Sosok Ulama Rendah Hati, Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Prof Hamim Ilyas Tutup Usia
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, keluarga besar Muhammadiyah kehilangan dan berduka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Hamim Ilyas, pada Sabtu (23/5) sekitar pukul 01.40 WIB di RSA UGM, Yogyakarta.
Almarhum sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut selama kurang lebih sepuluh hari. Setelah sempat pulang, kondisi almarhum kembali menurun dan dirawat lagi sejak Rabu (20/5).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir, mengatakan bahwa Muhammadiyah kehilangan sosok ulama, intelektual, sekaligus cendekiawan Muslim yang dikenal alim, teduh, dan rendah hati.
Pemikiran almarhum tentang Tauhid Rahamutiyah menjadi salah satu gagasan penting dalam pengembangan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah.
Tauhid Rahamutiyah merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah Swt Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang.
Baca juga: MUI Hormati Fatwa Muhammadiyah Soal Bolehnya Penyembelihan Dam di Tanah Air
“Gagasan yang dipopulerkan Prof Hamim Ilyas tersebut menempatkan kasih sayang transformatif sebagai inti keimanan dan amal saleh,” kata Haedar dikutip MUI Digital dalam laman resmi Muhamadiyah, pada Sabtu (23/5/2026).
Dalam pandangan ini, seluruh ciptaan dan syariat Allah ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia.
Karena itu, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran konseptual dan ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.
“Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di jannatun na’im,”ucap Haedar.
Baca juga: Laporan Ungkap Merosotnya Dukungan Penganut Kristen AS terhadap Israel
Haedar juga mengatakan bahwa saat menjenguk almarhum bersama Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan Gamping, dr Komar dan dr Faisol, pada Kamis (21/5/2026), kondisi beliau sudah tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung.
“Semua sudah berikhtiar, tetapi Allah telah menentukan ajalnya. Kita mesti melepas beliau dengan ikhlas,”kata dia Haedar.
Haedar juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini.