Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Oleh: Ustadz Achmad Fuad, S.Pd.
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Banyak orang terlihat baik, tampak saleh saat hidup lapang. Namun, kualitas takwa justru tampak ketika seseorang berada dalam kesulitan. Di saat itulah sabar menjadi ukuran kekuatan iman. Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Bersabarlah
terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara
yang memerlukan keteguhan.”
(QS. Luqman: 17)
Pada hakikatnya, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan menjaga diri tetap lurus saat keadaan berat, tidak larut dalam emosi, dan tidak jatuh pada kezaliman.
Baca juga: Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Insya Allah Syahid Akhirat, Begini Penjelasan Kiai Cholil
Syekh Muhammad
Mutawalli as-Sya‘rawi menjelaskan bahwa musibah ada dua macam. Ada musibah yang
tidak memiliki “lawan” (ghorim), dan ada musibah yang datang melalui
ulah manusia, atau sebab terdapat “lawan” (ghorim). (Lihat (Tafsir as-Sya’rawi
al-Khawathir [Kairo: Dar Akhbar al-Yaum], juz 9, h. 5463)
Musibah seperti sakit,
bencana alam, kehilangan orang tercinta, atau kecelakaan biasanya tidak
memiliki pihak yang disalahkan. Dengan kata lain, ini murni atas kehendak Allah.
Sedangkan penghinaan,
penipuan, fitnah, dan kezaliman dari manusia sering lebih berat dirasakan
karena ada sosok yang memancing emosi.
Banyak orang sabar menghadapi musibah yang secara langsung dikehendaki Tuhan, tetapi gagal sabar menghadapi perlakuan manusia. Padahal di situlah ujian akhlak yang besar.
Baca juga: Mati Syahid dalam Perspektif Hadis dan Penjelasan Ulama
Menurut Syekh
Sya’rawi, Allah berfirman tentang sabar menghadapi musibah tanpa pihak lawan
dalam ayat berikut:
وَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Bersabarlah
terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara
yang memerlukan keteguhan.”
(QS. Luqman: 17)
Sedangkan terhadap
gangguan manusia, Allah berfirman:
وَلَمَنْ
صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Barang siapa
bersabar dan memaafkan, sungguh itu termasuk perkara yang mulia dan membutuhkan
keteguhan.” (QS. Asy-Syura:
43)
Tiga Tingkatan
Sabar
Dalam kitab Tafsir as-Sya’rawi
al-Khawathir, Syekh as-Sya‘rawi menjelaskan bahwa sabar saat disakiti
manusia memiliki tiga tingkatan:
1. Menahan Marah
Tahap pertama adalah
menahan ledakan emosi. Tidak membalas dengan caci maki, kekerasan, atau
tindakan buruk. Ini dasar kesabaran.
2. Memaafkan
Tingkat berikutnya
adalah memaafkan. Memaafkan bukan kelemahan, tetapi tanda jiwa yang kuat. Orang
beriman tidak terus hidup dalam dendam.
3. Membalas dengan
Kebaikan
Inilah maqam tertinggi,
yakni membalas keburukan dengan kebaikan. Dan Allah mencintai orang-orang yang
berbuat baik.
وَأَحْسِنُوا
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Berbuat baiklah.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Tidak semua orang mampu sampai pada tingkat ini, tetapi itulah akhlak seorang mukmin yang bertakwa.
Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Komitmen dalam
Bertakwa
Cara terbaik bertakwa
di masa sulit adalah meyakini bahwa semua yang terjadi berada dalam ilmu dan
kehendak Allah, bukan terjadi sia-sia. Allah SWT berfirman:
مَا أَصَابَ
مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن
قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu
musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah
tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya
yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Dalam ayat lain Allah
juga menegaskan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ
بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu
musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Jadi musibah bukan selalu menjadi tanda kebencian Allah. Bisa jadi jalan penghapus dosa, pengangkat derajat, atau sarana mengembalikan seorang hamba agar mendekat kepada-Nya.
Baca juga: Menata Ulang Perilaku Kita Terhadap Alam, Refleksi Atas Musibah Banjir
Karena itu, saat hidup
sempit jangan mencari pelarian dalam maksiat. Jangan rusak diri dengan mabuk,
narkoba, zina, atau dosa lainnya. Justru saat sulit, ibadah harus dijaga, sabar
harus dikuatkan, dan hati harus semakin dekat kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ
اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang
yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menunjukkan
bahwa alternatif yang paling baik untuk menghadapi musibah adalah sabar dan
shalat. Sabar menguatkan hati, sedangkan shalat menghubungkan seorang hamba
dengan Tuhan-nya.
Karena itu, disebutkan dalam banyak riwayat hadis, bahwa ketika Rasulullah SAW menghadapi persoalan berat, beliau segera mendirikan shalat.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Menurut Ibnu Katsir,
implementasi sabar mencakup dalam dua hal, yakni sabar dalam menjauhi maksiat
dan sabar dalam ketaatan.
Sabar dalam menjauhi
maksiat berarti menahan diri dari perkara haram, dosa, dan segala yang dilarang
Allah, meskipun hawa nafsu menginginkannya.
Sedangkan sabar dalam
ketaatan mengandung makna istiqamah dalam menjalankan ibadah, menjaga shalat,
menuntut ilmu, berbuat baik, dan taat kepada Allah meski terasa berat.
Sabar dalam ketaatan
dan sabar dalam menjauhi maksiat memiliki pahala yang besar, karena itulah
tujuan utama seorang hamba. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Jadi siapa yang mampu
bersabar dalam taat dan menjauhi maksiat, maka baginya janji besar di sisi
Allah: pertolongan di dunia dan pahala tanpa batas di akhirat.
Sabar adalah pengakuan seorang hamba bahwa semua musibah terjadi dengan ketentuan Allah, lalu ia mengharap pahala dari-Nya. Artinya, sabar bukan sekadar diam menahan sakit, tetapi menerima takdir Allah dengan hati yang tunduk dan tetap berharap rahmat-Nya.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Hidup ini memang tidak
akan lepas dari ujian. Tidak ada rumah tangga tanpa masalah, pekerjaan tanpa
tekanan, dan manusia tanpa beban. Namun seorang mukmin memiliki bekal besar,
yaitu iman dan takwa.
Saat dunia terasa
sempit, jangan longgarkan dosa, tetapi kuatkan takwa. Saat masalah datang
bertubi-tubi, jangan tinggalkan ibadah, tetapi teguhkan sabar. Sebab jalan
keluar bukan hanya karena kecerdikan, tetapi karena hati yang tetap dekat
kepada Allah.
Dan sebagaimana hadis yang disampaikan Nabi, percayalah bahwa menanti jalan keluar dengan kesabaran dan penuh harap juga merupakan sebuah ibadah. Wallahu a’lam bis shawab.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.