Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat

5 menit baca 1.628 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Intisari dari studi (dirasah) terhadap surat Al-‘Alaq ayat 1-5 terletak pada peletakan fondasi akidah yang “menempatkan posisi” Tuhan (Khaliq) dan kedudukan manusia (makhluq). Wahyu ini bukan sekadar perintah membaca secara kognitif, tetapi juga meletakkan fondasi ilmu dalam ber-Tuhan.

Membaca tanpa menyandarkan diri pada nama Tuhan hanya akan melahirkan pengetahuan yang destruktif. Membaca dengan “Bismi Rabbika” akan melahirkan peradaban yang memanusiakan manusia.

Dalam konstruksi Al-‘Alaq ini, Allah “memposisikan” diri-Nya sebagai subjek tunggal yang memegang otoritas penuh atas ilmu dan eksistensi seluruh alam.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Atribut Al-Khaliq (Maha Mencipta), Al-Akram (Maha Mulia), dan Al-’Alim (Maha Mengetahui) menegaskan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu.

Pengetahuan bukanlah entitas mandiri yang ditemukan manusia, melainkan rahmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya melalui “qalam” dan pengajaran-Nya.

Al-‘Alaq mendefinisikan manusia sebagai objek yang diciptakan dari “‘alaq”. Sebuah simbol dari asal-usul biologis yang lemah dan rendah. Penekanan pada aspek ‘alaq (segumpal darah/sesuatu yang menempel) berfungsi untuk meruntuhkan arogansi keangkuhan manusia.

Hal ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki modal dasar apa pun kecuali apa yang diberikan oleh Sang Pencipta (Al-Khaliq).

Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

Penyebutan asal-usul manusia dari ‘alaq (segumpal darah), berkait erat dengan penegasan Alquran bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Entitas yang keberadaannya bergantung sepenuhnya pada kehendak lain.

Sebaliknya, hanya Allah yang “menempati posisi” Khaliq (Pencipta) yang mandiri dan absolut.

Konsep “Lahirnya” Syahadat

Persaksian dan pengakuan atas kemutlakan penciptaan ini secara otomatis mengantarkan manusia pada persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah (Laa ilaha illallah). Inilah syahadat tauhid yang menjadikan manusia sepenuhnya yakin bahwa hanya Allah, Sang Pencipta dan Pengatur alam raya, yang di dalamnya termasuk entitas manusia.

Mentadabburi surat Al-‘Alaq secara sadar akan melakukan dua hal. Pertama, an-nafyu (peniadaan) yaitu pada kalimat laailaha (tidak ada Tuhan) yang membatalkan semua ketuhanan dengan segala bentuknya dan menyingkirkan terhadap segala sesuatu yang disembah selain Allah SWT.  

Kedua, melakukan al-itsbat (penetapan) yaitu pada kalimat illallah (kecuali Allah) yang menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT, yang tentunya mewajibkan adanya ketaatan dan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya. Meski dalam surat Al-‘Alaq 1-5 belum disebutkan nama Tuhan yang wajib disembah adalah Allah.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Turunnya surat Al-‘Alaq kepada Muhammad di Gua Hira bukan sekadar peristiwa mistis, melainkan sebuah “proklamasi” kenabian. Peristiwa ini berfungsi sebagai bukti empiris dan spiritual bahwa Muhammad telah dipilih menjadi utusan Allah (Rasulullah).

Pengakuan ini juga sebagai syahadat rasul, yaitu persaksian bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul yang diutus untuk “menyambung” kehendak Allah untuk umat manusia.

Syahadat rasul menuntut kesediaan manusia menjadikan Rasulullah sebagai teladan, memiliki rasa cinta, dan menerima dengan segala yang dicontohkan Rasul, baik dari segi amal, perkataan, dan perbuatan.

Hal ini otomatis akan dilakukan oleh orang yang mempersaksikan Muhammad sebagai nabi dan rasul, apalagi mempersaksikan akhlaknya yang mulia.

Syahadatnya Para Sahabat

Dalam historiografi Islam, transmisi lima ayat pertama surat Al-‘Alaq merupakan fase tumbuhnya iman yang fundamental bagi kelompok “As-Sabiqunal Awwalun” (orang-orang yang pertama masuk Islam).

Proses pendalaman wahyu yang berlangsung di kediaman Arqam bin Abi Arqam berfungsi sebagai mekanisme dekonstruksi kognitif terhadap tatanan nilai jahiliyah.

Internalisasi pesan-pesan awal Al-‘Alaq secara efektif mereduksi otoritas kepercayaan paganisme yang berbasis pada penyembahan berhala yang tidak bisa menciptakan dan berbuat apa-apa.

Pemahaman ini berfungsi meruntuhkan struktur pemikiran politeisme dan menggantikannya dengan kesadaran akan keesaan Allah (tauhid).

Melalui wahyu ini, para sahabat mengalami proses pencarian makna hidup yang mendalam di tengah kehidupan jahiliyah.

Baca juga: Kesadaran Titik Nol untuk Sujud

Penjelasan mengenai asal-usul penciptaan dan posisi manusia di hadapan Sang Pencipta memberikan jawaban definitif atas kegelisahan eksistensial mereka.

Nilai-nilai Al-‘Alaq juga memberikan reorientasi tujuan hidup dari sekadar materialisme menjadi pengabdian transendental. Menumbuhkan kesadaran akan martabat manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki tanggung jawab moral.

Bersyahadat Melalui Riset

Relevansi kandungan makna surat Al-‘Alaq tetap terjaga dalam konteks kontemporer, terutama di dunia Barat. Banyak ilmuwan dan intelektual menjadi muallaf bukan melalui jalur emosional semata, melainkan melalui proses iqra’, persis yang disinggung dalam ayat pertama surat Al-‘Alaq.

Dalam buku-buku seperti Kisah Para Muallaf Paling Berpengaruh karya Muhammad Yusuf Anas dan Lukman Santoso AZ, dijelaskan perjalanan intelektual para pemikir Eropa dan Amerika yang menemukan Islam melalui studi serius tentang kebenaran agama.

Para akademisi, profesor, dan doktor, khususnya dari Jepang, masuk Islam setelah meneliti satu ayat tertentu di dalam Alquran.

Terkadang mereka baru mengkaji satu ayat tentang kulit, saraf, otak, usus, tapi mereka menemukan dan mempersaksikan kekuasaan Allah dalam penelitiannya yang akhirnya mengantar mereka untuk bersyahadat.

Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq

Mereka mempraktikkan esensi iqra’ dengan melakukan riset mendalam, meneliti literatur Islam, dan terlibat dalam diskusi kritis, kemudian menemukan kekuasaan Allah lewat risetnya.

Surat Al-‘Alaq memberikan legitimasi bagi akal untuk mencari kebenaran, yang pada akhirnya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah nalar manusia.

Tipologi Proses Berislam

Dalam tipologi beragama, proses berislam dan beriman melalui aktivitas iqra’ memiliki struktur ketahanan yang lebih kokoh dibandingkan dengan keberagamaan yang bersifat herediter (keturunan), sosiologis (lingkungan), atau sekadar imitasi (ikut-ikutan). Hal ini disebabkan oleh keterlibatan seluruh perangkat kognitif dan afektif manusia dalam menjemput hidayah.

Konsep iqra’ menuntut keterlibatan aktif subjek dalam melakukan observasi, dialektika, dan kontemplasi. Ini adalah sebuah perjalanan intelektual di mana setiap informasi tentang Islam tidak hanya diterima sebagai dogma atau doktrin, tetapi dibedah melalui nalar, diteliti akurasinya, dan dipahami signifikansinya.

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Keimanan yang lahir dari proses ini adalah hasil dari “kesepakatan” dan “kesadaran” antara ketajaman rasio dan kejujuran nurani. 

Konsep iqra’ berjalan menemukan kebenaran melalui proses penemuan mandiri yang autentik, yang pada akhirnya melahirkan syadahat untuk masuk Islam dengan segala bentuk kepasrahannya.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.