Khutbah Jumat: Kemuliaan bagi Para Pekerja dan Pencari Nafkah
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Zaki Mubarok, Lc, Sekretaris 4 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْاِيْمَانِ
وَالْاِسْلَامِ، وَاَشْهَدُ
اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّلُ
بِشَرِيْعَةِ الْاِسْلَامِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ
خَيْرُ الْاَنَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ سَلَاطِيْنُ الْأَئِمَّةِ
وَالْإِمَامِ
اَمَّا بَعْدُ،
فَيَا اَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَّقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى: اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ (وَقُلِ اعْمَلُوْا
فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ
اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُوْنَۚ)
صدق الله
العظيم
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Marilah kita
tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Islam adalah
agama yang sangat memuliakan kerja keras dan usaha mencari nafkah yang halal.
Dalam pandangan Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi, tetapi juga
bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Allah Ta’ala
berfirman dalam Alquran:
وَقُلِ
اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ
وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: “Dan
katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga
Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)
Bekerja adalah
bagian dari tanggung jawab manusia, dan setiap usaha yang dilakukan akan
dinilai oleh Allah. Bekerja bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan
hidup, tetapi juga merupakan wujud tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang
diberi amanah.
Dalam setiap
langkah usaha yang dilakukan—baik kecil maupun besar—tersimpan nilai ibadah
jika dilandasi niat yang baik. Tidak ada jerih payah yang sia-sia, karena
setiap usaha akan dinilai oleh Allah dengan penuh keadilan.
Oleh karena itu,
bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dan penuh tanggung jawab bukan hanya
mendatangkan hasil di dunia, tetapi juga menjadi bekal berharga di akhirat.
Jamaah
Jumat yang Dimuliakan Allah,
Dalam ajaran
Islam, setiap amaliah yang baik akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT,
sekecil apa pun kebaikan itu. Tidak hanya ibadah yang bersifat ritual seperti
shalat dan puasa, tetapi juga aktivitas sehari-hari yang diniatkan karena
Allah, termasuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
Mencari rezeki
yang halal untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak adalah bagian dari tanggung
jawab yang mulia. Ketika dilakukan dengan niat ibadah, kerja keras tersebut
berubah menjadi amal shalih yang bernilai pahala. Bahkan, setiap rupiah yang
diberikan kepada keluarga dapat menjadi sedekah di sisi Allah.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
مَا
أَنْفَقْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Apa saja yang
engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka itu adalah sedekah bagimu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian,
seorang muslim tidak perlu memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Selama
dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang ikhlas, bekerja mencari nafkah
bukan hanya mendatangkan manfaat dunia, tetapi juga menjadi jalan meraih pahala
dan keberkahan di akhirat.
Mencari nafkah
yang halal merupakan kewajiban, terutama bagi seorang kepala keluarga. Bahkan,
Rasulullah SAW menegaskan keutamaan bekerja dengan tangan sendiri:
مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah
seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya
sendiri.” (HR Bukhari)
Dalam hadis lain,
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ
سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
“Seseorang
yang mencari nafkah untuk keluarganya termasuk di jalan Allah.” (HR Thabrani)
Bekerja untuk
memenuhi kebutuhan keluarga bukan hanya kewajiban, tetapi juga bernilai jihad
di jalan Allah.
Oleh karena itu,
hendaknya setiap muslim meluruskan niat dalam bekerja, bukan hanya untuk
memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga untuk meraih ridha Allah. Dengan niat
yang benar, lelah menjadi berkah, dan penghasilan menjadi jalan menuju pahala.
Nabi Daud
‘alaihis salam adalah sosok teladan yang menunjukkan kemuliaan bekerja dengan
tangan sendiri. Meskipun beliau seorang nabi dan juga raja, beliau tidak
bergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Beliau memilih untuk
bekerja dan makan dari hasil jerih payahnya sendiri.
Rasulullah SAW
bersabda:
مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ،
وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah
seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya
sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (HR Bukhari)
Bekerja adalah
sesuatu yang mulia, bukanlah hina. Bahkan seorang nabi yang mulia pun tetap
berusaha dengan tangannya sendiri. Maka, tidak sepantasnya seseorang merasa
rendah karena bekerja keras, selama itu dilakukan dengan cara yang halal.
Justru di situlah letak kehormatan dan keberkahan hidup.
Orang yang
bersusah payah mencari nafkah halal sepanjang hari, dengan niat menunaikan
tanggung jawab dan mencari ridha Allah, tidak hanya mendapatkan rezeki untuk
kehidupannya, tetapi juga limpahan ampunan dari Allah SWT. Setiap rasa lelah,
panas, dan letih yang ia rasakan menjadi saksi kesungguhan usahanya di jalan
yang benar.
Rasulullah SAW
bersabda:
مَنْ
أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ
“Barang siapa
yang sore hari merasa letih karena bekerja mencari nafkah yang halal, maka ia
diampuni dosanya.” (HR
Thabrani)
Kerja keras yang
dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang tulus bukanlah sesuatu yang
sia-sia. Bahkan, kelelahan itu menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa. Maka, jangan
pernah meremehkan usaha mencari nafkah, karena di balik lelah itu tersimpan
rahmat dan ampunan dari Allah.
Setiap keringat
yang jatuh, setiap lelah yang dirasakan, dan setiap usaha yang ditempuh untuk
mendapatkan rezeki yang halal akan bernilai ibadah besar di sisi Allah. Bahkan,
perjuangan itu sebanding dengan jihad karena mengandung pengorbanan,
kesungguhan, dan tanggung jawab.
Hadirin
yang Berbahagia,
Islam juga
mengajarkan kita untuk menjauhi sifat malas dan bergantung kepada orang lain.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang aktif, mandiri, dan tidak
bermalas-malasan. Sifat malas dipandang sebagai hal yang dapat melemahkan
potensi diri dan menghambat kemajuan hidup.
Selain itu,
bergantung kepada orang lain tanpa usaha yang sungguh-sungguh juga tidak
dianjurkan, karena setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk berikhtiar
memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dengan bekerja
keras dan berusaha secara mandiri, seseorang tidak hanya menjaga harga dirinya,
tetapi juga menjalankan ajaran Islam yang mendorong kemandirian dan semangat
berjuang dalam kehidupan.
Ma’syiral Muslimin
Rahimakumullah,
Mencari nafkah
yang halal merupakan kewajiban sekaligus bentuk ketaatan seorang hamba kepada
Allah. Setiap rezeki yang diperoleh dengan cara yang baik akan membawa
keberkahan, ketenangan hati, dan kebaikan dalam kehidupan.
Sebaliknya,
menjauhi yang haram adalah upaya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak
moral dan menghilangkan keberkahan. Dengan berpegang pada prinsip halal dan
haram, seseorang tidak hanya menjaga kehidupannya di dunia, tetapi juga
mempersiapkan bekal yang bernilai di akhirat.
Dalam bekerja
kita harus mengedepankan kejujuran dan
amanah; ini adalah fondasi utama yang membangun kepercayaan dan kehormatan
diri. Kejujuran membuat setiap tugas dikerjakan tanpa manipulasi, sementara
amanah memastikan tanggung jawab diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Sikap ini tidak
hanya berdampak pada kualitas hasil kerja, tetapi juga menciptakan hubungan
yang sehat dan saling percaya dengan orang lain.
Dengan menjaga
kejujuran dan amanah, seseorang tidak hanya meraih keberhasilan di dunia,
tetapi juga memperoleh nilai kebaikan yang bernilai di sisi Allah.
Jamaah Shalat
Jumat yang Berbahagia,
Bekerja tidak
seharusnya membuat seseorang melalaikan ibadah kepada Allah. Di tengah
kesibukan dan tuntutan pekerjaan, seorang hamba tetap dituntut untuk menjaga
hubungan dengan Tuhannya melalui shalat, doa, dan mengingat-Nya. Justru dengan
menyeimbangkan antara kerja dan ibadah, hidup menjadi lebih terarah dan penuh
keberkahan.
Kesungguhan dalam
bekerja akan semakin bernilai jika tidak mengabaikan kewajiban kepada Allah,
karena keduanya dapat berjalan seiring sebagai bentuk pengabdian yang utuh.
Dalam bekerja,
kita juga harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, karena menjaga
keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah kunci hidup yang harmonis dan
bermakna. Kehidupan dunia perlu dijalani dengan kerja keras, tanggung jawab,
dan usaha terbaik, namun tidak boleh melupakan tujuan akhir sebagai bekal
menuju akhirat.
Dengan
menyeimbangkan keduanya, seseorang dapat meraih keberhasilan lahiriah sekaligus
ketenangan batin. Setiap aktivitas duniawi pun dapat bernilai ibadah jika
dilakukan dengan niat yang benar, sehingga hidup menjadi lebih terarah dan
penuh keberkahan.
Allah berfirman
di dalam surat Al-Munafiqun ayat 9:
يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ
ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah
orang-orang yang rugi.”
Jamaah
Jumat yang Dirahmati Allah,
Setiap tetes
keringat yang kita keluarkan dalam mencari nafkah yang halal akan menjadi saksi
di hadapan Allah. Rasulullah SAW pernah mencium tangan seorang sahabat yang
kasar karena bekerja, lalu beliau bersabda:
هَذِهِ
يَدٌ يُحِبُّهَا اللّٰهُ وَرَسُولُهُ
“Ini adalah
tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR Thabrani)
Betapa mulianya
orang yang bekerja keras dengan cara yang halal, hingga Rasulullah menegaskan
demikian.
Oleh karena itu
jangan pernah merasa rendah dengan pekerjaan yang halal. Hindari segala bentuk
kecurangan dan kezaliman dan niatkan bekerja sebagai ibadah.
Semoga Allah
memberkahi pekerjaan kita, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita
termasuk orang-orang yang bersyukur.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ
اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ