Khutbah Idul Fitri: Spirit Ramadhan untuk Membangun Bangsa
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH M Cholil Nafis, Lc., Ph.D, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
الله ُأَكْبَرُ9x ، كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ
جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ
إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ
الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ
للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ، وَأَتَمَّ لَنَا
النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الْإِسْلَامَ دِيْنًا. تَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِمَنِّهِ
وَكَرَمِهِ وَلُطْفِهِ، أُسَبِّحُ لَهُ سُبْحَانَهُ، رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْئٍ وَكِيْلٌ، يُعِزُّ بَعْضَنَا وَيُذِلُّ بَعْضَنَا، إِلَهٌ
كَرِيْمٌ وَاحِدٌ، جَلِيْلٌ مُنَزَّهٌ عَنِ الشَّبِيْهِ وَالشَّرِيْكِ
وَالْمُمَاثِلِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ لَهُ مَالٌ وَلاَ
بَنُوْنٌ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَا وَشَفِيْعَنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا ﷺ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. صَلِّ اللَّهُمَّ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،
وَاعْفُ عَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
أما بعد، فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia,
Di pagi hari nan indah, dalam suasana ceria
dan penuh makna, di tengah nuansa kebahagiaan dan kegembiraan, di hari
kemenangan umat Islam, kita merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Hari ini kaum muslimin telah lulus melatih
diri dalam madrasah kemanusiaan (madrasah insaniyah) selama sebulan
Ramadhan dan menang hingga lulus melewati ujian “jihad akbar”, yaitu perang
melawan hawa nafsu.
Maka Idul Fitri disebut sebagai “Hari
Kemenangan” karena ia menandai keberhasilan seorang mukmin dalam menjalani
proses spiritual selama Ramadhan. Kemenangan ini bukan bersifat fisik atau
materi, tetapi kemenangan moral dan ruhani: mampu menahan diri, meningkatkan
ibadah, serta memperbaiki akhlak.
Orang yang berhasil menjaga puasanya dari
hal-hal yang merusak nilai ibadahnya, itulah yang sejatinya meraih kemenangan. Karenanya,
hakikat Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah—kesucian jiwa dan
kejernihan hati nurani.
Kita wajib merayakan kemenangan dan kembali
makan di siang hari sebagaimana fitrahnya, kaum muslimin disunnahkan
(dianjurkan) di mana pun berada untuk mengagungkan nama Allah SWT,
memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan tasbih atas hidayah Allah SWT yang
diberikan kepada kita sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Hal ini
sebagaimana
yang
dikehendaki oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَلِتُكْمِلُواْ
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan hendaklah kamu sempurnakan
bilangannya dan hendaklah kemu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah: 185)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Ramadhan bukan sekadar latihan sementara,
tetapi pendidikan untuk menguasai diri sepanjang hayat. Imam Asy-Syafi’i
berkata:
إِذَا
لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَحْبِسَ نَفْسَكَ، اسْتَوْلَتْ عَلَيْكَ شَهَوَاتُكَ
“Jika engkau tidak mampu menahan dirimu,
maka hawa nafsumu akan menguasaimu.”
Ungkapan ini menegaskan pentingnya
pengendalian diri dalam kehidupan seorang muslim. Nafsu (syahwat) pada
dasarnya adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi jika tidak dikendalikan, ia
akan menguasai dan mengarahkan manusia pada hal-hal yang berlebihan, bahkan
menyimpang.
Kemampuan menahan diri (ḥabs an-nafs)
adalah inti dari akhlak dan spiritualitas Islam. Dalam konteks Ramadhan,
latihan puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan keinginan yang paling dasar
sekalipun, seperti makan dan minum. Jika latihan ini tidak dilanjutkan setelah
Ramadhan, maka hawa nafsu akan kembali mendominasi.
Ungkapan ini juga mengandung peringatan
bahwa manusia tidak bisa netral: jika tidak menguasai dirinya, maka dirinya
akan dikuasai. Oleh karena itu, pengendalian diri harus menjadi kebiasaan yang
terus dijaga, agar seseorang tetap berada di jalan yang benar dan tidak
terjerumus dalam sikap berlebihan (israf) atau perilaku yang merugikan
diri sendiri maupun orang lain.
Imam al-Ghazali berkata:
الصَّوْمُ
نِصْفُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ هُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَمَّا تَشْتَهِي
“Puasa adalah setengah dari kesabaran,
dan kesabaran itu menahan diri dari apa yang diinginkan.”
Kesabaran didefinisikan sebagai kemampuan
mengendalikan diri dari keinginan yang tidak semestinya. Artinya, sabar bukan
sekadar pasif menerima keadaan, tetapi aktif mengendalikan dorongan diri agar
tetap berada dalam batas yang benar.
Kekuatan sejati manusia bukan pada
kebebasan mengikuti keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan keinginan
tersebut.
Ungkapan tersebut memiliki kaitan yang
sangat erat dengan konsep efisiensi dalam kehidupan. Efisiensi pada hakikatnya
adalah kemampuan menggunakan sesuatu secara tepat, tidak berlebihan, dan sesuai
kebutuhan. Sementara kesabaran—sebagaimana dijelaskan dalam ungkapan tersebut—adalah
kemampuan menahan diri dari dorongan keinginan yang berlebihan.
Di sinilah titik temu keduanya. Efisiensi
tidak mungkin terwujud tanpa pengendalian diri. Banyak pemborosan terjadi bukan
karena kebutuhan, tetapi karena keinginan yang tidak terkendali. Puasa melatih
seseorang untuk mengatakan “cukup” terhadap sesuatu yang sebenarnya diinginkan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Dalam kehidupan, mendapatkan sesuatu sering
kali lebih mudah daripada menjaganya. Hal ini juga berlaku dalam ibadah
Ramadhan. Selama bulan Ramadhan, suasana mendukung: lingkungan religius, ibadah
berjamaah, dan ritme hidup yang terarah.
Namun, setelah Ramadhan berlalu, tantangan
justru lebih besar. Tidak ada lagi suasana kolektif yang kuat, sehingga menjaga
konsistensi ibadah, pengendalian diri, dan akhlak menjadi lebih sulit.
Di sinilah letak ujian sesungguhnya: apakah
nilai-nilai Ramadhan mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan di sini
pula letak kaitan erat antara Idul Fitri dan efisiensi hidup: puasa mendidik
manusia untuk hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan mampu mengatur kebutuhan
dengan bijak.
Efisiensi pada dasarnya adalah kemampuan
menggunakan sumber daya secara tepat, tidak boros, dan tidak melampaui batas.
Nilai ini sangat selaras dengan ajaran puasa.
Ketika seseorang mampu menahan diri dari
hal yang sebenarnya halal di siang hari, itu menunjukkan bahwa manusia memiliki
kapasitas besar untuk mengontrol konsumsi dan gaya hidupnya. Maka, Idul Fitri
menjadi momentum untuk membawa kebiasaan baik ini ke dalam kehidupan
sehari-hari.
Namun, tantangannya, setelah Idul Fitri,
banyak orang justru kembali pada pola hidup konsumtif—berlebihan dalam makan,
belanja, dan penggunaan sumber daya. Padahal, esensi kemenangan Idul Fitri
adalah keberlanjutan dari latihan pengendalian diri tersebut.
Kemenangan sejati adalah ketika seseorang
tetap mampu menjaga kesederhanaan, meskipun kesempatan untuk berlebih itu
terbuka lebar.
Dalam konteks kehidupan modern, terutama di
tengah tekanan ekonomi dan krisis energi, semangat efisiensi menjadi semakin
penting.
Penghematan listrik, penggunaan bahan bakar
secara bijak, serta pengelolaan konsumsi rumah tangga adalah bentuk nyata dari
nilai-nilai puasa yang diterapkan setelah Ramadhan. Ini bukan hanya soal
ekonomi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral dan spiritual.
Dalam Islam, konsep efisiensi memiliki akar
yang sangat kuat dalam ajaran tentang larangan isrāf (berlebih-lebihan).
Efisiensi bukan sekadar istilah ekonomi
modern, tetapi merupakan bagian dari etika hidup seorang muslim, yaitu
menggunakan sesuatu secara tepat, secukupnya, dan tidak melampaui batas
kebutuhan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا
تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah berlebih-lebihan,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.
Al-A’raf: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa israf bukan
hanya perilaku yang tidak baik secara sosial, tetapi juga tidak dicintai oleh
Allah. Artinya, efisiensi dalam Islam bukan sekadar pilihan, melainkan bagian
dari ketaatan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia,
Selain itu, efisiensi juga berkaitan dengan
keadilan sosial. Ketika seseorang tidak berlebihan, maka ada ruang untuk
berbagi kepada yang membutuhkan. Di sinilah Idul Fitri memperkuat nilai
solidaritas: zakat, infak, dan sedekah menjadi sarana distribusi kesejahteraan.
Dengan hidup efisien, kita tidak hanya
menjaga diri dari pemborosan, tetapi juga membuka peluang untuk membantu
sesama.
Adapun zakat merupakan instrumen penting
dalam Islam yang berfungsi sebagai sarana berbagi untuk membantu sesama. Zakat
bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi wujud nyata kepedulian sosial.
Melalui zakat, seorang Muslim diajarkan
bahwa sebagian harta yang dimilikinya bukan sepenuhnya miliknya, melainkan ada
hak orang lain di dalamnya.
Dengan menunaikan zakat, kita turut
meringankan beban fakir miskin, membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar, dan
menghadirkan rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari itu, zakat memiliki tujuan
strategis dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Islam tidak menghendaki kekayaan
hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja. Zakat menjadi mekanisme
distribusi agar harta mengalir ke berbagai lapisan masyarakat, sehingga
kesenjangan sosial dapat ditekan.
Dengan demikian, zakat bukan hanya ibadah
individual, tetapi juga sistem sosial yang mendorong terciptanya keadilan dan
pemerataan ekonomi.
Indonesia memiliki potensi zakat yang
sangat besar, diperkirakan mencapai sekitar 327 triliun rupiah per
tahun. Angka ini menunjukkan bahwa zakat sebenarnya bisa menjadi kekuatan
ekonomi umat yang luar biasa. Namun, realitasnya, penghimpunan zakat yang
terealisasi baru sekitar 10 persen dari potensi tersebut.
Hal ini menunjukkan masih adanya
kesenjangan antara kesadaran, kepercayaan, dan sistem pengelolaan zakat.
Sebagian masyarakat belum sepenuhnya menunaikan zakat melalui lembaga resmi,
sementara di sisi lain, optimalisasi distribusi dan edukasi zakat juga masih
perlu diperkuat.
Jika potensi ini bisa digali secara
maksimal, zakat dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan
kesenjangan sosial di Indonesia
Jika potensi zakat dimaksimalkan dengan
pengelolaan yang profesional dan tepat sasaran, maka dampaknya akan sangat
besar. Apalagi dengan memaksimalkan potensi infaq dan sedekah tentu akan lebih
besar kemungkinan menyejahterakan umat.
Zakat, infaq dan wakaf tidak hanya mampu
meningkatkan kesejahteraan umat, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan
bangsa dan negara. Semua ini merupakan bagian dari dana philanthrophy yang
dapat digunakan untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga
penguatan sektor produktif masyarakat. Jika baik pengelolaannya, maka philanthrophy
umat dapat menjadi kekuatan ekonomi yang strategis—bukan hanya mengentaskan
kemiskinan, tetapi juga membangun kemandirian dan kemajuan bersama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia,
Berikutnya, zakat dan kepedulian akan dapat
membangun persaudaraan, yaitu atas dasar saling melaksanakan hak dan kewajiban.
Mungkin sering kali seseorang didapati pandai
menuntut hak, tapi abai terhadap kewajibannya. Harusnya ini disadari sebagai sikap
yang tidak benar. Antara hak dan kewajiban harus ditempatkan secara proporsional.
Seperti saling menolong dalam masalah kebaikan, tidak saling menyakiti dan
saling memberi rasa damai dari semua ucapan dan tindakan.
Pada dasarnya, Islam sangat menganjurkan
saling memberi untuk memupuk rasa saling mencintai dan menyayangi. Sifat
meminta sering kali menimbulkan acuh dan bahkan mengurangi harkat martabat
diri. Tangan yang memberi itu lebih utama daripada menerima. Maka, untuk merawat
rasa cinta harus dibangun atas saling memberi.
Disebutkan dalam satu riwayat hadis:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: تَهَادُوا
تَحَابُّوا
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda:
‘Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai’.” (HR. Bukhari)
Kalau kita menganalisis menggunakan teori ilmu
sharf pada kata “تهادا” menggunakan istilah musyarakah yang artinya adalah feedback
dari orang yang diberi hadiah. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Memang terkadang orang yang diberi hadiah tidak punya modal untuk memberikan
yang lebih atau bahkan yang semisal, tapi bisa membalasnya dengan ucapan yang
baik dan mendoakannya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Pada hari kemenangan kita dalam mengikat
hawa nafsu untuk mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa sebulan penuh, menahan
lapar, haus dan hubungan seksual di siang hari, maka marilah, kita tunjukkan
indikator keberhasilan dalam meraih ketakwaan, kita tunjukkan kesejatian diri
yang “fitri” yang senantiasa menebarkan cinta kasih, persaudaraan, kebersamaan,
kemampuan menahan amarah, dan mampu memaafkan orang lain, serta pandai saling
berbagi dengan zakat dan sadekah, infaq dan wakaf.
Fitrah yang sesungguhnya adalah ketika takwanya
bertambah, berarti persaudaraan semakin rekat, peran serta kemanusiaan lebih
baik, amal salehnya meningkat dan semakin menjauhkan diri dari perilaku-perilaku
maksiat.
Bersikap fitrah adalah berorientasi pada
pemenangan “ruh Ilahi” atas tanah “lumpur”.
Semoga Allah SWT menuntun dan membimbing kita untuk selalu menjaga jiwa kita
agar tetap bertakwa dan berjalan pada fitrahnya
Dengan kembali ke fitrah diri,
mudah-mudahan kita tambah mempererat tali persaudaraan dan persatuan.
Tugas kita kini dan seterusnya adalah
mengisi kemerdekaan dan merealisasikan cita-cita para pahlawan dalam menggapai
kemaslahatan bersama untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan semua
ini dapat dicapai dengan spirit mengelola hawa nafsu yang dilatih selama puasa
Ramadhan.
Semoga Allah SWT menuntun dan membimbing
kita untuk selalu menjaga jiwa kita agar apa yang kita perbuat tetap selalu
ikhlas karena Allah SWT.
جَعَلَناَ
الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ
فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: (يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ
وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْاالله َعَلَى
مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ).
بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah II
الله أكبر7x ،
كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ
إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ
بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ
الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ
الغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ
أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ
المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ
الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ
سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ
انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً
تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ
وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ
ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ
وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ
بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً
ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ
الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ
وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ
سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا
رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ.