Tekanan Sanksi dan Blokade AS, Nilai Riyal Iran Terpuruk dan Perdagangan Terganggu
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Admin
Editor
Teheran, MUIDigital – Tekanan sanksi ekonomi dan blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran kian berdampak luas terhadap perekonomian negara tersebut.
Dampak tersebut kini terlihat jelas pada anjloknya nilai mata uang nasional Iran, rial, yang kembali menyentuh titik terendah baru.
Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan terganggunya jalur perdagangan utama Iran.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Sabtu (2/5/2026), dalam kondisi tersebut, nilai tukar riyal Iran sempat menembus lebih dari 1,81 juta per dolar AS di pasar terbuka sebelum mengalami sedikit pemulihan.
Angka ini menunjukkan penurunan tajam dibandingkan awal pekan yang berada di kisaran 1,54 juta, serta jauh merosot dari sekitar 811 ribu per dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini sekaligus menandai tekanan berkelanjutan terhadap mata uang Iran dalam satu tahun terakhir. Tekanan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor, termasuk inflasi tinggi yang telah lama membebani perekonomian Iran.
Kondisi ini semakin diperparah oleh eskalasi konflik di kawasan, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.
Seiring dengan itu, peningkatan kehadiran militer AS di kawasan turut mempersempit ruang gerak ekonomi Iran. Dalam situasi yang semakin menekan tersebut, pemerintah Iran mulai mengambil sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas dalam negeri.
Baca juga: Dibayang-bayangi Meletusnya Kembali Perang, Bagaimana Nasib Jamaah Haji Iran?
Langkah tersebut antara lain berupa alokasi dana sebesar 1 miliar dolar AS untuk pengadaan pangan serta pemberian kelonggaran bagi provinsi perbatasan dalam mengimpor kebutuhan pokok.
Selain itu, pemerintah juga kembali menerapkan kebijakan nilai tukar bersubsidi guna menekan harga, meskipun kebijakan ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaan.
Seiring dengan tekanan pada sektor moneter, sektor perdagangan Iran juga mengalami dampak signifikan. Data resmi menunjukkan bahwa perdagangan non-minyak Iran menurun akibat terganggunya hubungan dagang dengan sejumlah mitra utama serta rusaknya infrastruktur penting.
Total perdagangan non-minyak dalam satu tahun terakhir tercatat sekitar 110 miliar dolar AS, turun sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut semakin tajam sejak dimulainya konflik, yang tercermin dari merosotnya volume perdagangan bulanan secara signifikan.
Baca juga: Update Perang AS VS Iran: Trump Pertahankan Blokade Iran, Teheran Ancam Tindakan Praktis
Pada bulan terakhir, nilai perdagangan hanya mencapai sekitar 6,46 miliar dolar AS, atau turun hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perang dan blokade telah berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi Iran. Gangguan tersebut tidak terlepas dari terganggunya jalur distribusi strategis, termasuk melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan Iran.
Selain itu, serangan terhadap pelabuhan, bandara, serta jaringan logistik nasional semakin memperparah situasi. Bahkan, sejumlah sektor industri utama seperti baja, petrokimia, serta energi dilaporkan turut menjadi sasaran serangan.
Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah Iran memberlakukan pembatasan sementara terhadap ekspor sejumlah komoditas strategis, seperti baja dan produk kimia.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri di tengah tekanan eksternal yang terus meningkat.
Di sisi lain, tekanan juga semakin terasa pada sektor energi, khususnya ekspor minyak yang menjadi tulang punggung perekonomian Iran.
Amerika Serikat meningkatkan pengawasan terhadap jalur distribusi minyak Iran, termasuk dengan menargetkan kapal tanker serta jaringan perdagangan yang diduga digunakan untuk menghindari sanksi.
Langkah ini semakin membatasi akses Iran ke pasar global. Dampak dari kebijakan tersebut turut dirasakan oleh mitra dagang utama Iran, terutama China, yang selama ini menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
Data menunjukkan bahwa perdagangan bilateral kedua negara mengalami penurunan signifikan hingga 50 persen pada kuartal pertama 2026.
Penurunan ini mencerminkan melemahnya hubungan dagang akibat tekanan geopolitik yang terus meningkat. Selain itu, hubungan dagang Iran dengan Uni Emirat Arab juga mengalami kemunduran yang cukup tajam.
Kebijakan pembatasan terhadap entitas dan warga Iran di negara tersebut turut mempersempit akses perdagangan dan keuangan Iran di kawasan. Akibatnya, Iran kini semakin bergantung pada negara-negara tetangga seperti Turki, Irak, dan Pakistan.
Pada akhirnya, seluruh tekanan ekonomi tersebut berimplikasi langsung terhadap kondisi sosial masyarakat Iran. Inflasi yang tinggi dan terbatasnya akses terhadap kebutuhan pokok berpotensi memperburuk kesejahteraan rakyat.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Iran dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi masyarakat di tengah konflik dan tekanan eksternal yang berkepanjangan