Khutbah Jumat: Memaknai Syawal sebagai Bulan Peningkatan Ibadah
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Sobrun Jamili, S.Pd, Sekretaris 4 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
اَلسَّلامُ عَليْكُمْ
وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ
أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى وَطَاعَتِهِ بِاِمْتِثَالِ
أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ، وقَالَ اللّٰه تَعَالٰى: فَاسْتَقِمْ
كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
بَصِيْرٌ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan
kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT
dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang oleh
Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kita telah melewati bulan Ramadhan, bulan
penuh ampunan dan keberkahan. Kini kita akan menuju penghujung bulan Syawal
1447 H. Ada satu hal penting yang patut direnungkan bersama. Mari kita bertanya
pada diri sendiri: Apakah amal kita meningkat setelah Ramadhan, atau justru
menurun?
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu
mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Ketahuilah, bahwa ketakwaan bukanlah
amaliah yang bersifat musiman, bukan hanya pada bulan tertentu saja.
Ketakwaan harus terus dijaga hingga
akhir hayat kita.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah
mengatakan bahwa balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya, dan
balasan dari satu keburukan adalah keburukan setelahnya.
Artinya, jika Ramadhan kita baik, maka
tanda diterimanya adalah kita tetap istiqamah setelahnya. Syawal bukanlah
akhir, tapi sepatutnya dimaknai sebagai awal peningkatan.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai
Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Syawal juga merupakan bulan pembuktian.
Setelah sebulan penuh ditempa oleh ibadah di bulan Ramadhan, seorang Muslim
diuji apakah semangat kebaikan itu masih terus hidup atau perlahan memudar.
Di bulan Ramadhan, masjid-masjid dipenuhi
oleh kaum muslimin yang menjaga shalat berjamaah, lisan terbiasa basah dengan
tilawah Alquran, dan tangan begitu ringan untuk bersedekah. Namun, ketika
Ramadhan berlalu dan memasuki bulan Syawal, di situlah terlihat siapa yang
benar-benar menjaga hasil didikan Ramadhan.
Syawal seakan bertanya kepada setiap hati:
Apakah shalat berjamaah kita tetap terjaga seperti saat Ramadhan? Apakah
tilawah Alquran masih menjadi kebiasaan harian? Apakah sedekah masih mengalir
sebagaimana ketika hati begitu lembut di bulan puasa?
Sejatinya, keberhasilan Ramadhan tidak
hanya terlihat pada kesungguhan ibadah selama sebulan, tetapi pada kemampuan
mempertahankan kebaikan setelah Ramadhan berlalu. Itulah tanda bahwa Ramadhan
benar-benar meninggalkan bekas dalam hati dan kehidupan seorang hamba.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan puasa
enam hari di bulan Syawal. Beliau bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ
سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan
kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa sepanjang
tahun.” (HR Muslim)
Betapa besar rahmat Allah kepada umat
Islam. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan,
Allah masih membuka peluang pahala yang luar biasa melalui puasa enam hari di
bulan Syawal.
Dengan menunaikan puasa enam hari tersebut,
seorang muslim seakan mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun. Hal
ini karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat: puasa
Ramadhan setara dengan sepuluh bulan, sementara enam hari di Syawal setara
dengan dua bulan, sehingga genap seperti setahun penuh.
Semangat beribadah tidak seharusnya
berhenti setelah Ramadhan berakhir. Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi
tanda kesinambungan ketaatan, bukti bahwa seorang hamba tetap menjaga semangat
ibadahnya meskipun Ramadhan telah berlalu.
Ini adalah salah satu bentuk peningkatan
spiritual setelah Ramadhan. Masih ada tujuh hari kedepan waktu yang tersisa
dibulan Syawal ini, semoga Allah mudahkan kita semua untuk bisa
memaksimalkannya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagian ulama berkata bahwa barang siapa
yang amal kebaikannya setelah Ramadhan lebih baik daripada sebelumnya, maka itu
tanda diterima. Dan siapa yang kembali kepada maksiat, maka itu tanda kerugian.
Allah SWT mengingatkan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ
غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti
perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi
cerai-berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)
Allah mengajarkan agar manusia menjaga apa
yang telah dibangun dengan kebaikan; menjaga iman setelah mendapat hidayah,
menjaga persaudaraan setelah terjalin, serta menjaga janji dan amanah setelah
diikrarkan.
Seorang mukmin sejati tidak hanya berusaha
melakukan kebaikan, tetapi juga berusaha mempertahankan kebaikan itu hingga
akhir hidupnya. Ia tidak ingin amalnya runtuh karena kesalahan yang ia lakukan
sendiri.
Melalui ayat tadi, Allah mengingatkan kita
untuk selalu istiqamah, menjaga janji, dan mempertahankan amal saleh, agar
kehidupan tidak menjadi seperti benang yang telah dipintal kuat tetapi kemudian
diuraikan kembali menjadi sia-sia.
Jangan sampai kita rajin beribadah di bulan
Ramadhan, lalu kembali lalai setelahnya. Karena keistiqamahan kita dalam
melaksanakan ibadah dan amal kebaikan lainnya, melanjutkan semangat Ramadhan di
bulan Syawal adalah sebuah indikasi diterimanya amaliyah Ramadhan kita.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sesuai dengan artinya secara etimologis, Syawal adalah bulan peningkatan; peningkatan iman, peningkatan ibadah, peningkatan akhlak, peningkatan silaturahim dan peningkatan segala amal baik lainnya. Termasuk juga peningkatan terhadap tekad kita dalam menghindarkan diri
dari segala bentuk kemaksiatan.
Maka dipenghujung bulan Syawal ini, marilah
kita berusaha untuk:
1. Istiqamah dalam ibadah wajib. Jangan
sampai setelah Ramadhan shalat kita kembali lalai.
2. Menjaga amalan sunnah, seperti shalat sunnah, tilawah Alquran, puasa Syawal
dan puasa sunnah lainnya.
3. Melanjutkan kebiasaan sedekah secara rutin walau sedikit.
4. Berkumpul dengan orang-orang saleh, karena lingkungan sangat mempengaruhi
keimanan kita.
5. Menyambung tali silaturahim. Karena kita baru saja merayakan Idul Fitri,
mari jadikan momen saling memaafkan sebagai awal memperbaiki hubungan dengan
sesama, termasuk di dalamnya menjaga lidah dan akhlak dalam pergaulan.
6. Menjauhi maksiat karena tanda diterimanya amal adalah semakin menjauhnya
kita dari dosa
7. Dan segala bentuk amar ma’ruf nahi munkar sesuai tuntunan syariat agama kita,
agama Islam.
Dengan demikian, kita telah menjadikan
Syawal sebagai momentum untuk menjaga konsistensi ibadah dan meningkatkan
kualitas iman sebagai bukti bahwa kita adalah hamba yang istiqamah.
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ
تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Artinya: “Maka tetaplah engkau
(Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan
(juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas.
Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Hadirin yang Berbahagia,
Istiqamah, itulah inti peningkatan.
Istiqamah bukan hanya semangat beribadah pada waktu-waktu tertentu, tetapi juga kemampuan menjaga ketaatan secara terus-menerus dalam kehidupan. Tetap
menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta tidak tergoda untuk
menyimpang dari jalan yang lurus.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya
memulai kebaikan, tetapi juga menjaga dan mempertahankannya. Ia berusaha tetap
berada di jalan yang benar dalam setiap keadaan, hingga akhirnya menghadap
Allah dalam keadaan membawa iman dan amal saleh.
Semoga Allah menerima amal Ramadhan kita
dan memberi kekuatan untuk istiqamah hingga bertemu Ramadhan berikutnya.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى،
وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ
وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ
عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً
وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ
بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ
وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ