Oleh: KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupate Mojokerto
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُوْلَى وَالْآخِرَةِ، أَحْمَدُهُ
وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
هَدَى بِإِذْنِ رَبِّهِ الْقُلُوْبَ الْحَائِرَةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ نُجُوْمِ الدُّجَى وَالْبُدُوْرِ
السَّافِرَةِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ
فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ (وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ
وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا. وَلَا تَمۡشِ
فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ
طُولٗا. كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُۥ عِندَ رَبِّكَ مَكۡرُوهٗا)
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Tiada kata yang
pantas menghiasi bibir kita di hari yang mulia ini selain lantunan pujian
kepada Allah SWT, teriring dengan shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah SAW.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Pada ayat-ayat yang
telah saya baca, ditegaskan bahwa seseorang akan dihisab (dimintai
pertanggungjawaban) atas pendengaran, penglihatan dan hatinya sebagaimana ia
akan dihisab atas seluruh anggota badannya. Karena hati adalah pemimpin anggota
badan, maka perbuatan-perbuatan anggota badan mencerminkan apa yang ada di
hati.
Jika hati baik, maka anggota badan menjadi baik, dan jika hati rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Hati tidak akan menjadi baik kecuali ketika bersih dari
penyakit-penyakit dan disembuhkan dari penyakit-penyakit tersebut.
Di antara penyakit hati yang dilarang,
sebagaimana terdapat dalam ayat 37 surat Al-Isra’, adalah bersikap
takabur terhadap hamba-hamba Allah.
Jangan sampai kita berjalan dengan gaya
jalan penuh dengan kesombongan, karena kita tidak akan menembus bumi dengan injakan dan
kuatnya pijakan kaki kita.
Kita juga tidak akan mencapai ketinggian gunung dengan
kesombongan kita dan tidak akan menyamai kekuatan dan kekokohan gunung tersebut.
Hadirin Jamaah
Shalat Jumat Rahimakumullah,
Adapun pengertian takabur adalah seperti yang
ditegaskan oleh Nabi SAW. Beliau bersabda:
الكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang
lain.” (HR Muslim)
Berdasarkan hadis
ini, dipahami bahwa orang yang takabur ada dua macam:
Pertama, seseorang yang menolak kebenaran yang disampaikan orang lain, padahal ia tahu bahwa kebenaran ada pada orang tersebut.
Ia menolaknya
karena orang yang menyampaikan kebenaran itu lebih muda darinya atau lebih
rendah kedudukannya, sehingga ia merasa berat untuk mengikuti kebenaran itu.
Padahal, ketahuilah, bahwa Fir’aun tidaklah binasa kecuali karena sifat
takaburnya.
Fir’aun telah
melihat sekian banyak mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam, namun ia tidak
beriman kepada Nabi Musa. Bahkan Haman, perdana menteri Fir’aun, ketika itu berkata kepada Fir’aun: “Jika engkau beriman kepada Musa, maka engkau akan
kembali menjadi hamba yang menyembah, padahal selama ini engkau sudah menjadi
tuhan yang disembah.”
Demikian pula Bani
Israel, yang mana diutus kepada mereka Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah mereka melihat mukjizat Nabi Isa, tidak ada yang membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur. Mereka selalu mengatakan bahwa jika mereka
beriman, maka akan lenyaplah kehormatan dan kekuasaan mereka.
Demikian pula Abu
Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy. Setelah mereka melihat mukjizat Alquran
dan mengakui bahwa Alquran tidak seperti puisi dan prosa yang mereka kenal,
tidak ada yang membinasakan mereka dan membuat mereka tidak beriman kecuali
sifat takabur.
Kedua, jenis orang takabur yang menganggap
dirinya memiliki keistimewaan yang melebihi orang lain. Ia melihat dirinya
dengan pandangan kesempurnaan dan penuh kebaikan. Ia lupa bahwa itu semua
sejatinya adalah pemberian Allah kepadanya.
Dengan kelebihan
itu, ia lalu bersikap congkak kepada sesama hamba Allah dan merendahkan mereka,
karena menurutnya, ia jauh lebih tinggi martabatnya, lebih banyak hartanya atau
lebih tampan daripada mereka, yang jelas merasa lebih baik daripada yang lainnya.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Merendahkan orang
lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya dan penguasa saja. Sebaliknya, bisa juga dilakukan oleh siapa pun.
Seorang suami
bisa saja menganggap istrinya tidak memahami suatu persoalan, sehingga dia
merendahkan istrinya dalam hatinya dan berperilaku sombong kepadanya tanpa ia
sadari.
Seorang ayah bisa
saja menganggap anaknya lebih rendah darinya dalam pengetahuan dan pengalaman,
sehingga ia merendahkan anaknya dalam hatinya tanpa ia sadari.
Seorang guru bisa
saja menganggap murid-muridnya berada di bawahnya dalam hal ilmu dan pemahaman,
sehingga ia merendahkan mereka dalam hatinya tanpa ia sadari.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Allah telah
melarang sifat takabur terhadap sesama hamba. Saat mengisahkan nasihat Lukman
kepada anaknya, Allah SWT berfirman:
وَلَا تُصَعِّرۡ
خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ
كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُور
Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu
dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat
membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Makna ayat ini bisa diperluas: janganlah kita berpaling dari orang-orang di sekitar kita
dengan bersikap sombong. Menghadaplah kepada mereka dengan muka seutuhnya. Jangan
hadapkan kepada mereka separuh bagian muka dan pipi layaknya yang dilakukan
oleh orang-orang congkak dan sombong. Jangan berjalan dengan gaya jalan yang
penuh kesombongan, kecongkakan dan rasa bangga diri. Sebab yang demikian ini benar-benar
dimurkai Allah.
Hadirin
yang Berbahagia,
Virus takabur ini
jangan sampai menyerang hati kita. Virus takabur ini jangan sampai merusak hati
kita. Marilah kita berintrospeksi, kita teliti hati kita masing-masing.
Jika telah muncul
sedikit saja virus menyombongkan harta pada hati kita, hendaklah kita mengingat
Qarun. Sosok hartawan yang mana kunci gudang-gudang tempat penyimpanan
hartanya, baru bisa diangkat oleh sejumlah orang yang berbadan kuat. Tapi
bukankah ia dan seluruh hartanya dibenamkan ke dalam bumi? Kesombongannya tidak
dapat menyelamatkannya.
Jika dalam hati
kita telah muncul sedikit saja virus membanggakan kekuasaan dan jabatan yang
kita miliki, hendaklah kita renungkan kisah Fir’aun. Soso yang pada akhir
hayatnya tenggelam dan binasa di dalam air dan tidak bermanfaat baginya
kerajaan dan pasukan-pasukannya.
Begitu juga, apakah
pantas kita membanggakan kekuatan? Tentu jawabannya adalah tidak. Karena sakit
gigi saja akan membuat kita terbaring tidak berdaya di tempat tidur.
Apakah pantas
kita membanggakan ilmu yang kita kuasai? Tidak. Sungguh ilmu yang kita miliki
bukanlah berasal dari diri kita pribadi, melainkan anugerah dari Allah SWT dan
tidak bisa terlepas juga dari hasil jerih payah para ulama sebelum kita.
Hadirin, kita
sama sekali tidak pantas menyombongkan dan membanggakan diri kita, karena pada
hakikatnya permulaan diri kita adalah air mani yang menjijikkan dan akhir diri
kita adalah seonggok bangkai.
Sekuat apa pun,
sehebat apa pun, sekaya apa pun, sekuasa apa pun, setinggi apa pun jabatan
seseorang, suatu saat nanti pasti ia akan dikalahkan oleh kematian.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Seseorang yang selalu memantau dan mengawasi hatinya serta terus-menerus berusaha untuk menghindarkannya dari virus takabur, maka ia akan meyakini bahwa kecerdasan, ilmu, harta dan jabatannya, sejatinya tidak berasal dari dirinya. Semua ini tidak lain adalah karunia yang Allah anugerahkan kepada
dirinya. Karenanya, hendaklah ia bersyukur kepada Allah, tetap berlaku mengasihi
orang yang di bawahnya dan hendaknya bersikap tawadhu’ (rendah hati), karena
tawadhu’ termasuk di antara jenis ibadah yang paling utama.
Dalam kitab Al-Amali al-Muthlaqah, Ibnu
Hajar al-Asqolani menyertakan satu riwayat hadis dari Sayyidah ‘Aisyah, yang
menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:
إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُوْنَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ التَّوَاضُع
Artinya: “Sungguh
kalian telah melalaikan salah satu bentuk ibadah yang paling utama, yaitu
tawadhu’ (bersikap rendah hati).”
Nabi mengatakan
demikian, tiada lain karena banyaknya orang yang terserang virus takabur.
Seandainya semua orang bersikap rendah hati, niscaya akan sirna dari
tengah-tengah mereka sekian banyak kebencian dan permusuhan, akan hilang rasa
iri dan dengki. Mereka akan terhindar dari lelahnya persaingan, upaya
bermegah-megahan dan saling membanggakan diri, dan mereka akan menikmati apa
yang telah Allah karuniakan untuk mereka.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Demikian khutbah
pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga hati kita dibersihkan dan
dijauhkan oleh Allah SWT dari virus takabur. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ
وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى
ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ
وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ
وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا
خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ