Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Qana’ah dalam Perjuangan dan Kepasrahan

5 menit baca 6.830 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Qana’ah dalam Perjuangan dan Kepasrahan
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Oleh: Dr Ahmad Afif, M.EI, CWC, Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ وَعِتْقِ الرِّقَابِ مِنَ النِّيرَانِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْقَائِلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي قَالَ وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin yang Berbahagia,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat-Nya, kita masih diberikan sabar dalam melewati segala cobaan akhir zaman.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW yang berhasil membawa umatnya dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan cahaya islami.

Melalui mimbat Jumat ini, khatib berpesan kepada diri sendiri dan juga kepada hadirin sekalian bahwa akar rumput dari kerakusan dan keserakahan adalah kurang qana’ah dalam bersikap.

Oleh karenanya, di momen menghadapi bulan Idul Qurban dan haji ke depan, kita perlu mempersiapkan hati dan jati diri agar supaya dapat mengisi bulan tersebut dengan penuh qana’ah agar menjadi hamba yang pemurah.

Hadirin Hafidzakumullah,

Seorang ulama tersohor pada abad 5 Hijriah/11 Masehi bernama Imam Al-Ghazali (1058–1111 M), atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Tusi, berhasil membukakan jalan bagi para ahli fiqih, filsuf, dan sufi agar dapat mencerna ajaran agama melalui ketiganya.

Julukan Hujjatul Islam (pembela Islam) menjadi superior manakala syariat terkadang sulit didapati dengan kombinasi akhlak maupun aqidah.

Dalam karyanya yang tertuang dalam kitab Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) jilid 3 dijelaskan bahwa obat dari hati yang rakus dan serakah—karena rezeki tak akan ke mana dan salah ke alamat tujuan pengiriman oleh malaikat Mikail, tidak lain adalah qana’ah.

Allah berfirman dalam kitab suci Alquran surat Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfudh).”

Terkadang takutnya tidak kebagian rezeki itulah yang membuat terkadang manusia lupa diri sehingga apa pun akan diterobos tanpa mempunyai tujuan yang maslahah.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menyinggung hal itu:

ثلاثٌ مُهلِكاتٌ، وثلاثٌ مُنجِياتٌ، وثلاثٌ كفَّارَاتٌ، وثلاثٌ دَرَجاتٌ. فأمّا المهلِكاتُ : فشُحٌّ مُطاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإِعجابُ المرْءِ بنفْسِهِ. وأمّا المنْجياتُ : فالعدْلُ في الغضَبِ والرِّضا، والقصْدُ في الفقْرِ والغِنى، وخشيةُ اللهِ تعالَى في السِّرِّ والعلانيةِ. وأمّا الكفَّاراتُ : فانْتظارُ الصلاةِ بعدَ الصلاةِ، وإسْباغُ الوُضوءِ في السَّبَرَاتِ ، ونقلُ الأقدامِ إلى الجماعاتِ. و أمّا الدَّرجاتُ : فإطْعامُ الطعامِ، و إفْشاءُ السلامِ، و الصلاةُ بالليلِ و الناسُ نِيامٌ

Artinya: “Ada tiga perkara yang membinasakan, tiga perkara yang menyelamatkan, tiga perkara yang menjadi penghapus dosa, dan tiga perkara yang meninggikan derajat. Adapun yang membinasakan adalah: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Adapun yang menyelamatkan adalah: bersikap adil dalam keadaan marah maupun ridha, bersikap pertengahan dalam keadaan miskin maupun kaya, serta rasa takut kepada Allah Ta‘ala dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Adapun yang menjadi penghapus dosa adalah: menunggu shalat setelah shalat, menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang berat (seperti dingin), dan melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah. Adapun yang meninggikan derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, serta melaksanakan shalat di malam hari ketika manusia sedang tidur.” (HR Thabrani)

Hadirin yang Berbahagia,

Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan bulan berbagi dengan sesama dan bertamu ke Baitullah, “rumah” Allah SWT yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh corak umat manusia dari ujung belahan dunia Timur-Barat, Utara-Selatan dan selalu akan ramai pada bulan Dzulhijjah.

Di Indonesia, orang rela antre daftar haji puluhan tahun untuk dapat berkunjung ke sana. Saking dahsyatnya, penjual asongan bisa naik haji.

Logikanya, dengan penghasilan pas-pasan kok bisa ya naik haji dengan istitho’ah (kemampuan) finansial yang tidak sedikit. Belum lagi dengan keadaan ekonomi yang semakin tidak terkendali, yang membuat sejumlah tantangan pendapatan kian tak terukur.

Selain itu, masih ada yang ajib lagi, seorang takmir masjid tiba-tiba dapat hadiah haji dari hamba Allah SWT. Begitulah segala sesuatu dapat terjadi dalam momen ibadah haji.

Allah berfirman dalam surat Thalaq ayat 2:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Namun, tidak sedikit yang berucap, “Kalau memang sudah dipanggil ke Baitullah, pasti akan berangkat.” Hal ini bisa dinilai sebagai sebuah rasa qana’ah yang terpatri dalam jiwa seorang muslim.

Hadirin yang Berbahagia,

Idul Adha merupakan sarana berbagi dalam agama Islam. Cerita turunnya perintah qurban ini secara tersurat terdapat dalam surat Al-Hajj ayat 34 dan 35:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.”

Dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 99-111, telah gamblang dijelaskan dengan shorih bahwa kisah Nabi Ibrahim yang saat itu ingin menyembelih anaknya, Nabi Ismail, telah membuat kisah ini menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban itu sendiri.

Dengan adanya peristiwa tersebut, sampai sekarang berqurban disunnahkan bagi umat Islam yang mampu. Lalu dagingnya didistribusikan dalam keadaan mentah agar supaya selera umat dapat menyesuaikan dengan bahan yang siap diolah sebagaimana selera masing-masing.

Hadirin yang Dirahmati Allah,

Di saat umat Islam diuji dengan keadaan global yang tidak menentu, kita semua dituntut agar selalu qana’ah dalam segala keadaan.

Qana’ah adalah sikap hati yang rela menerima, merasa cukup, dan bersyukur atas hasil usaha serta rezeki yang diberikan Allah SWT, tanpa tamak atau iri dan dengki atas milik orang lain.

Sifat ini mencakup sabar, bertawakkal, dan ikhlas atas ketentuan-Nya, yang mendatangkan ketenangan batin.

Dengan akan datangnya Idul Adha sebagai bulan qurban dan haji, Allah melebihkan momentum qana’ah kita dengan sebuah dahaga Lebaran yang akan menyajikan daging segar di seluruh penjuru.

Sedangkan haji banyak mengorbankan kerelaan dan kepasrahan bagi umat Islam yang merindukan Baitullah dalam prosesi manasik setiap setahun sekali.

Semoga kita dapat menelaah dan melatih diri menjadi hamba yang qana’ah dengan cara syukur dan sabar. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.