Lewati ke konten utama
Rabu, 12 Agustus 2026 / 28 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Google Ads
Berita

Soal Challenge Ad-Dhuha untuk Miras, MUI Ingatkan Sakralitas Kitab Suci

3 menit baca 91 dibaca
Prof Niam
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Miftah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara menanggapi aksi promosi minuman keras (miras) berkedok challenge hafalan Alquran yang viral di media sosial. MUI mengingatkan kesucian kitab suci umat Islam tidak boleh direndahkan hanya demi kepentingan pemasaran.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengecam keras penggunaan ayat-ayat Alquran sebagai materi promosi produk beralkohol. 

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini mengingatkan bahwa Alquran adalah Kalamullah yang wajib dijaga kehormatannya.

“Alquran adalah kalamullah,  kitab suci. Membacanya merupakan bentuk ibadah. Sementara minuman keras adalah jenis minuman yang diharamkan dalam Alquran,” ujar Prof Niam kepada MUI Digital, di Jakarta, Kamis 

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menilai, langkah pelaku usaha yang menyandingkan pembacaan surah Alquran dengan imbalan sebotol miras merupakan tindakan melampaui batas yang merusak nilai-nilai kesucian agama.

“Membuat gimik membaca Alquran dengan iming-iming hadiah minuman keras adalah bentuk perendahan kesucian Alquran,” tegasnya. 

Baca juga: Sebut Istilah LGBT Kamuflatif dan Manipulatif, Ketua MUI Usul Diganti Saja Jadi LGSP

Ketua Umum Majelis Alumni IPNU ini meminta pihak-pihak yang terlibat untuk bertanggung jawab atas tindakan yang dinilai melanggar etika keagamaan, moral, dan hukum tersebut.

Sebelumnya, geger di media sosial setelah pemilik akun Threads @JARRKOJARR mengunggah temuan di festival musik The Sound Project. 

Dalam unggahan yang viral tersebut, sebuah booth merek minuman New Port menggelar tantangan menghafal Surah Ad-Duha dengan imbalan sebotol miras, yang memicu kritik luas dari masyarakat karena dianggap cermin ketiadaan adab dan etika.

Sementara itu, pihak penyelenggara The Sounds Project menyampaikan pernyataan resmi melalui akun Instagram @thesoundsproject pada Selasa (11/8/2026) merespons promosi miras menggunakan challenge membaca surat Ad-Dhuha. 

Kasus ini bermula ketika unggahan sebuah akun Threads bernama @JARRKOJARR mendadak tular di media sosial. Akun tersebut membagikan pengalamannya saat mendatangi festival musik The Sounds Project pada 9 Agustus 2026. 

Dalam unggahannya, terlihat sebuah booth produk minuman beralkohol, Newport, yang menggelar gimik promosi berupa tantangan menghafal Surat Ad-Dhuha dengan imbalan hadiah sebotol miras.

Baca juga: Tanggapi Sikap MUI Soal LGBT, Mahfud MD Minta Minta Perkuat Narasi dan Kesepakatan Nasional

Aksi promosi tersebut langsung memicu reaksi keras dan kecaman luas dari warganet yang menilai pihak penyelenggara dan sponsor tidak memiliki adab serta etika dalam membuat konten pemasaran. 

Pihak Sounds Project menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan sepenuhnya di luar pengetahuan, arahan, maupun persetujuan panitia.

“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi dalam bentuk apa pun,” tulis pernyataan resmi manajemen The Sounds Project, dikutip MUI Digital, Selasa (11/8/2026).

Panitia menjelaskan bahwa mereka membutuhkan waktu sebelum merilis pernyataan resmi demi mengumpulkan bukti serta memastikan kronologi kejadian secara jujur dan akurat. 

Baca juga: Berkaca dari Rusia, Mahfud Sebut Pemidanaan LGBT Bisa Berlaku dengan Syarat...

Sounds Project menegaskan komitmennya untuk tidak menoleransi segala bentuk penistaan agama atau tindakan yang menyinggung isu SARA di area acara mereka.

Sebagai langkah konkret, penyelenggara telah menegur keras pihak sponsor Newport dan menuntut mereka menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. 

Sounds Project juga melakukan pengawalan ketat agar oknum yang terlibat langsung dalam insiden ini segera diidentifikasi untuk dipertanggungjawabkan secara penuh. 

Selain itu, evaluasi internal secara menyeluruh kini tengah dijalankan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. 

Google Ads
Google Ads