Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, MA
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Jika ribuan pesantren bergerak serentak membangun usaha, koperasi, wakaf produktif, dan pelatihan santri, maka umat tidak hanya selamat dari tekanan ekonomi, tetapi juga bisa bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru Indonesia.
Di tengah tekanan ekonomi global dan
domestik, Indonesia sedang memasuki fase yang tidak ringan. Nilai tukar rupiah
tertekan, harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja formal tidak tumbuh
secepat kebutuhan angkatan kerja.
Utang rumah tangga melalui pinjaman online
meningkat, dan kelas menengah mulai tergerus daya belinya. Situasi ini, jika dibiarkan, akan melahirkan jurang sosial yang semakin lebar: segelintir kelompok sangat kaya dan mayoritas masyarakat rentan miskin.
Dalam konteks seperti ini, umat Islam tidak cukup hanya menjadi penonton keadaan. Diperlukan ikhtiar nyata berbasis nilai, kelembagaan, dan gerakan ekonomi yang kuat. Di sinilah ekonomi syariah dan pesantren memiliki peran strategis. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi rakyat.
Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal
Salah satu problem utama masyarakat hari
ini adalah pola ekonomi konsumtif berbasis utang. Banyak keluarga bertahan
hidup dengan cicilan, paylater, kartu kredit, hingga pinjaman online.
Pendapatan habis sebelum bulan berganti. Dan ketika ada musibah sakit atau
kehilangan pekerjaan, ekonomi rumah tangga langsung runtuh.
Dalam perspektif ekonomi Islam, sistem
ekonomi yang terlalu bertumpu pada utang konsumtif adalah tanda rapuhnya
struktur kesejahteraan. Islam menekankan produktivitas, keadilan distribusi,
dan larangan eksploitasi finansial. Karena itu, solusi tidak cukup dengan
bantuan tunai sesaat, tetapi harus membangun sistem ekonomi yang sehat dan
berkelanjutan.
Indonesia memiliki ribuan pesantren dengan
jutaan santri, jaringan alumni luas, basis sosial kuat, dan kepercayaan
masyarakat tinggi. Ini adalah modal besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Jika dikelola serius, pesantren bisa menjadi episentrum kebangkitan ekonomi
rakyat.