BRIN Tekankan Penguatan Ekosistem Riset untuk Capai Indonesia Emas 2045
Admin
Penulis
JAKARTA,MUI.OR.ID – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria, menjadi narasumber dalam Sidang Pleno IX Munas XI MUI.
Prof Arif menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat ekosistem riset dan inovasi sebagai fondasi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Ia menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek input inovasi yang melemah pada tahun 2025. Meski demikian, beliau menilai terdapat sejumlah capaian positif yang menunjukkan arah perbaikan yang signifikan.
“Peringkat GII Indonesia turun satu tingkat di tahun 2025, terutama karena melemahnya input inovasi. Namun, bila dibandingkan dengan 2021, kita melihat banyak kemajuan. Output inovasi kita terus membaik, belanja riset pemerintah dan swasta meningkat, dan jumlah paten asal Indonesia naik tajam,” ujar Prof Arif di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Jumat (21/11/2025).
Menurutnya, perbaikan dalam indikator belanja riset, investasi R&D asing, hingga lonjakan paten menunjukkan bahwa Indonesia semakin siap memasuki fase ekonomi berbasis inovasi (innovation-driven economy).
Konsep ini, selaras dengan teori pertumbuhan endogen Paul Romer, bahwa inovasi adalah lokomotif baru pembangunan ekonomi jangka panjang.
Prof Arif menekankan bahwa Indonesia membutuhkan ekosistem riset yang kuat, yang meliputi infrastruktur riset, SDM iptek, pendanaan berkelanjutan, dan agenda riset nasional yang terintegrasi.
“Riset harus menjadi penggerak pembangunan. Kita menyiapkan agenda riset nasional berbasis SDGs, mulai dari kedaulatan pangan, energi, kesehatan, hingga ekonomi berbasis pengetahuan. Semua itu dirancang untuk memastikan kesejahteraan generasi mendatang,” tegasnya.
BRIN juga mendorong konsolidasi riset nasional melalui kolaborasi lintas kementerian, perguruan tinggi, industri, dan daerah.
Prof Arif menilai bahwa kolaborasi multipihak adalah kunci untuk mengejar ketertinggalan inovasi dan mempercepat pencapaian target RPJMN 2029, termasuk posisi Indonesia menuju peringkat 49 GII.
Di akhir penyampaiannya, Prof Arif Satria menekankan bahwa inovasi tidak hanya menjadi kebutuhan teknis, tetapi juga komitmen strategis bangsa.
“Inovasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, kita harus memperkuat ekosistem riset kita hari ini,” pungkasnya.
(Miftahul Jannah/Azhar)