya.

Sedangkan sabar dalam ketaatan mengandung makna istiqamah dalam menjalankan ibadah, menjaga shalat, menuntut ilmu, berbuat baik, dan taat kepada Allah meski terasa berat.

Sabar dalam ketaatan dan sabar dalam menjauhi maksiat memiliki pahala yang besar, karena itulah tujuan utama seorang hamba. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Jadi siapa yang mampu bersabar dalam taat dan menjauhi maksiat, maka baginya janji besar di sisi Allah: pertolongan di dunia dan pahala tanpa batas di akhirat.

Sabar adalah pengakuan seorang hamba bahwa semua musibah terjadi dengan ketentuan Allah, lalu ia mengharap pahala dari-Nya. Artinya, sabar bukan sekadar diam menahan sakit, tetapi menerima takdir Allah dengan hati yang tunduk dan tetap berharap rahmat-Nya.

Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran

Hidup ini memang tidak akan lepas dari ujian. Tidak ada rumah tangga tanpa masalah, pekerjaan tanpa tekanan, dan manusia tanpa beban. Namun seorang mukmin memiliki bekal besar, yaitu iman dan takwa.

Saat dunia terasa sempit, jangan longgarkan dosa, tetapi kuatkan takwa. Saat masalah datang bertubi-tubi, jangan tinggalkan ibadah, tetapi teguhkan sabar. Sebab jalan keluar bukan hanya karena kecerdikan, tetapi karena hati yang tetap dekat kepada Allah.

Dan sebagaimana hadis yang disampaikan Nabi, percayalah bahwa menanti jalan keluar dengan kesabaran dan penuh harap juga merupakan sebuah ibadah. Wallahu a’lam bis shawab.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.