Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pengulangan perintah “Iqra’” (Bacalah) sebanyak dua kali dalam fase awal surat Al-‘Alaq bukan sekadar pengulangan biasa tanpa maksud, melainkan sebuah pesan teologis yang menguatkan urgensi literasi dalam Islam.
Penekanan
perintah membaca memberikan isyarat epistemologis yang tegas bahwa eksistensi
sebuah peradaban tidaklah bertumpu pada akumulasi kekayaan material maupun
dominasi kekuatan pertahanan fisik, melainkan pada penguasaan ilmu pengetahuan.
Penegasan ini menggeser paradigma peradaban dari supremasi militeristik dan ekonomi menuju supremasi intelektual yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan.
Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Melalui surat Al-‘Alaq,
aktivitas membaca dan riset diposisikan sebagai pilar strategis yang
memungkinkan suatu umat untuk melakukan lompatan kualitas guna menjadi peradaban
yang mandiri, berwibawa, dan berpengaruh di panggung sejarah dunia.
Imam al-Maraghi (wafat 1371 H) menjelaskan bahwa kata iqra’ yang kedua dalam ayat ketiga dari surat Al-‘Alaq bermakna: “Lakukan apa yang telah Aku perintahkan, yaitu membaca.” Menurutnya, pengulangan fi'il amar
atau kata perintah dalam satu surat ini tidak lain karena suatu bacaan
tidak akan mendatangkan ilmu kecuali dengan diulang-ulang.
Pengulangan
perintah Tuhan tersebut konteksnya adalah pengulangan objek yang dibaca. Dengan begitu, kemampuan membaca, atau dalam konteks sekarang identik dengan istilah literasi, menjadi kemampuan alamiah Nabi SAW.