Lewati ke konten utama
Minggu, 23 Agustus 2026 / 10 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menempa Militansi Jiwa Sabar

5 menit baca 347 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menempa Militansi Jiwa Sabar
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di tengah ruang nyaman zamannya, ketika panggilan dakwah dan amanah sejarah diletakkan di atas bahu seorang pejuang, rintangan terbesar sering kali bukan datang dari medan perang yang bergemuruh. Rintangan paling mematikan justru hadir dalam bentuk dinginnya penerimaan, prasangka yang menyudutkan, kepenatan jiwa, hingga keterbatasan yang terasa menyedihkan.

Di titik krusial inilah, Alquran menyapa ruang batin para pembawa risalah melalui firman-Nya yang sangat ringkas, namun mampu menggetarkan pilar-pilar jiwa. Allah berfirman:

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 7)

Ayat ini bukanlah sekedar kalimat penghibur moril biasa. Ia adalah kurikulum “pembajaan” (dari kata: baja) mental yang diturunkan di fajar kenabian Rasulullah SAW. Sebuah fondasi spiritual paling vital bagi siapa saja yang bercita-cita mengemban amanah besar, melatih militansi diri, dan menggerakkan roda peradaban Islam.

Baca juga: Kemerdekaan tanpa Empati

Muara Sentral: “Lillahi Ta’ala

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, pakar tafsir terkemuka, menangkap kedalaman orientasi ayat di atas. Beliau menegaskan bahwa kesabaran yang dituntut di sini bukanlah pasifisme yang lunglai atau kepasrahan yang hampa, melainkan kesabaran aktif yang berporos murni pada tauhid.

Ayat di atas mengandung makna: “Dan berharaplah pahala Allah dengan kesabaranmu itu, serta niatkanlah murni hanya untuk Allah.”

Menurut Syaikh as-Sa’di, dari ayat tersebut terpancar kesabaran paling sempurna—kesabaran kelas ulul ’azmi yang melahirkan militansi, dalam arti mencakup ranah berikut:

1. Sabar dalam ketaatan. Artinya bersegera menyebarkan penelitian dan melakukan kebaikan meski iklim sosial ditolak dengan keras.

2. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan. Yaitu menyucikan lahir dan batin dari segala pelanggaran kejahatan dan penyimpangan moral.

3. Sabar atas takdir yang menyayat. Dengan kata lain, tetap mengalirkan kemanfaatan kepada agung manusia tanpa sedikit pun mengemis pujian, popularitas, atau ucapan terima kasih.

Ketika kata “Lirabbika” (hanya untuk Rabbmu) telah menghujam menjadi fondasi batin, maka rasa kecewa terhadap perlakuan manusia seketika lumpuh. Kita tidak lagi bersabar demi tepuk tangan masyarakat, melainkan demi keridhaan Sang Pencipta.

Baca juga: Menjaga Ketulusan Dakwah

Dari Heningnya Malam Menuju Gelanggang Terbuka

Pakar Alquran dari Universitas Islam, Madinah, Syaikh Prof Dr Imad Zuhair Hafidz, memberikan garis tegas terkait aspek psikologis ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa perintah sabar di sini adalah panggilan untuk menanggung beban pertentangan di tengah lapangan. Tafsirnya menyiratkan makna: “Dan demi keridhaan Allah, bersabarlah dalam menanggung kesulitan. Bersabarlah saat mendengar, melihat, dan menerima gangguan dari kaummu akibat dakwah menuju petunjuk yang kau sampaikan.”

Inilah garis demarkasi yang indah dalam “sistematika wahyu”: Jika surat Al-Muzzammil fokus pada pemantapan spiritual pribadi dalam heningnya malam (kekuatan batin), maka surat Al-Muddatstsir ayat 7 adalah “pembajaan” mental untuk tandang ke gelanggang terbuka ( Action ).

Seorang penggerak peradaban akan dihadapkan dengan “seribu satu karakter” manusia. Tanpa jiwa baja yang diasah di kawah candradimuka kesabaran, seseorang pasti akan gugur dan mundur teratur di tengah jalan.

Baca juga: Refleksi “War-rujza Fahjur” di Era Digital

Ujian Realitas di Lapangan Perjuangan

Sejarah pergerakan adalah jejak yang sangat manusiawi namun mengagumkan. Keteguhan militansi tidak diuji saat berorasi di podium yang megah, melainkan saat dihadapkan pada kepolosan, ketidakpedulian, penolakan hingga cibiran di lapangan.

Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, pernah mengenangkan dinamika dakwah di awal perjuangannya di Makassar. Saat mengisi pengajian di sebuah mushalla kecil dengan jamaah yang dingin dan sedikit, dia bertanya apakah sebaiknya berceramah dalam bahasa Makassar atau Bugis. Jawaban jujur ​​jamaahnya terasa meremukkan ego. Jamaah berkata, “Terserah ustadz saja, kami di sini duduk hanya karena belas kasihan melihat ustadz sendirian.”

Bisa dilihat di sini, jika bukan karena benteng kesabaran “Lirabbika”, seorang penyeru kebaikan pasti memilih pulang dan tak akan pernah kembali. Namun lewat kesabaran yang konsisten, hati yang keras itu perlahan meluluh menjadi cinta.

Beliau juga mengenang fenomena ironis dalam manajemen pergerakan: Seorang dai berbusa-busa ceramah tentang kesabaran, namun malamnya terlantar di mushalla tanpa diberi makan oleh panitia. Pagi harinya, panitia dengan santai berkata, “Sabar ya Ustadz, ini ujian Tuhan.” Padahal sang dai belum menyentuh makanan sejak semalam!

Kesadaran akan “Lirabbika” menjadikan seorang pejuang tidak memelihara rasa jengkel. Ketidaksempurnaan manusia dan sistem dikembalikan kepada Allah, sementara ia terus bergerak memperbaiki tatanan agar menjadi lebih beradab.

Baca juga: Menyucikan “Pakaian” dan Niat

Kematangan Jiwa Sang Pemimpin Peradaban

Militansi kesabaran juga mewujud dalam kelapangan dada saat martabat diri terusik. Ustadz Abdullah Said dalam salah satu nasihatnya mengutip kisah klasik Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Disebutkan, bahwa suatu malam di masjid yang gelap gulata, sang khalifah tak sengaja menyenggol seseorang yang sedang tidur. Orang itu berteriak kaget dan membentak, “Apakah kamu gila hingga menabrakku?!”

Umar bin Abdul Aziz dengan sangat tenang menjawab, “Tidak, saya tidak gila. Saya Umar bin Abdul Aziz.” Begitulah teladannya. Tidak ada kemarahan kekuasaan, karena dia menyadari posisinya sebagai hamba yang sedang berjalan di bawah perlindungan Allah.

Pesan monumental dari KH Muhammad Isa Anshary, tokoh mubaligh kawakan Indonesia, merangkum hakikat ini dengan begitu puitis dan tajam. Beliau menyampaikan, “Lakukanlah tugas kewajiban ini dengan segala kesabaran dan ketahanan. Sabar menerima musibah yang menimpa, ujian dan percobaan yang datang silih bergantian. Sabar mengendalikan diri, menanti pohon yang Anda tanam berpucuk dan berbuah.”

Lalu ditegaskan, “Jangan putus asa atau kecewa melihat hasil yang belum seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Hanya umat yang sabar yang mendapat kesuksesan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya jiwa yang sabarlah yang akan sampai pada muara cita-cita.”

Baca juga: Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”

Menanam Hari Ini, Memetik di Keabadian

Membangun kembali peradaban Islam adalah perjalanan maraton, bukan lari cepat (sprint). Di sepanjang jalurnya, kita akan menjumpai ketidakpahaman publik, penolakan, sistem yang belum mapan, serta kelelahan fisik dan emosional yang menekan.

Namun, ketika jiwa kita kembali menggemakan bisikan Ilahi: وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ( Dan untuk Rabbmu, bersabarlah! ), seluruh beban berat itu seketika menjadi ringan.

Kita bersabar bukan demi pengakuan manusia, melainkan karena kita tahu pasti ke mana setiap tetes peluh, pengorbanan, dan air mata ini dipersembahkan.

Kita menanam hari ini dengan senyuman militan, dan membuahkan hasil di keabadian akhirat.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.