Doa saat Memandang Ka’bah di Masjidil Haram
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Banyak orang mengakui bahwa melihat Ka’bah untuk pertama kali adalah momen yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada yang menangis tanpa sadar, ada yang tubuhnya bergetar, ada pula yang terdiam karena dada dipenuhi rasa haru.
Bangunan suci yang selama ini hanya dikenal lewat gambar dan cerita, kini berdiri nyata di hadapan mata para jamaah haji. Di sanalah kiblat seluruh kaum muslimin, arah sujud jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia setiap hari.
Baca juga: Niat Ihram Haji dan Umroh Disertai Doa Lengkap dengan Artinya
Dalam kitab Al-Mushannaf Ibnu Abi
Syaibah mencatat sebuah riwayat hadis yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah
memandang Ka’bah, doa inilah yang dibaca:
اللَّهُمَّ
زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ
أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَبِرًّا
“Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini
(Ka’bah) kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada orang
yang menunaikan haji atau umrah kepadanya kemuliaan, keagungan, penghormatan,
dan kebaikan.” (Al-Mushannaf [Riyadh:
Maktabah ar-Rusyd], juz 6, h. 81)
Selain itu, terdapat
juga lafaz doa lain yang dibaca oleh seorang tabi’in, Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki Masjidil Haram dan
memandang Ka’bah, beliau membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ
أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ
“Ya Allah,
Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari-Mulah segala keselamatan, maka hidupkanlah
kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan.”
Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra, dengan sanad yang dinilai sahih.
Baca juga: 4 Doa Perjalanan Haji dan Umroh yang Dianjurkan: Dari Berangkat hingga Tiba di Tanah Suci
Doa ini sangat masyhur dibaca oleh umat Islam Indonesia setiap selesai shalat fardhu, meskipun ditambahkan dengan sedikit lafaz lainnya. Karenanya, lafaz yang dibaca tampak sangat familiar.
Doa yang singkat ini secara
jelas memohon keselamatan kepada Allah. Karena siapa pun yang memahami hakikat
hidup akan tahu bahwa kebutuhan terbesar manusia bukanlah soal kekayaan materi,
tetapi keselamatan. Selamatnya iman dari kesesatan, selamatnya hati dari
kerasnya jiwa, selamatnya badan dari musibah, selamatnya keluarga dari
keretakan, dan selamatnya akhir hidup dengan husnul khatimah.
Dan bahwa sumber ketenangan sejati bukanlah manusia, bukan materi, dan bukan pujian makhluk. Semua rasa aman dan ketenangan itu berasal dari Allah semata.
Baca juga: 5 Bacaan Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Banyak orang tampak
memiliki segalanya, namun hidupnya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang
sederhana tetapi hatinya tenang karena dekat dengan Allah.
Maka di hadapan Ka’bah,
seorang hamba sepatutnya sadar dan mengingatkan dirinya untuk kembali kepada
pusat keselamatan itu, yaitu Allah SWT.
Ka’bah merupakan syiar-Nya, karena itu, ketika mata melihat Ka’bah, sudah seharusnya lisan berdzikir dan hati hadir bersama Allah, munajat kepada-Nya. Karena memang demikianlah cara memuliakan syiar-Nya.