Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Kajian Tafsir

Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad

8 menit baca 2.677 dibaca
Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Dalam beberapa waktu terakhir, dunia menyaksikan bagaimana Iran menunjukkan sikap keras dan keberanian politik dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap sekadar dinamika geopolitik. Namun, jika ditarik ke akar sejarah yang lebih dalam, kita akan menemukan bahwa bangsa Iran merupakan kelanjutan dari bangsa Persia. Wilayah geografis dan sosiokultural Iran menunjukkan hal itu. Kota-kota seperti Shiraz, Naishabur Tabriz, dan Isfahan, terkenal sejak dulu melahirkan banyak cendekiawan terkemuka.

Bangsa Persia merupakan sebuah bangsa yang sejak dahulu dikenal identik dengan karakter kuat, daya tahan tinggi, dan keteguhan dalam menjaga kehormatan dan prinsip hidupnya.

Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran

Dalam lintasan sejarah Islam, sosok bangsa Persia yang paling menonjol adalah Salman al-Farisi. Bukan sekadar sahabat biasa, Salman adalah seorang pencari kebenaran yang menempuh perjalanan panjang lintas agama hingga akhirnya menemukan Islam.

Lebih dari itu, Salman dikenal sebagai ahli strategi perang, yang mengusulkan penggalian parit dalam Perang Khandaq atau yang dikenal dengan Perang Ahzab, yang mana kafir Quraisy, berkoalisi dengan kaum Yahudi dari berbagai kabilah yang memusuhi Nabi.

Kemenangan perang tersebut memang sepenuhnya adalah anugerah dari Allah. Tapi hal ini tidak bisa terlepas dari strategi cerdas Salman dalam membuat parit, yang disetujui oleh Nabi. Dan strategi perang ini bisa dilihat sebagai wasilah dalam menyelamatkan kaum muslimin.

Sosok Salman al-Farisi yang cerdas dan teguh pendiriannya ini dinilai merepresentasikan karakter tangguh bangsa Persia. Menariknya, keteguhan bangsa Persia bahkan pernah disinggung langsung oleh Nabi SAW dalam sabdanya:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.” (HR Tirmidzi)

Jika dilihat dari teks lengkapnya, maka didapati bahwa hadis ini berkaitan dengan ayat 38 dalam surat Muhammad. Dalam Sunan at-Timidzi, redaksi hadis selengkapnya seperti berikut:

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ ذَكَرَ اللهُ إِنْ تَوَلَّيْنَا اسْتُبْدِلُوا بِنَا ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَنَا؟ قَالَوَكَانَ سَلْمَانُ بِجَنْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخِذَ سَلْمَانَ قَالَ: هَذَا وَأَصْحَابُهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Sejumlah sahabat Rasulullah SAW bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang disebut oleh Allah—bahwa jika kami berpaling, mereka akan menggantikan kami, dan mereka tidak akan seperti kami?’ Saat itu, Salman al-Farisi berada di samping Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW menepuk paha Salman seraya bersabda: ‘Orang ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.’”

Selain redaksi hadis ini, Imam at-Tirmidzi juga menyebutkan redaksi lain yang mirip substansinya, yakni sebagai berikut:

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَوْمًا هَذِهِ الْآيَةَ (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) قَالُوا: وَمَنْ يُسْتَبْدَلُ بِنَا؟ قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى مَنْكِبِ سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَهَذَا وَقَوْمُهُ، هَذَا وَقَوْمُهُ.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW membaca ayat ini: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian.’ (QS. Muhammad: 38). Lalu para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang akan menggantikan kami?’ Kemudian Rasulullah SAW menepuk pundak Salman al-Farisi seraya bersabda: ‘Orang ini dan kaumnya, orang ini dan kaumnya.’”

Tapi Imam at-Tirmidzi mengungkapkan bahwa status hadis ini adalah ‘gharib’ atau aneh, sebab ditemukan kejanggalan sanad periwayatnya. Namun demikian, jika ditelusuri lebih jauh, hadis ini juga ada kemiripan redaksinya dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga bisa dijadikan landasan argumentasi.

Baca juga: Perang Iran, Antara Narasi Armageddon dan Tanda Akhir Zaman

Dalam Shahih Bukhari disebutkan hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ—صلى الله عليه وسلم، فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْجُمُعَةِ (وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ) قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلَاثًا، وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَضَعَ رَسُولُ اللهِ—صلى الله عليه وسلم— يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَلَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ، أَوْ رَجُلٌ، مِنْ هَؤُلَاءِ

“Kami sedang duduk bersama Nabi SAW, lalu diturunkan kepada beliau surat Al-Jumu‘ah: ‘Dan (Dia mengutus-Nya juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum bergabung dengan mereka.’ (QS. Al-Jumu‘ah: 3). Aku berkata: ‘Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?’ Namun beliau tidak menjawabku hingga aku bertanya sebanyak tiga kali. Sementara di tengah kami ada Salman al-Farisi. Lalu Rasulullah SAW meletakkan tangannya di atas Salman, kemudian bersabda: ‘Seandainya iman itu berada di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang—atau seorang laki-laki—dari golongan ini.’”

Di sini terdapat sedikit perbedaan, tetapi hakikatnya saling berkaitan. Dalam Sunan at-Tirmidzi, Rasulullah menyinggung satu kaum, yakni kaumnya Salman al-Farisi, yang digambarkan dengan keteguhan iman setelah membaca surat Muhammad ayat 38, sedangkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah bersabda mengenai keteguhan iman Salman dan kaumnya ketika diturunkannya surat Al-Jum’ah ayat 3.

Terkait dua ayat yang berbeda tersebut, dapat ditemukan titik temu keterkaitannya, yakni bahwa Nabi SAW memang diutus untuk semua umat manusia, kaum Arab maupun Ajam (selain Arab).

Lalu ditegaskan dalam surat Muhammad ayat 38, bahwa jika pengikut Nabi dari kaum Arab itu berpaling, maka akan digantikan oleh suatu kaum yang teguh imannya, tidak seperti sebelumnya. Di sini kemudian ditegaskan, bahwa kaum yang dimaksud, sebagaimana terdapat dalam riwayat hadis di atas, tidak lain adalah kaum Ajam, dan secara spesifik disebut kaum Persia yang direpresentasikan dalam diri Salman al-Farisi.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 31, di Balik Larangan Membunuh Anak Kandung Menurut Islam

Tidak jauh berbeda, dalam Shahih Muslim juga disebutkan redaksi hadis yang sama dengan Shahih Bukhari. Bahwa hadis yang disinggung di atas disampaikan berkenaan dengan surat Al-Jum’ah ayat 3.

Mayoritas ulama tafsir menyertakan riwayat hadis di atas dalam menafsirkan kedua ayat tersebut. Tapi hal itu tidak bermakna sebagai sebuah pembatasan mutlak (hanya terkait bangsa Persia) mengenai gambaran kaum yang dimaksud Rasulullah.

Imam at-Thabari memperjelas keterangan tafsirnya mengenai kaum yang dimaksud dengan mengungkapkan secara umum kriterianya, sebagaimana berikut:

وقوله تعالى ذكره: (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ) يقول تعالى ذكره: وإن تتولوا أيها الناس عن هذا الدين الذي جاءكم. به محمد صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم، فترتدّوا راجعين عنه (َيسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ)  يقول: يهلككم ثم يجيء بقوم آخرين غيركم بدلا منكم يصدّقون به، ويعملون بشرائعه (ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) يقول: ثم لا يبخلوا بما أُمروا به من النفقة في سبيل الله، ولا يضيعون شيئا من حدود دينهم، ولكنهم يقومون بذلك كله على ما يُؤمرون به

“Firman Allah Ta‘ala: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain’, maksudnya: jika kalian—wahai manusia—berpaling dari agama ini yang telah dibawa oleh Muhammad SAW, lalu kalian murtad dan kembali darinya, maka Allah akan membinasakan kalian, kemudian mendatangkan kaum lain sebagai pengganti kalian. Mereka adalah kaum yang membenarkan agama ini dan mengamalkan syariat-syariatnya. ‘Kemudian mereka tidak akan seperti kalian’, maksudnya: mereka tidak akan bersifat kikir terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka, yaitu berinfak di jalan Allah. Mereka juga tidak akan menyia-nyiakan sedikit pun dari batasan-batasan agama mereka, bahkan mereka akan menegakkan semuanya sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka.” (Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an [Kairo: Dar Hajr], juz 21, h. 232)

Setidaknya, dari keterangan ini diketahui bahwa yang dimaksud dengan “kaum pengganti” itu bukanlah identitas tunggal yang kaku, melainkan tipologi manusia yang memiliki kualitas iman tertentu. Kaum ini memiliki 4 karakter pokok:

1. Membenarkan agama (يُصَدِّقُونَ بِهِ), yakni menerima kebenaran Islam secara utuh, bukan setengah hati.

2. Mengamalkan syariat (يَعْمَلُونَ بِشَرَائِعِهِ). Imannya tidak berhenti pada pengakuan, tetapi menjelma dalam amal nyata.

3. Tidak kikir (لَا يَبْخَلُوْا بِمَا أُمِرُوْا بِهِ), yaitu mereka tidak pelit dalam berkorban di jalan Allah.

4. Tidak meremehkan agama (وَلَا يُضَيِّعُونَ شَيْئًا مِنْ حُدُودِ دِينِهِمْ). Teguh berpendirian dalam iman, dan tidak menganggap remeh atau menyia-nyiakan batasan-batasan agama.

Dengan kata lain, mereka adalah antitesis dari kaum yang disebut dalam ayat 38 surat Muhammad, yaitu yang lemah komitmen, enggan berkorban, dan mudah berpaling.

Lalu jika karakter tersebut ternyata secara spesifik terdapat pada fakta kaum muslim Persia, maka tentu hal itu menunjukkan bukti kebenaran nubuwwah Nabi SAW. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya, At-Tahrir wa At-Tanwir:

وَأَقُولُ هُوَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ فَارِسَ إِذَا آمَنُوا لَا يَرْتَدُّونَ وَهُوَ من دَلَائِل نبوءة النبيء صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَرَبَ ارْتَدَّ مِنْهُمْ بَعْضُ الْقَبَائِلِ بَعْدَ وَفَاة النبيء صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَارْتَدَّ الْبَرْبَرُ بَعْدَ فَتْحِ بِلَادهمْ وَإِيمَانهمْ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً فِيمَا حَكَاهُ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدِ ابْن أَبِي زَيْدٍ، وَلَمْ يَرْتَدَّ أَهْلُ فَارِسَ بَعْدَ إِيمَانِهِمْ

“Dan aku berkata: hal ini menunjukkan bahwa bangsa Persia apabila mereka telah beriman, maka mereka tidak akan murtad. Ini termasuk di antara tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad SAW. Sebab, sebagian kabilah Arab pernah murtad setelah wafatnya Nabi SAW, dan bangsa Barbar juga pernah murtad setelah penaklukan negeri mereka dan setelah mereka beriman—bahkan sampai dua belas kali, sebagaimana diceritakan oleh Ibn Abi Zayd al-Qayrawani. Sedangkan penduduk Persia tidak pernah murtad setelah keimanan mereka.” (At-Tahrir wa at-Tanwir [Tunis: Ad-Dar at-Tunisiyah], juz 26, h. 139)

Kalaupun yang merepresentasikan sebagai sosok kaum pengganti itu adalah memang bangsa Persia, yang mana saat ini bangsa Persia identik dengan Iran, dan Iran identik dengan Syi’ahnya, maka yang menjadi argumen utama dalam hal ini adalah kembali pada soal karakternya. Bukan kelompok tertentu dengan ideologinya sendiri.

Baca juga: Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?

Oleh karena itu, patut dipahami bahwa kaum yang dimaksud dalam ayat di atas, tidak lain adalah sekelompok manusia yang memiliki iman kokoh, tidak kikir dalam pengorbanan, konsisten dalam syariat, dan siap memikul amanah agama ketika yang lain mengkhianatinya.

Bangsa Persia mungkin menjadi contoh awal yang ditunjuk oleh Nabi SAW. Tetapi hukum yang berlaku bersifat universal.

Adalah benar, bahwa hadis yang menyebut kaum beriman dari bangsa Persia sebagai pengganti kaum muslim yang lemah, kikir, dan berkhianat, berkenaan dengan ayat 38 surat Muhammad dan ayat 3 surat Al-Jum’ah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadis yang telah disinggung di atas, bahwa Nabi SAW menunjuk kepada Salman al-Farisi dan berkata: “Ini dan kaumnya.” Lalu diperkuat dengan sabda beliau bahwa jika iman berada di bintang Tsurayya, maka orang-orang dari Persia akan mencapainya.

Baca juga: Bukan Perang Salib: Sebuah Analisis Motif di Balik Serangan AS-Israel terhadap Iran

Tapi penjelasan ini juga perlu dipahami sebagai contoh konkret, bukan pembatasan mutlak. Artinya, bangsa Persia menjadi representasi awal dari kaum yang memiliki keteguhan iman luar biasa.

Sejarah memang membenarkan itu. Banyak ulama besar Islam lahir dari wilayah Persia: ahli tafsir, hadis, fiqih, hingga filsafat. Mereka bukan sekadar masuk Islam. Mereka menghidupkan ilmu yang menuntun pada kebenaran Islam dan mengembangkannya demi kemaslahatan umat.

Lalu benarkah bangsa Iran yang diidentikkan dengan bangsa Persia dalam konteks saat ini (yang teguh membela Palestina, teguh imannya, berilmu tinggi, dan berpendirian kuat dalam menjaga martabatnya), juga merepresentasikan sosok “kaum pengganti” yang teguh imannya dan tangguh pendiriannya, sebagaimana disebutkan dalam ayat 38 surat Muhammad?

Wallahu a’lam bis shawab.