Khutbah Jumat: Qana’ah dalam Perjuangan dan Kepasrahan
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Dr Ahmad Afif, M.EI, CWC, Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ
الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَمَغْفِرَةِ
الذُّنُوبِ وَعِتْقِ الرِّقَابِ مِنَ النِّيرَانِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى
تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْقَائِلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي قَالَ
وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ
يُسْرًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin yang Berbahagia,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat-Nya, kita masih diberikan sabar dalam melewati segala cobaan akhir zaman.
Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan
kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW yang berhasil membawa umatnya
dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan cahaya islami.
Melalui mimbat Jumat ini, khatib berpesan
kepada diri sendiri dan juga kepada hadirin sekalian bahwa akar rumput dari kerakusan
dan keserakahan adalah kurang qana’ah dalam bersikap.
Oleh karenanya, di momen menghadapi bulan Idul Qurban
dan haji ke depan, kita perlu mempersiapkan hati dan jati diri agar supaya
dapat mengisi bulan tersebut dengan penuh qana’ah agar menjadi hamba yang
pemurah.
Hadirin Hafidzakumullah,
Seorang ulama tersohor pada abad 5 Hijriah/11 Masehi bernama Imam Al-Ghazali (1058–1111 M), atau Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad at-Tusi, berhasil membukakan jalan bagi para ahli fiqih, filsuf, dan sufi
agar dapat mencerna ajaran agama melalui ketiganya.
Julukan Hujjatul Islam (pembela Islam) menjadi superior manakala syariat terkadang sulit didapati dengan kombinasi akhlak maupun aqidah.
Dalam karyanya yang tertuang dalam kitab Ihya’
Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) jilid 3 dijelaskan bahwa obat dari
hati yang rakus dan serakah—karena rezeki tak akan ke mana dan salah ke alamat
tujuan pengiriman oleh malaikat Mikail, tidak lain adalah qana’ah.
Allah berfirman dalam kitab suci Alquran surat Hud
ayat 6:
وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى
اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ
مُّبِيْنٍ
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang
melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfudh).”
Terkadang takutnya tidak kebagian rezeki itulah
yang membuat terkadang manusia lupa diri sehingga apa pun akan diterobos tanpa mempunyai
tujuan yang maslahah.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menyinggung
hal itu:
ثلاثٌ مُهلِكاتٌ، وثلاثٌ
مُنجِياتٌ، وثلاثٌ كفَّارَاتٌ، وثلاثٌ دَرَجاتٌ. فأمّا المهلِكاتُ : فشُحٌّ
مُطاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإِعجابُ المرْءِ بنفْسِهِ. وأمّا المنْجياتُ :
فالعدْلُ في الغضَبِ والرِّضا، والقصْدُ في الفقْرِ والغِنى، وخشيةُ اللهِ تعالَى
في السِّرِّ والعلانيةِ. وأمّا الكفَّاراتُ : فانْتظارُ الصلاةِ بعدَ الصلاةِ،
وإسْباغُ الوُضوءِ في السَّبَرَاتِ ، ونقلُ الأقدامِ إلى الجماعاتِ. و أمّا
الدَّرجاتُ : فإطْعامُ الطعامِ، و إفْشاءُ السلامِ، و الصلاةُ بالليلِ و الناسُ
نِيامٌ
Artinya: “Ada tiga perkara yang
membinasakan, tiga perkara yang menyelamatkan, tiga perkara yang menjadi
penghapus dosa, dan tiga perkara yang meninggikan derajat. Adapun yang
membinasakan adalah: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman
seseorang terhadap dirinya sendiri. Adapun yang menyelamatkan adalah: bersikap
adil dalam keadaan marah maupun ridha, bersikap pertengahan dalam keadaan
miskin maupun kaya, serta rasa takut kepada Allah Ta‘ala dalam keadaan
tersembunyi maupun terang-terangan. Adapun yang menjadi penghapus dosa adalah:
menunggu shalat setelah shalat, menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang berat
(seperti dingin), dan melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah. Adapun yang
meninggikan derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, serta
melaksanakan shalat di malam hari ketika manusia sedang tidur.” (HR
Thabrani)
Hadirin yang Berbahagia,
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan bulan
berbagi dengan sesama dan bertamu ke Baitullah, “rumah” Allah SWT yang menjadi
tempat berkumpulnya seluruh corak umat manusia dari ujung belahan dunia Timur-Barat,
Utara-Selatan dan selalu akan ramai pada bulan Dzulhijjah.
Di Indonesia, orang rela antre daftar haji puluhan tahun untuk dapat berkunjung ke sana. Saking dahsyatnya, penjual asongan
bisa naik haji.
Logikanya, dengan penghasilan pas-pasan kok bisa
ya naik haji dengan istitho’ah (kemampuan) finansial yang tidak sedikit.
Belum lagi dengan keadaan ekonomi yang semakin tidak terkendali, yang membuat
sejumlah tantangan pendapatan kian tak terukur.
Selain itu, masih ada yang ajib lagi, seorang
takmir masjid tiba-tiba dapat hadiah haji dari hamba Allah SWT. Begitulah segala
sesuatu dapat terjadi dalam momen ibadah haji.
Allah berfirman dalam surat Thalaq ayat 2:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Namun, tidak sedikit yang berucap, “Kalau
memang sudah dipanggil ke Baitullah, pasti akan berangkat.” Hal ini bisa
dinilai sebagai sebuah rasa qana’ah yang terpatri dalam jiwa seorang muslim.
Hadirin yang Berbahagia,
Idul Adha merupakan sarana berbagi dalam agama
Islam. Cerita turunnya perintah qurban ini secara tersurat terdapat dalam surat
Al-Hajj ayat 34 dan 35:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا
مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ
Artinya: “Dan bagi setiap umat telah Kami
syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki
yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah
Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan
sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh
(kepada Allah). (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka
bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang
melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami
karuniakan kepada mereka.”
Dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 99-111,
telah gamblang dijelaskan dengan shorih bahwa kisah Nabi Ibrahim yang
saat itu ingin menyembelih anaknya, Nabi Ismail, telah membuat kisah ini
menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban itu sendiri.
Dengan adanya peristiwa tersebut, sampai
sekarang berqurban disunnahkan bagi umat Islam yang mampu. Lalu dagingnya
didistribusikan dalam keadaan mentah agar supaya selera umat dapat menyesuaikan
dengan bahan yang siap diolah sebagaimana selera masing-masing.
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Di saat umat Islam diuji dengan keadaan global
yang tidak menentu, kita semua dituntut agar selalu qana’ah dalam segala
keadaan.
Qana’ah adalah sikap hati yang rela menerima,
merasa cukup, dan bersyukur atas hasil usaha serta rezeki yang diberikan Allah
SWT, tanpa tamak atau iri dan dengki atas milik orang lain.
Sifat ini mencakup sabar, bertawakkal, dan
ikhlas atas ketentuan-Nya, yang mendatangkan ketenangan batin.
Dengan akan datangnya Idul Adha sebagai bulan
qurban dan haji, Allah melebihkan momentum qana’ah kita dengan sebuah dahaga Lebaran yang akan menyajikan daging segar di seluruh penjuru.
Sedangkan haji banyak mengorbankan kerelaan dan
kepasrahan bagi umat Islam yang merindukan Baitullah dalam prosesi
manasik setiap setahun sekali.
Semoga kita dapat menelaah dan melatih diri
menjadi hamba yang qana’ah dengan cara syukur dan sabar. Amin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.