Bukan Perang Salib: Sebuah Analisis Motif di Balik Serangan AS-Israel terhadap Iran
Oleh: Dr Amirsyah Tambunan, M.A
Sekretaris Jenderal MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Berbagai analisis muncul terhadap perang Amerika Serikat dengan Iran yang melibatkan Israel. Banyak wacana yang muncul, di antaranya perang salib, karena AS-Israel bersatu melawan Iran yang menjadi sumber energi minyak bagi dunia dan berlatar belakang negara republik Islam.
Hemat saya, perang
yang terjadi tidak ada kaitannya dengan wacana Perang Salib. Secara historis,
jelas berbeda bahwa perang yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh
perebutan energi di negara Teluk.
Jika kita bandingkan
dengan perang salib yang terjadi pada abad ke-11 hingga ke-13, berawal dari
serangkaian konflik militer bernuansa agama antara pasukan Kristen Eropa dan
kekuatan Islam di Timur Tengah dengan dalih memperebutkan Yerusalem dan wilayah
Tanah Suci. Meski sebenarnya tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dan
kompleks, tidak hanya didorong oleh motivasi religius, tetapi juga oleh ambisi
politik dan ekonomi.
Berbagai analisis mendalam tentang penyebab Perang Salib bisa diungkapkan, di antaranya; pertama, adanya motivasi religius yakni keinginan untuk menguasai kembali Yerusalem yang dianggap suci oleh Kristen; kedua, adanya seruan “Perang Suci” oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Ini jelas motivasinya karena faktor ingin menguasai Tanah Suci dan ajakan tokoh agama.
Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran
Situasi tersebut
dipicu oleh dua faktor penting; pertama, faktor politik antara Romawi
Timur, yakni Kaisar Bizantium meminta bantuan Barat untuk menghadapi ancaman
Dinasti Seljuk Turki yang semakin meluas; kedua, ambisi ekonomi untuk
menguasai jalur perdagangan, mendapatkan tanah baru, serta keinginan kaum
bangsawan Eropa untuk memperoleh kekayaan dan kehormatan.
Sementara konteks
perang AS-Israel vs Iran berbeda dengan gambaran situasi tersebut. Sehingga
menyamakannya dengan Perang Salib adalah opini yang tidak dapat dibenarkan.