Lewati ke konten utama
Senin, 20 Juli 2026 / 5 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?

5 menit baca 171 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pernahkah merasa lelah yang teramat sangat, saat memperjuangkan sebuah kebaikan? Berada di titik di mana niat tulus, justru dibalas dengan cibiran dan fitnah yang membuat dada sesak, kepedulian ditanggapi dengan sinisme, dan langkah kaki rasanya sudah terlalu berat untuk melangkah?

Jika ya, tarik napas dalam-dalam, karena kita tidak sendirian. Ribuan tahun yang lalu, di bawah terik langit Makkah, sekelompok manusia terbaik pernah merasakan sesak yang sama. Mereka adalah Rasulullah dan para sahabat.

Menariknya, saat beban dakwah sedang berat-beratnya, Allah tidak langsung menurunkan pasukan malaikat untuk menghancurkan para penentang. Allah justru membisikkan sebuah panduan visual yang abadi dalam surat Al-Muzzammil ayat 10:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamīlān).”

Ayat ini bukan sekadar pelipur lara, melainkan sebuah kedahsyatan strategi Islam yang bertumpu pada dua pilar utama, yaitu sabar dan hijrah.

Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

Sabar Itu Bukan Pasrah

Banyak dari kita salah kaprah dalam mengartikan sabar. Sabar sering kali diidentikkan dengan sikap nrimo, pasrah, diam tertindas, atau pasif menunggu keajaiban. Padahal, jenis kesabaran yang diminta Allah kepada Rasulullah dan para sahabat adalah kesabaran seorang beriman.

Syaikh Dr Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir menjelaskan bahwa perintah bersabar di sini adalah menghadapi hinaan, fitnah, dan pendustaan ​​dengan kelapangan dada, tanpa perlu merasa resah atau cemas.

Di sini ada  dua dimensi utama. Pertama, imunitas emosional yaitu menjaga hati agar tidak meledak dalam kemarahan atau balas dendam atas perlakuan buruk musuh. Kedua, konsistensi gerakan dengan terus berjalan menapaki jalan dakwah dan perjuangan tanpa membuka celah bagi rasa putus asa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menambahkan sebuah catatan penting. Perintah sabar ini diturunkan tepat setelah Allah memerintahkan Rasulullah untuk shalat malam (qiyamul lail) dan berdzikir. Mengapa? Karena ibadah-ibadah esoterik inilah yang menyuplai energi supranatural bagi seorang hamba untuk memikul beban pekerjaan-pekerjaan besar peradaban.

Sabar menjadi rem emosi sekaligus bahan bakar mental agar komitmen perjuangan tidak retak di tengah jalan. Ia adalah imunitas internal.

Sebelum Islam menata sistem sosial dan politik yang besar di Madinah, Allah terlebih dahulu memperkuat “otot psikologis” para sahabat melalui kesabaran yang aktif di Makkah.

Baca juga: Seni “Tabattul” di Era Digital

Hijrah: Seni Melakukan “Pivot

Di samping sabar, ada perintah “hajran jamīlān” artinya menjauh atau berhijrah dengan cara yang indah. Syaikh Prof Dr Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengartikan kalimat ini sebagai perintah untuk mengubah dan meninggalkan perlakuan buruk mereka secara elegan, tanpa menyisakan keputusasaan.

Bagaimana wujud dari “pengabaian yang indah” (hajran jamīlā) itu? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan sebuah rumusan sebagai berikut:

“Kesabaran yang indah adalah kesabaran yang tidak ada keluhan di dalamnya. Pemaafan yang indah adalah pemaafan yang tidak ada dendam di dalamnya. Dan ‘pengabaian yang indah’ (hajran jamīlā) adalah pengabaian yang tidak menyakiti.”

Dalam konteks gerakan dan manajemen modern, hijrah dengan cara yang indah ini adalah sebuah perubahan pendekatan atau strategi pivot. Syaikh as-Sa’di menjelaskan bahwa menjauhi mereka (orang-orang yang berbuat kerusakan) dilakukan sejauh ada maslahat di dalamnya, dengan tetap membuka ruang untuk mendebat mereka secara baik-baik di kemudian hari.

Namun yang paling dahsyat, hijrah adalah transformasi diri secara total. Ia mengejawantahkan perubahan mentalitas, mindset, kesadaran, perilaku, hingga cita-cita.

Mengingat saat itu para sahabat hidup berdampingan dalam satu kota dengan kaum jahiliyah, transformasi diri inilah yang secara perlahan namun pasti menciptakan garis demarkasi yang tegas. Mana manusia yang bergerak atas dasar iman, dan mana yang digerakkan oleh syahwat atau duniawi.

Baca juga: Tartil Alquran: Fondasi Spiritual dan Intelektual yang Menopang Peradaban Islam

Membebaskan Manusia dari “Penjara” Fakultatif

Dunia modern hari ini menawarkan konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat bertumpu pada hal-hal profan, seperti efisiensi kerja, logika materialistik, dan keahlian teknis yang kaku. Manusia akhirnya tersegmentasi dan terjebak ke dalam kotak-kotak fakultatif yang hanya diberikan sebatas nilai utilitas ekonominya saja.

Sebaliknya, Islam menawarkan konsep pemberdayaan—yang dalam hal ini saya menggunakan istilah Sumber Daya Insani (SDI), yang jauh lebih utuh. Sebelum menyentuh kemampuan pikiran dan keterampilan teknis, Islam menyentuh dimensi esoterik tertinggi manusia: intelektual (‘aql), hati (qalb), dan spiritual (ruh).

Laboratorium pembentukannya pun unik, seperti yang digambarkan di awal surat Al-Muzzammil: qiyamul lail, tartilul qur’an, dzikir, tawakkal, yang kemudian mengkristal dalam manifesto nyata berupa sabar dan hijrah.

Manusia yang lahir dari rahim spiritual seperti ini tidak akan mudah goyah oleh tekanan materi. Mereka tampil sebagai khalifatullah fil ardhi yang utuh, yang memancarkan cahaya kebaikan ke seluruh alam, tanpa kehilangan jati diri kemanusiaannya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengingatkan, ketika perintah sabar dan hijrah ini diabaikan, Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang terlena dengan kemewahan duniawi. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kekuatan materialistik yang megah sekalipun akan hancur jika berhadapan dengan manusia-manusia yang jiwanya telah ditempa oleh keimanan yang kuat.

Pelajaran penting menyisipkan sebuah renungan yang menohok hati: “Jika kepada orang-orang kafir saja Allah memerintahkan kita untuk mengabaikan mereka dengan cara yang indah dan penuh kelembutan, lalu apa alasan bagi kita untuk merusak kesucian hubungan dengan caci maki dan keburukan saat menghadapi sanak saudara, keluarga, atau sesama saudara seiman?”

Baca juga: Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia

Maka agenda pemberdayaan manusia dalam Islam tidak pernah melihat dari mana latar belakang etnis atau seberapa rendah status sosial di mata manusia. Selama orientasi dasar hidup adalah Allah SWT, kita adalah bagian dari proyek peradaban yang agung.

Jangan pernah mengumpat kesunyian malam saat bersujud, dan jangan pernah meremehkan kesabaran saat menahan diri dari amarah. Di dalam sabar yang dirawat hari ini, dan di dalam setiap langkah “hijrah” menjauhi keburukan yang ditapaki, sedang lahir mentalitas generasi tangguh yang baru.

Panggung dunia boleh saja riuh dengan mereka yang mengejar eksistensi di dunia maya yang semu. Namun, di tangan orang-orang yang memiliki keteguhan sabar dan keberanian hijrah inilah, bumi ini pada akhirnya akan diwariskan dan dimakmurkan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.