Islam tak Berhenti pada Simbol
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di Indonesia, kita masih sering menyaksikan perdebatan tentang pemisahan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu dibenturkan. Agama di satu sisi dan budaya di sisi lain. Seolah-olah jika seseorang ingin menjadi muslim yang baik, ia harus meninggalkan seni, tradisi, atau ekspresi lokal.
Sebaliknya, jika
seseorang terlalu mencintai budaya, orang mulai bertanya-tanya tentang
ketauhidan yang ia genggam.
Saya teringat pada
sebuah pernyataan jenius yang pernah diartikulasikan oleh Almarhum Abdullah
Wong, pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama
yang lama bergumul dengan dunia kesenian dan tasawuf. Ia pernah mengatakan
bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya seorang rasul pembawa risalah, tetapi juga
seorang budayawan.
Bagi Penderi Padepokan Umah Suwung ini, kebudayaan bukan sekadar tari-tarian, pakaian, atau upacara adat. Kebudayaan adalah cara manusia memanusiakan manusia lain itu sendiri. Cara seseorang menjaga adab, menyapa sesama, menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, dan menegakkan tauhid dalam setiap gerak kehidupan, seluruhnya merupakan kebudayaan.
Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad
Jika begitu
pengertiannya, maka kebudayaan sesungguhnya tempat agama bernapas. Sayangnya,
kita sering berhenti di permukaan. Kita sibuk memeriksa simbol. Kopiah, jubah,
celana, sarung, polos atau batik. Seolah-olah keimanan seseorang bisa diukur
dari potongan kain yang ia kenakan.
Pada Selasa,
14/04/2026, dalam sebuah diskusi bersama komunitas Lingkar Filologi Ciputat
(LFC) dan Sobat Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa), Prof Oman
Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Jakarta, bercerita terkait simbol dan substansi.
Ia sengaja tidak
selalu memakai kopiah dalam beberapa kesempatan. Kadang ia mengenakan batik
Banyuwangi, kadang ikat kepala Paseban dari Kuningan, kadang berpakaian seperti
orang kebanyakan.