Wamen ATR/BPN Serahkan Bantuan BPN Peduli untuk Korban Bencana, MUI Sampaikan Apresiasi kepada Seluruh Donatur
Admin
Penulis
Sumatera Utara, MUI Digital — Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), H. Ossy Dermawan, B.Sc., M.Sc., menyerahkan bantuan kemanusiaan BPN Peduli kepada masyarakat terdampak bencana di Sumatera Utara. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada MUI dan berisi kebutuhan dasar seperti sembako serta perlengkapan rumah tangga.
Selain dukungan dari ATR/BPN, MUI juga menerima bantuan dari berbagai lembaga, baik BUMN maupun swasta. Bantuan datang dari BRI, BTPN, BNI, serta donatur lainnya yang memilih tidak disebutkan namanya. Para donatur tersebut mengirimkan total 2.000 paket berisi kebutuhan mandi, kebutuhan mencuci, dan perlengkapan esensial lainnya.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Mabroer MS, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas solidaritas berbagai pihak. Menurutnya, kehadiran Wamen ATR/BPN dan para donatur menjadi penyemangat bagi masyarakat terdampak.
“Saya atas nama MUI Pusat menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur, sekaligus kepada Bapak Wakil Menteri ATR/BPN. Kehadiran beliau dapat menumbuhkan semangat dan motivasi bagi para korban bencana,” ujar Mabroer kepada MUI Digital seusai meninjau lokasi bencana bersama Wamen ATR/BPN, Rabu (10/12/2025).
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, tim MUI dan Wamen ATR/BPN meninjau sejumlah fasilitas umum serta permukiman warga. Dari hasil peninjauan, beberapa fasilitas pendidikan mengalami kerusakan berat.
“Ada sekolah Tsanawiyah atau MTS yang hancur, hanya tinggal menyisakan puing dan beberapa bangunan yang sudah tidak layak pakai,” ungkapnya.
Selain itu, mereka juga memantau pembangunan hunian darurat yang dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat, TNI, Polri, dan para relawan. Dana yang berhasil dikumpulkan sekitar Rp40 juta, namun belum mampu memenuhi target pembangunan 50 unit rumah darurat.
“Di situ sedang dibangun rumah darurat dengan target 50 unit, namun karena keterbatasan dana, pembangunan baru bisa dilakukan untuk beberapa unit. Masih banyak yang dibutuhkan,” kata Mabroer.
Mabroer menuturkan bahwa pemerintah daerah menghadapi kendala non-teknis, termasuk pemotongan dana daerah, sehingga tidak dapat maksimal membantu korban bencana. Karena itu, ia mengajak masyarakat memperkuat gerakan solidaritas.
“Oleh karena itu, saya berharap masyarakat jangan lelah dan jangan berhenti untuk bersama-sama menumbuhkan dan meningkatkan semangat gotong-royong, agar penanganan terhadap para korban bencana bisa cepat. Saat ini, pemerintah daerah mengalami kesulitan untuk membantu karena keterbatasan anggaran dan faktor non-teknis lainnya. Partisipasi masyarakat maupun entitas lain sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa negara sahabat seperti Malaysia dan Brunei sebenarnya ingin menyalurkan bantuan, namun karena kategori bencana ini belum ditetapkan sebagai bencana nasional, bantuan asing tidak dapat masuk.
Mabroer menegaskan pentingnya dukungan publik, terutama bagi wilayah yang masih minim bantuan.
“Oleh karena itu, dengan diperpanjangnya masa tanggap darurat sampai tanggal 21 Desember, kita harus segera merapatkan barisan bersama-sama untuk men-support para korban bencana. Daerah-daerah yang terisolasi ini kondisinya semakin parah karena nyaris tidak tersentuh oleh bantuan,” ujarnya.
Bantuan dari para donatur langsung disalurkan ke posko-posko di Tapanuli Selatan (TAPSEL), Mandailing Natal, dan Padang Sidempuan. Bantuan mencakup sembako, kebutuhan mandi, hingga perlengkapan ibadah seperti mukena dan sajadah.
“Di antara posko yang bermitra dengan MUI Pusat, yang pertama adalah posko masyarakat di TAPSEL. Selain di TAPSEL, juga ada di Mandailing Natal dan Sidempuan. Kami berharap proses distribusi donasi di fase tanggap darurat ini berjalan dengan baik,” ujarnya.
Selain distribusi bantuan, MUI juga melakukan pemetaan kebutuhan untuk fase pemulihan dan rekonstruksi.
“Kami juga melakukan assessment dan identifikasi kebutuhan awal untuk program recovery, misalnya mendata jumlah sekolah serta masjid dan mushola,” jelasnya.
Mabroer menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama untuk memastikan kebutuhan pendidikan, tempat ibadah, dan hunian warga dapat dipenuhi secara bertahap.
“Terus juga kemudian para siswa ada berapa yang menjadi korban. Kita berharap ke depan bisa support mereka di fase recovery dan rekonstruksi. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat masih sangat dibutuhkan untuk para korban,” pungkasnya.
(Fitri Aulia Lestari ed: Muhammad Fakhruddin)