Oleh: KH Miftahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa MUI
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الرَّحْمَةَ أَسَاسَ هٰذَا الدِّينِ، وَجَعَلَ الْأُسْرَةَ
مَهْدَ التَّرْبِيَةِ، وَجَعَلَ الْأَبْنَاءَ أَمَانَةً فِي أَعْنَاقِ
الْوَالِدَيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، الَّذِي عَلَّمَنَا كَيْفَ نَكُونُ رُحَمَاءَ،
وَكَيْفَ نُرَبِّي أَبْنَاءَنَا بِالْمَحَبَّةِ لَا بِالْقَسْوَةِ.
اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ وَمِفْتَاحُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)
Jamaah yang Dirahmati
Allah,
Di antara nikmat
terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah hadirnya anak-anak dalam
kehidupan kita. Mereka bukan sekadar penerus keturunan, tetapi cerminan dari
cara kita mendidik, memperlakukan, dan menyayangi mereka.
Sering kali kita sibuk
mempersiapkan masa depan mereka, tetapi lupa memastikan bahwa mereka tumbuh
dalam pelukan kasih sayang, bukan tekanan dan ketakutan. Sehingga sering kita
dapati ada anak yang memberontak, hubungan orang tua dan anak yang renggang,
bahkan kekerasan dalam rumah tangga.
Kita juga sering lupa
bertanya: Apakah anak-anak kita sudah kita didik dengan kasih sayang, atau
justru dengan kemarahan? Padahal Islam menegaskan bahwa pendidikan terbaik
adalah pendidikan yang dibangun di atas rahmah (kasih sayang), bukan
kekerasan.
Jamaah yang Dirahmati
Allah,
Anak yang dididik
dengan cara kekerasan akan berdampak sangat besar, yaitu trauma yang diwariskan
kepada anak-anak kita.
Trauma bukan hanya
tentang luka fisik, tetapi juga luka batin, bentakan yang berulang, hinaan yang
merendahkan, kekerasan dalam rumah tangga, atau pengabaian kasih sayang.
Semua itu bisa
membekas dalam jiwa anak, bahkan hingga dewasa. Padahal, Islam mengajarkan
kasih sayang sebagai fondasi utama pendidikan.
Allah SWT berfirman:
وَاللَّهُ
جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم
بَنِينَ وَحَفَدَةً
“Allah menjadikan
bagimu pasangan dari jenismu sendiri dan dari pasangan itu Dia memberikan
anak-anak dan cucu-cucu.” (QS.
An-Nahl: 72)
Ayat ini menunjukkan
bahwa anak adalah amanah, bukan pelampiasan emosi.
Jamaah Sekalian,
Rasulullah SAW adalah teladan
dalam memperlakukan anak. Diriwayatkan bahwa beliau mencium cucunya, Hasan dan
Husain. Lalu seorang sahabat berkata, “Saya punya sepuluh anak, tidak pernah
saya cium satu pun.” Mendengar hal itu, Rasulullah pun bersabda:
مَنْ
لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Siapa yang tidak
menyayangi, tidak akan disayangi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa
kasih sayang bukan kelemahan, tetapi kekuatan dalam mendidik.
Jamaah yang Dimuliakan
Allah,
Sering kali seseorang
berkata: “Saya dulu dididik keras, dan saya berhasil.” Namun, yang jarang
disadari, mungkin ia berhasil secara ekonomi, tetapi menyimpan luka batin,
mudah marah, sulit mencintai, atau mengulang pola yang sama kepada anaknya.
Inilah yang disebut warisan
trauma lintas generasi. Pada hakikatnya, Islam tidak mengajarkan hal itu. Islam
mengajarkan rahmah, yaitu kelembutan dan pendekatan yang penuh hikmah.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
“Maka berkat rahmat
Allah engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 159)
Jika rasul saja
diperintahkan lembut, apalagi kita kepada anak-anak kita. Karena itu, hal ini
harus benar-benar diperhatikan. Keteladanan nabi menjadi acuan dalam mendidik
anak-anak kita.
Jamaah yang Dirahmati
Allah,
Sudah saatnya kita
memutus rantai trauma itu. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan, seperti
menahan amarah saat mendidik anak, mengganti bentakan dengan komunikasi, memberi
pelukan bukan hukuman berlebihan, meminta maaf kepada anak jika kita salah, dan
menjadikan rumah sebagai tempat aman bukan tempat ketakutan
Semua itu demi
kebaikan anak-anak kita sendiri. Sebab anak yang tumbuh dengan kasih sayang
akan menjadi pribadi yang kuat dan penuh empati. Sebaliknya, anak yang dirundung
trauma akan terhambat perkembangannya dan sedikit kepeduliannya.
وَأَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ،
فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ
الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ
تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا
الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّتَنَا،
وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مَلِيئَةً بِالْمَحَبَّةِ وَالرَّحْمَةِ،
وَجَنِّبْنَا الْعُنْفَ وَالظُّلْمَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ
وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ
وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.