Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah merasa lelah yang teramat sangat, saat memperjuangkan sebuah kebaikan? Berada di titik di mana niat tulus, justru dibalas dengan cibiran dan fitnah yang membuat dada sesak, kepedulian ditanggapi dengan sinisme, dan langkah kaki rasanya sudah terlalu berat untuk melangkah?
Jika ya, tarik
napas dalam-dalam, karena kita tidak sendirian. Ribuan tahun yang lalu, di
bawah terik langit Makkah, sekelompok manusia terbaik pernah merasakan sesak
yang sama. Mereka adalah Rasulullah dan para sahabat.
Menariknya, saat
beban dakwah sedang berat-beratnya, Allah tidak langsung menurunkan pasukan
malaikat untuk menghancurkan para penentang. Allah justru membisikkan sebuah
panduan visual yang abadi dalam surat Al-Muzzammil ayat 10:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا
يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Dan
bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara
yang baik (hajran jamīlān).”
Ayat ini bukan sekadar pelipur lara, melainkan sebuah kedahsyatan strategi Islam yang bertumpu pada dua pilar utama, yaitu sabar dan hijrah.
Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia
Sabar Itu Bukan Pasrah
Banyak dari kita salah
kaprah dalam mengartikan sabar. Sabar sering kali diidentikkan dengan sikap nrimo,
pasrah, diam tertindas, atau pasif menunggu keajaiban. Padahal, jenis kesabaran
yang diminta Allah kepada Rasulullah dan para sahabat adalah kesabaran seorang beriman.
Syaikh Dr
Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir menjelaskan bahwa
perintah bersabar di sini adalah menghadapi hinaan, fitnah, dan pendustaan
dengan kelapangan dada, tanpa perlu merasa resah atau cemas.
Di sini ada dua dimensi utama. Pertama, imunitas emosional
yaitu menjaga hati agar tidak meledak dalam kemarahan atau balas dendam atas
perlakuan buruk musuh. Kedua, konsistensi gerakan dengan terus berjalan
menapaki jalan dakwah dan perjuangan tanpa membuka celah bagi rasa putus asa.
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menambahkan sebuah catatan penting. Perintah
sabar ini diturunkan tepat setelah Allah memerintahkan Rasulullah untuk shalat
malam (qiyamul lail) dan berdzikir. Mengapa? Karena ibadah-ibadah
esoterik inilah yang menyuplai energi supranatural bagi seorang hamba untuk
memikul beban pekerjaan-pekerjaan besar peradaban.
Sabar menjadi rem
emosi sekaligus bahan bakar mental agar komitmen perjuangan tidak retak di
tengah jalan. Ia adalah imunitas internal.
Sebelum Islam menata sistem sosial dan politik yang besar di Madinah, Allah terlebih dahulu memperkuat “otot psikologis” para sahabat melalui kesabaran yang aktif di Makkah.
Baca juga: Seni “Tabattul” di Era Digital
Hijrah: Seni
Melakukan “Pivot”
Di samping sabar,
ada perintah “hajran jamīlān” artinya menjauh atau berhijrah dengan cara
yang indah. Syaikh Prof Dr Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz
mengartikan kalimat ini sebagai perintah untuk mengubah dan meninggalkan
perlakuan buruk mereka secara elegan, tanpa menyisakan keputusasaan.
Bagaimana wujud
dari “pengabaian yang indah” (hajran jamīlā) itu? Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah memberikan sebuah rumusan sebagai berikut:
“Kesabaran
yang indah adalah kesabaran yang tidak ada keluhan di dalamnya. Pemaafan yang
indah adalah pemaafan yang tidak ada dendam di dalamnya. Dan ‘pengabaian yang
indah’ (hajran jamīlā) adalah pengabaian yang tidak menyakiti.”
Dalam konteks
gerakan dan manajemen modern, hijrah dengan cara yang indah ini adalah sebuah
perubahan pendekatan atau strategi pivot. Syaikh as-Sa’di menjelaskan
bahwa menjauhi mereka (orang-orang yang berbuat kerusakan) dilakukan sejauh ada
maslahat di dalamnya, dengan tetap membuka ruang untuk mendebat mereka secara
baik-baik di kemudian hari.
Namun yang paling
dahsyat, hijrah adalah transformasi diri secara total. Ia mengejawantahkan
perubahan mentalitas, mindset, kesadaran, perilaku, hingga cita-cita.
Mengingat saat itu para sahabat hidup berdampingan dalam satu kota dengan kaum jahiliyah, transformasi diri inilah yang secara perlahan namun pasti menciptakan garis demarkasi yang tegas. Mana manusia yang bergerak atas dasar iman, dan mana yang digerakkan oleh syahwat atau duniawi.
Baca juga: Tartil Alquran: Fondasi Spiritual dan Intelektual yang Menopang Peradaban Islam
Membebaskan
Manusia dari “Penjara” Fakultatif
Dunia modern hari
ini menawarkan konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat
bertumpu pada hal-hal profan, seperti efisiensi kerja, logika materialistik,
dan keahlian teknis yang kaku. Manusia akhirnya tersegmentasi dan terjebak ke
dalam kotak-kotak fakultatif yang hanya diberikan sebatas nilai utilitas
ekonominya saja.
Sebaliknya, Islam
menawarkan konsep pemberdayaan—yang dalam hal ini saya menggunakan istilah
Sumber Daya Insani (SDI), yang jauh lebih utuh. Sebelum menyentuh kemampuan
pikiran dan keterampilan teknis, Islam menyentuh dimensi esoterik tertinggi
manusia: intelektual (‘aql), hati (qalb), dan spiritual (ruh).
Laboratorium
pembentukannya pun unik, seperti yang digambarkan di awal surat Al-Muzzammil: qiyamul
lail, tartilul qur’an, dzikir, tawakkal, yang kemudian mengkristal
dalam manifesto nyata berupa sabar dan hijrah.
Manusia yang
lahir dari rahim spiritual seperti ini tidak akan mudah goyah oleh tekanan
materi. Mereka tampil sebagai khalifatullah fil ardhi yang utuh, yang
memancarkan cahaya kebaikan ke seluruh alam, tanpa kehilangan jati diri
kemanusiaannya.
Ibnu Katsir dalam
tafsirnya mengingatkan, ketika perintah sabar dan hijrah ini diabaikan, Allah
memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang terlena dengan kemewahan
duniawi. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kekuatan materialistik yang megah
sekalipun akan hancur jika berhadapan dengan manusia-manusia yang jiwanya telah
ditempa oleh keimanan yang kuat.
Pelajaran penting menyisipkan sebuah renungan yang menohok hati: “Jika kepada orang-orang kafir saja Allah memerintahkan kita untuk mengabaikan mereka dengan cara yang indah dan penuh kelembutan, lalu apa alasan bagi kita untuk merusak kesucian hubungan dengan caci maki dan keburukan saat menghadapi sanak saudara, keluarga, atau sesama saudara seiman?”
Baca juga: Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia
Maka agenda
pemberdayaan manusia dalam Islam tidak pernah melihat dari mana latar belakang
etnis atau seberapa rendah status sosial di mata manusia. Selama orientasi
dasar hidup adalah Allah SWT, kita adalah bagian dari proyek peradaban yang
agung.
Jangan pernah
mengumpat kesunyian malam saat bersujud, dan jangan pernah meremehkan kesabaran
saat menahan diri dari amarah. Di dalam sabar yang dirawat hari ini, dan di
dalam setiap langkah “hijrah” menjauhi keburukan yang ditapaki, sedang lahir
mentalitas generasi tangguh yang baru.
Panggung dunia boleh saja riuh dengan mereka yang mengejar eksistensi di dunia maya yang semu. Namun, di tangan orang-orang yang memiliki keteguhan sabar dan keberanian hijrah inilah, bumi ini pada akhirnya akan diwariskan dan dimakmurkan.