Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Inovasi dan Digitilasi Kunci Adaptasi Pesantren di Era Digital

2 menit baca 613 dibaca
Basnang
Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Basnang Said. Foto: Miftah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Basnang Said, menilai pesantren perlu mulai menyesuaikan pola pembelajaran dengan karakter generasi digital saat ini tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren.

Hal tersebut disampaikan  seusai kegiatan Short Course Kurikulum Pesantren yang digelar Komisi Pesantren MUI di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Kiai Basnang, santri masa kini memiliki pola belajar yang berbeda dibanding generasi terdahulu sehingga metode pembelajaran di pesantren perlu terus beradaptasi.

“Anak-anak yang belajar di pesantren hari ini tentu berbeda dengan masa dulu yang masih serba konvensional. Karena itu inovasi dalam pembelajaran menjadi penting,” ujarnya.

Dia mengatakan pembelajaran di pesantren saat ini tidak lagi cukup hanya menggunakan metode klasik, tetapi perlu didukung teknologi yang mampu membantu santri memahami materi secara lebih cepat dan interaktif.

Baca juga: Gandeng Tiga Kementerian, Inkopontren Tingkatkan Kualitas SDM dan Inkubasi Bisnis Pesantren

Kiai Basnang mencontohkan penggunaan media visual seperti layar digital di ruang belajar untuk membantu para kiai menjelaskan materi secara lebih konkret.

“Saya membayangkan di dalam kelas atau masjid ada layar besar, lalu ketika kiai menjelaskan satu pembahasan ada contoh-contoh yang bisa langsung ditampilkan,” katanya.

Selain itu, dia juga menilai digitalisasi kitab kuning dan materi pembelajaran menjadi salah satu kebutuhan pesantren di era modern.

Baca juga: Gandeng Tiga Kementerian, Inkopontren Tingkatkan Kualitas SDM dan Inkubasi Bisnis Pesantren

Meski demikian, dia menegaskan pesantren tetap harus menjaga tradisi dan budaya keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren.

“Tradisi tetap dijaga, tetapi metode penyampaiannya perlu disesuaikan dengan kondisi anak-anak hari ini,” ungkapnya.

Kiai Basnang berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam mendorong pengembangan sistem pendidikan pesantren yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi masa depan.