Lewati ke konten utama
Jumat, 21 Agustus 2026 / 8 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Momentum Mengenang dan Meneladani Akhlak Nabi SAW

6 menit baca 55 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Momentum Mengenang dan Meneladani Akhlak Nabi SAW
Foto: Pinterest
Bagikan:

Oleh : KH. Dr  Muhammad Soleh Hapudin, M.Si, Ketua 1 MUI kota Tangerang juga ketua umum MUI Karawaci

اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللّٰهِ، اُوْصِيْكُم وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِى كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah SWT yang dengan ilmu-Nya mengatur kehidupan, dengan rahmat-Nya menjaga hati-hati kita, dan dengan hidayah-Nya menuntun langkah kita menuju jalan keselamatan. Kepada-Nya kita memanjatkan syukur atas segala nikmat yang tidak pernah terputus, baik yang kita sadari maupun yang luput dari perhatian kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, figur agung yang akhlaknya menjadi cahaya peradaban dan sunnahnya menjadi panduan bagi hati yang mencari kebenaran.

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, pertama-tama saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, serta memperbaiki kualitas amal dan akhlak kita di setiap waktu.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Pada kesempatan mulia ini, ketika bulan Maulid kembali hadir menghiasi kehidupan kita, sesungguhnya kita sedang memasuki musim refleksi yang sangat berharga. Bulan Maulid bukan sekadar catatan sejarah, bukan pula sekadar perayaan tradisi, melainkan ruang untuk merenungi kembali nilai moral dan akhlak agung Rasulullah SAW yang merupakan fondasi lahirnya peradaban Islam.

Ketika bulan Maulid kembali datang, sesungguhnya kita sedang memasuki momen refleksi sejarah yang sangat penting. Bulan ini bukan hanya mengingatkan kita tentang kelahiran seorang manusia agung, tetapi juga menghadirkan kembali nilai moral yang menjadi fondasi peradaban Islam.

Nabi Muhammad SAW bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan reformer moral yang membangun masyarakat baru melalui keteladanan akhlak, bukan kekuatan senjata atau kekuasaan.

Rasulullah SAW bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga reformer moral yang mengubah wajah masyarakat dengan kekuatan keteladanan. Pada masa ketika dunia modern kembali dilanda kegersangan akhlak—ketidakjujuran, pertikaian sosial, dan kegaduhan digital—keteladanan beliau menjadi sumber inspirasi yang relevansinya tidak pernah pudar. Allah sendiri menegaskan dalam Alquran:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka, memperingati Maulid bukan sekadar ritual, tetapi ajakan untuk menghidupkan kembali akhlak Nabi dalam tutur kata, perilaku sosial, hingga cara kita bermedia di era digital.

Di tengah kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan kompleksitas sosial yang semakin meningkat, figur Nabi Muhammad SAW hadir sebagai model akhlak yang selalu relevan lintas zaman. Keteladanan yang beliau tunjukkan tidak sebatas nilai spiritual, melainkan juga pondasi moral yang mampu memperbaiki perilaku individu, keluarga, dan masyarakat.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Sering kali kita terjebak dalam rutinitas perayaan Maulid namun tidak menghidupkan makna terdalamnya. Padahal peringatan Maulid adalah momentum untuk mengulas kembali karakter Nabi dan menjadikannya panduan praktis dalam kehidupan modern.

Peringatan Maulid semakin relevan ketika umat Islam hari ini dihadapkan pada fenomena degradasi moral yang serius. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah; generasi muda terjebak budaya instan dan hedonisme; sementara hubungan sosial semakin rapuh akibat ego dan kepentingan pribadi.

Dalam situasi seperti itu, keteladanan Nabi dalam kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial bukan hanya penting, tetapi sangat mendesak untuk dihidupkan kembali.

Perayaan Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai akhlak beliau dalam diri kita. Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Malik)

Karena itu, khutbah ini mengajak kita semua untuk meneladani beberapa akhlak Nabi yang sangat relevan dengan kondisi umat hari ini.

Sungguh, Maulid itu bukan sekadar perayaan tradisi, melainkan kesempatan untuk menilai ulang kondisi moral umat Islam. Pada masa ketika kebohongan semakin dianggap lumrah, ujaran kebencian merajalela, dan empati sosial kian menipis, keteladanan Rasulullah SAW menjadi sumber pencerahan yang amat diperlukan. Allah memuji kemuliaan akhlak beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini mengindikasikan bahwa seluruh perilaku Nabi SAW adalah standar etis tertinggi bagi umat manusia. Maka, memperingati Maulid tanpa berusaha meniru akhlak beliau hanya akan berubah menjadi ritual seremonial yang kehilangan substansi.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Salah satu akhlak paling mendasar yang ditanamkan Nabi adalah kejujuran dan amanah. Beliau digelari oleh masyarakatnya sebagai “Al-Amin” jauh sebelum menerima wahyu, karena masyarakat menyaksikan integritasnya dalam semua interaksi.

Ketika korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan jabatan menjadi penyakit sosial hari ini, akhlak Nabi memberi arah bagi pembenahan moral bangsa.

Dalam Islam, kejujuran (الصِّدْق) bukan hanya benar dalam ucapan, tetapi juga lurus dalam niat, sikap, dan perbuatan. Sedangkan amanah (الأَمَانَة) bukan hanya titipan harta, tetapi seluruh bentuk tanggung jawab yang melekat pada diri seseorang: tugas, jabatan, rahasia, bahkan waktu dan ilmu.

Di samping kejujuran, akhlak Nabi juga tercermin dalam kelembutan dan kasih sayang. Ketika masyarakat modern banyak terjebak dalam budaya marah, saling merendahkan, dan mencaci, Nabi justru membangun peradaban dengan kelembutan hati. Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka dengan rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)

Rasulullah tidak pernah menghardik, tidak pernah merendahkan martabat orang lain, bahkan terhadap musuh yang mengejek sekalipun.

Berbeda sekali dengan era digital hari ini, umat Islam mudah terpancing emosi oleh komentar atau perbedaan pendapat. Padahal Nabi bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah yang sesama Muslim selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari)

Maka meniru akhlak Nabi berarti menjaga tutur kata dan jempol agar tidak melukai saudara seiman.

Selanjutnya, akhlak kepedulian sosial Nabi sangat relevan di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi dan melemahnya solidaritas masyarakat. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling peka terhadap penderitaan umat. Tidak ada satu malam pun beliau tidur nyenyak ketika masih mengetahui ada orang yang kelaparan di Madinah.

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,

Pada akhirnya, esensi Maulid bukanlah sekadar mengenang sejarah, tetapi menyalakan kembali cahaya akhlak Nabi dalam hati umat Islam. Sekali lagi, Allah menegaskan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Kedewasaan akhlak umat akan menentukan kualitas peradaban. Maka Maulid harus melahirkan perubahan nyata: dari tutur kata yang lebih santun, perilaku yang lebih jujur, keluarga yang lebih harmonis, hingga masyarakat yang lebih peduli dan beradab.

Sungguh, bulan Maulid adalah undangan untuk kembali menjadi umat yang menolak kerusakan moral dengan cahaya keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Semoga Allah menjadikan kita pencinta beliau yang benar-benar meneladani akhlaknya, bukan hanya memperingati kelahirannya tanpa menghadirkan perubahan diri. Sebab Maulid adalah momen memperbarui komitmen untuk hidup sebagaimana Rasulullah hidup: dengan cinta, kelembutan, kesabaran, dan kemuliaan akhlak.

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita keluar dari masjid ini dengan hati yang semakin dekat kepada Allah dan tekad yang kuat untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW.

Jadikanlah Maulid sebagai titik balik perubahan diri—lebih jujur dalam tutur, lebih lembut dalam sikap, lebih amanah dalam pekerjaan, dan lebih peduli terhadap sesama.

Semoga setiap langkah kita setelah ini menjadi cermin dari keteladanan Nabi yang mulia, sehingga hidup kita diberkahi, keluarga kita ditenteramkan, dan masyarakat kita dipenuhi cahaya kebaikan.

Allahumma tsabbit qulubana ‘ala dinik, dan jadikanlah kami umat yang benar-benar mengikuti jejak Rasul-Mu, ya Allah. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.