Ribuan Warga Hadiri Shalat Jenazah Tiga Muslim Korban Penembakan Masjid di San Diego
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Lebih dari 2.000 orang berkumpul di sebuah taman di San Diego, California, Amerika Serikat, untuk menghadiri shalat jenazah tiga pria Muslim yang gugur saat berupaya menghentikan serangan bersenjata di masjid terbesar di kota tersebut.
MUI Digital mengutip Aljazeera pada Kamis (23/5/2026), para pelayat yang hadir terdiri dari tokoh masyarakat, jamaah masjid, hingga aparat kepolisian berseragam.
Mereka melaksanakan shalat jenazah Islam atau Janazah untuk mengenang tiga korban, yakni, Amin Abdullah, Mansour Kaziha, dan Nadir Awad.
Ketiga jenazah dibaringkan di bawah kanopi putih dengan balutan kain penutup, sementara para pelayat mengumandangkan takbir dan doa bersama.
Imam Pusat Islam San Diego, Taha Hassane, mengatakan tragedi tersebut menjadi luka mendalam bagi komunitas Muslim, namun sekaligus menunjukkan keteguhan mereka menghadapi kebencian.
Baca juga: Laporan Ungkap Merosotnya Dukungan Penganut Kristen AS terhadap Israel
“Hari ini adalah pesan untuk semua orang: komunitas kami terluka, tetapi komunitas kami tetap kuat dan teguh,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak warga Muslim dari berbagai wilayah di Amerika Serikat datang untuk menghadiri prosesi pemakaman tersebut.
Serangan penembakan terjadi pada Senin siang saat aktivitas sekolah berlangsung di kompleks masjid. Polisi menyebut penembakan itu sedang diselidiki sebagai kemungkinan kejahatan kebencian.
Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengatakan pihaknya memperlakukan kasus tersebut sebagai serangan yang ditargetkan terhadap komunitas Muslim.
“Kami menganggap ini sebagai kejahatan kebencian sampai terbukti sebaliknya,” kata Kepala Kepolisian pada Jumat (22/5/2026).
Baca juga: WAMY Puji Upaya Arab Saudi Perkuat Bahasa Arab di Tingkat Global
Menurut polisi, tindakan cepat Amin Abdullah sebagai petugas keamanan diduga berhasil mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Saat baku tembak terjadi, ia sempat menggunakan radio komunikasi untuk memerintahkan penguncian seluruh area masjid dan sekolah dasar yang berada di kompleks tersebut.
Langkah itu memberi waktu bagi sekitar 140 siswa dan staf untuk berlindung di ruang kelas dan lemari penyimpanan.
Sementara itu, Nadir Awad dan Mansour Kaziha disebut berlari menuju lokasi setelah mendengar suara tembakan untuk membantu para jamaah di masjid. Ketiganya kemudian meninggal akibat luka tembak.
Polisi menyatakan dua tersangka remaja melarikan diri usai serangan sebelum akhirnya ditemukan tewas akibat luka tembak yang mereka lakukan sendiri.
Putra Amin Abdullah, Khaled Abdullah, mengatakan keluarganya merasa bangga atas keberanian ayahnya yang wafat saat melindungi orang lain.
“Fakta bahwa dia berada di garis depan, mencoba membela anak-anak dan orang-orang tidak bersalah, membuat saya bangga. Menyebutnya pahlawan adalah hal terkecil yang bisa kami lakukan,” ujarnya kepada Reuters.
Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran meningkatnya Islamofobia di Amerika Serikat, terutama setelah serangkaian insiden kebencian terhadap komunitas Muslim dalam beberapa tahun terakhir.