Gus Kikin dan Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat
Oleh: Dr H A Iskandar Zulkarnain
Ketua Bidang Wakaf Uang LW MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031 menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai pergantian kepemimpinan. Ada momentum untuk menghidupkan kembali salah satu DNA awal Nahdlatul Ulama, yakni kemandirian ekonomi umat.
Gus Kikin adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng
sekaligus cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Ia pernah menjadi profesional
BUMN sebelum memasuki dunia usaha, termasuk sektor pertambangan. Di sini saya
melihat kombinasi menarik: businessman yang menjadi kiai, sekaligus kiai yang
memahami bisnis.
Ini bukan sesuatu yang asing dalam sejarah NU. Sebelum NU
berdiri pada 1926, para ulama pesantren telah menggagas Nahdlatut Tujjar atau
Kebangkitan Para Saudagar pada 1918. Tidak lain, karena KH Hasyim Asy’ari dan
KH Wahab Chasbullah memahami bahwa perjuangan umat membutuhkan kemandirian
ekonomi.
Bahkan Hasan Gipo, Ketua Tanfidziyah NU pertama, adalah saudagar dan pengusaha yang ikut menopang organisasi. Kiai, saudagar, dan perjuangan umat sejak awal bukanlah dunia yang terpisah.
Qanun Asasi dan Ekonomi Umat
Menarik ketika Gus Kikin menempatkan kembali “Qanun Asasi”
karya KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu pedoman NU memasuki abad kedua.
Qanun Asasi memang bukan kitab ekonomi. Namun, spirit
persatuan dan saling menguatkan relevan dengan ekonomi umat. Kekuatan ekonomi
tidak hanya lahir dari modal, tetapi juga dari jamaah, kepercayaan dan
kemampuan bekerja bersama.
Abad pertama NU telah membangun social power melalui
jaringan jamaah yang besar. Abad kedua menjadi momentum mentransformasikan social
power menjadi economic power untuk kemaslahatan.
NU memiliki jamaah, pesantren, lembaga pendidikan dan
kesehatan, UMKM, pengusaha serta aset sosial dan wakaf. Kekuatan ini perlu
dihubungkan menjadi ekosistem ekonomi yang produktif.
Di sinilah wakaf produktif dan wakaf uang dapat menjadi social capital umat. Pokoknya dijaga dan dikembangkan, sementara hasilnya mengalir untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan kemaslahatan lintas generasi.
Baca juga: Sebuah Resensi: Menghayati Pemaknaan Baru “Kitab Babon” Warga NU
NU Abad Kedua Membangun Peradaban
Kebangkitan ekonomi NU dapat berjalan beriringan dengan
Muhammadiyah. Muhammadiyah kuat dengan jaringan amal usahanya, sedangkan NU
memiliki pesantren, jamaah, saudagar dan ekonomi rakyat. Keduanya dapat menjadi
dua kekuatan ekonomi umat yang saling melengkapi.
Kepemimpinan Gus Kikin dapat menjadi momentum untuk menghidupkan
kembali Nahdlatut Tujjar abad ke-21, yang kemudian mampu melahirkan pengusaha
santri, membuat aset umat produktif, memperkuat wakaf dan membangun kemandirian
ekonomi.
Tidak bisa dipungkiri, salah satu agenda besar NU di abad
kedua adalah membangun peradaban. Bukan hanya menjaga tradisi dan membesarkan
organisasi, tetapi juga membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kemandirian
umat untuk generasi mendatang.
Sebagai cicit pendiri NU, Gus Kikin membawa “darah biru”
keluarga muassis. Namun, yang lebih penting bukan sekadar sanad biologis,
melainkan sanad gagasan dan perjuangan.
Dari Qanun Asasi menuju persatuan. Dari persatuan menuju kekuatan jamaah. Dari kekuatan jamaah menuju kemandirian ekonomi. Dan dari kemandirian ekonomi menuju peradaban.