Ketika Setan Tak Lagi Datang dengan Wajah Menakutkan
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dahulu, ketika mendengar kata “setan”, sebagian orang mungkin membayangkan makhluk menyeramkan yang muncul di tempat gelap. Imajinasi semacam itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi dapat membuat kita lupa bahwa Alquran justru lebih banyak menjelaskan setan melalui cara kerjanya daripada rupa dan penampilannya.
Setan membisikkan (al-waswasah), menghiasi keburukan
(at-tazyin), menggiring manusia secara bertahap (khuthuwat as-syaythan),
menanamkan angan-angan, dan membuat manusia menunda kebaikan.
Karena itu, godaan pada zaman digital tidak selalu hadir
dalam bentuk yang menakutkan. Ia dapat menyusup melalui sesuatu yang
menyenangkan dan tampak biasa: layar yang terus digulir tanpa tujuan, video
pendek yang tidak habis-habis, pujian yang membuat seseorang kecanduan
validasi, kemarahan yang terus dipelihara karena merasa paling benar, berita
negatif yang dikonsumsi tanpa henti, atau satu kalimat yang terdengar sangat
sederhana: “nanti saja.”
Tidak jarang kita merasa biasa mengatakan: nanti saja salatnya;
nanti saja mengajinya; nanti saja meminta maaf; nanti meninggalkan kebiasaan
buruk; nanti bertaubat; dst.
Persoalannya, “nanti” yang terus diulang dapat berubah menjadi kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; dan karakter pada akhirnya ikut menentukan orientasi kehidupan seseorang. Pada titik inilah kalimat أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,” tidak cukup dipahami sebagai formula verbal sebelum membaca Alquran.
Baca juga: Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital
Secara teologis, kalimat isti‘adzah tersebut merupakan
pengakuan tentang keterbatasan manusia sekaligus ketergantungannya kepada
Allah. Dalam tradisi tafsir, ia berkelindan dengan tauhid, tawakal, kesadaran
spiritual, dan penghambaan kepada-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau hendak membaca Alquran, maka mohonlah
perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Menarik untuk direnungkan, mengapa ketika seseorang hendak
berinteraksi dengan wahyu, Allah justru memerintahkannya untuk terlebih dahulu
memohon perlindungan dari setan?
Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menjelaskan
bahwa makna isti‘adzah pada permulaan membaca Alquran adalah agar setan
tidak mengacaukan bacaan, membingungkan pembacanya, dan menghalanginya dari tadabbur
serta memahami kandungan wahyu. Sebab persoalan yang dihadapi seorang pembaca Alquran
bukan semata-mata persoalan artikulasi lisan, tetapi juga persoalan atensi,
kesadaran, dan kesiapan batin.
Seseorang dapat membaca Alquran tanpa benar-benar “berjumpa”
dengan pesan Alquran. Matanya bergerak mengikuti ayat, lisannya melafadzkan
huruf demi huruf, tetapi pikirannya berada di tempat lain. Satu halaman selesai
dibaca, namun hampir tidak ada makna yang menetap dalam kesadaran.
Buya Hamka mengingatkan hal serupa dalam Tafsir Al-Azhar.
Membaca Alquran tidak cukup hanya dengan memfasihkan lidah dan membetulkan
makhraj. Perhatian dan hati harus tercurah kepada kalam Allah agar bacaan
benar-benar memberikan pengaruh kepada jiwa.
Di sini konsep klasik tentang hudhur al-qalb—kehadiran
hati—menjadi sangat relevan dengan kehidupan modern. Kita hidup dalam suatu
ekosistem yang terus-menerus memperebutkan perhatian. Notifikasi, pesan instan,
iklan, video pendek, berita, dan media sosial datang silih berganti. Kemampuan
untuk mempertahankan perhatian pada satu objek menjadi semakin menantang.
Ibn ‘Asyur dalam At-Tahrīr wa at-Tanwir memberikan
pembacaan yang lebih subtil. Isti‘adzah dipahami sebagai bagian dari
persiapan batin ketika seseorang memasuki ruang wahyu. Sebagaimana tubuh
dipersiapkan melalui thaharah (bersuci) sebelum salat, hati juga perlu
dipersiapkan sebelum menerima petunjuk Alquran. Ia bahkan menegaskan bahwa isti‘adzah
bukan sekadar ucapan yang tidak disertai kesadaran untuk benar-benar berlindung
kepada Allah. Memohon perlindungan dari setan, menurutnya, merupakan salah satu
cabang tawakal.
Dengan demikian, a‘udzu billah bukanlah mantra. Ia
merupakan tindakan spiritual yang memiliki dimensi teologis sekaligus etis:
manusia menyadari kerentanannya, mengenali adanya sumber-sumber godaan, lalu
secara sadar mencari perlindungan kepada Allah sambil tetap bertanggung jawab
terhadap pilihan-pilihannya.
Alquran sendiri tidak pernah menempatkan setan sebagai
kekuatan deterministik yang menghilangkan kebebasan manusia. Allah berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa’:
76)
Ayat ini penting karena menjaga keseimbangan teologis. Setan
menggoda, tetapi manusia tetap memilih. Setan membisikkan, tetapi manusia tetap
bertanggung jawab. Setan menawarkan rasionalisasi, tetapi tidak mempunyai
kekuasaan mutlak untuk memaksa manusia melakukan dosa.
Senjatanya justru bekerja pada wilayah yang lebih halus:
persepsi, keinginan, pembenaran, kebiasaan, dan pengulangan. Karena itu, Alquran
menggunakan istilah yang secara psikologis sangat menarik, yaitu: خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ, “langkah-langkah setan”.
Allah berfirman:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ
لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan
Kata “khuthuwat” merupakan bentuk jamak dari “khuthwah”
yang berarti langkah atau jejak. Dalam tradisi tafsir, istilah tersebut
diperluas maknanya menjadi jalan, cara, ajakan, dan berbagai bentuk ketaatan
kepada setan.
Imamat-Thabari meriwayatkan penafsiran Ibn ‘Abbas bahwa “khuthuwat
as-syaythan” berkaitan dengan perbuatan-perbuatan setan, sementara Qatadah
memasukkan setiap kemaksiatan kepada Allah ke dalam cakupannya.
Pilihan diksi Alquran ini menyimpan wawasan penting mengenai
pembentukan perilaku. Penyimpangan besar tidak selalu bermula dari keputusan
besar. Sering kali ia terbentuk melalui serangkaian kompromi kecil yang
berulang hingga batas moral seseorang perlahan bergeser.
Orang tidak selalu berniat menjadi pecandu judi daring;
awalnya mungkin sekadar mencoba. Seseorang tidak merencanakan kecanduan
pornografi; awalnya mungkin hanya rasa ingin tahu yang tidak dikendalikan.
Perselingkuhan tidak selalu dimulai dari pertemuan rahasia; terkadang bermula
dari satu percakapan yang semestinya dihentikan. Fitnah digital tidak selalu
lahir dari niat menghancurkan orang lain; terkadang bermula dari kebiasaan
menekan tombol share sebelum melakukan tabayun.
Dalam bahasa psikologi perilaku, kebiasaan dapat berkembang
melalui pengulangan dan penguatan. Dalam bahasa Alquran, manusia diingatkan
untuk waspada terhadap langkah-langkah. Keduanya tentu berasal dari kerangka
epistemologis yang berbeda sehingga tidak tepat disamakan secara simplistis.
Namun, keduanya dapat diletakkan dalam dialog: perilaku manusia sering kali dibentuk
melalui proses gradual, bukan peristiwa tunggal.
Itulah sebabnya persoalan moral tidak cukup dikelola ketika
seseorang telah sampai pada “dosa besar”. Pendidikan akhlak justru perlu
bekerja sejak tahap pertama: ketika sebuah kebiasaan mulai dibentuk, ketika
pembenaran mulai muncul, dan ketika sensitivitas moral perlahan mengalami
erosi.
Strategi lain yang dijelaskan Alquran adalah “tazyīn”,
yaitu menjadikan sesuatu yang buruk terlihat indah. Allah berfirman:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ
“Setan menjadikan perbuatan-perbuatan mereka tampak indah
bagi mereka.” (QS. Al-Anfal: 48)
“Tazyīn” lebih kompleks daripada sekadar dorongan
melakukan dosa. Pada tahap ini terjadi semacam distorsi penilaian moral: yang
salah tidak lagi terasa salah karena telah memperoleh pembenaran.
Kesombongan dapat diberi nama percaya diri. Pamer dibungkus
sebagai personal branding. Ghibah berubah menjadi sharing.
Membuka aib dianggap sebagai konten. Konsumerisme berlebihan dibenarkan atas nama self-reward.
Bahkan kemalasan spiritual kadang-kadang dibungkus dengan terminologi kesehatan
mental.
Tentu tidak berarti bahwa personal branding, hiburan,
self-reward, maupun perhatian terhadap kesehatan mental adalah sesuatu
yang tercela. Justru kekeliruan akademik terjadi apabila istilah-istilah
tersebut digeneralisasi sebagai keburukan. Persoalannya adalah rasionalisasi
moral: ketika konsep yang pada dasarnya sah digunakan untuk memberikan
legitimasi terhadap perilaku yang secara etis dan agama bermasalah.
Pada titik ini, isti’adzah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar proteksi ritual. Ia melatih moral awareness: kemampuan untuk berhenti sejenak, mengambil jarak dari impuls, kemudian menilai apakah sesuatu yang terasa menyenangkan benar-benar membawa kemaslahatan atau justru sedang mengikis integritas diri.
Baca juga: Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!
Persoalan ini semakin relevan dalam ekosistem digital. Kita
tidak tepat menyebut teknologi atau algoritma sebagai “setan”. Teknologi adalah
instrumen yang secara moral sangat bergantung pada desain, penggunaan, tujuan,
dan dampaknya. Ia dapat menjadi sarana pendidikan, dakwah, ekonomi, pelayanan
publik, silaturahmi, bahkan penyebaran Alquran dalam skala yang dahulu sulit
dibayangkan.
Namun, penelitian kontemporer menunjukkan bahwa kemampuan
mengendalikan penggunaan teknologi memang menjadi tantangan serius.
Laporan WHO Regional Office for Europe berdasarkan Health
Behaviour in School-aged Children (HBSC) 2021/2022 melibatkan hampir
280.000 remaja usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah Eropa, Asia
Tengah, dan Kanada. Proporsi responden yang dikategorikan mengalami problematic
social media use meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada
2022. Kategori ini berkaitan dengan kesulitan mengontrol penggunaan media
sosial dan munculnya konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari.
Data tersebut harus dibaca secara proporsional. Ia tidak
membuktikan hubungan antara penggunaan media sosial dan “godaan setan”, dan
tidak boleh diperlakukan sebagai dalil teologis. Namun, ia memperlihatkan secara
empiris adanya persoalan self-regulation dalam kehidupan digital modern.
Dalam perspektif pendidikan Islam, temuan semacam itu dapat
menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya mujahadah an-nafs, disiplin
diri, dan pengelolaan perhatian.
Fenomena doomscrolling memberikan contoh lain.
Istilah ini menunjuk pada kecenderungan terus-menerus mengonsumsi berita
negatif melalui media digital.
Studi Sumeyye Taskin, Hacer Yildirim Kurtulus, Seydi Ahmet
Satici, dan M. Engin Deniz yang diterbitkan dalam Journal of Community
Psychology tahun 2024 melibatkan 400 orang dewasa di Türkiye. Dengan
menggunakan structural equation modeling, penelitian tersebut menemukan
bahwa hubungan antara doomscrolling dan mental well-being
dimediasi secara penuh oleh mindfulness dan secondary traumatic
stress.
Karena desain penelitian itu bukan eksperimen, temuan
tersebut lebih tepat dibaca sebagai hubungan statistik dalam model yang diuji,
bukan bukti kausal sederhana bahwa doomscrolling secara langsung
“menyebabkan” gangguan mental.
Di sinilah terjadi perjumpaan intelektual yang menarik. Psikologi kontemporer berbicara tentang attention, mindfulness, self-regulation, dan pembentukan kebiasaan. Tradisi spiritual Islam berbicara tentang hudhur al-qalb, muraqabah, mujahadah an-nafs, dzikir, dan kewaspadaan terhadap waswas. Keduanya tidak identik dan tidak seharusnya dipaksakan menjadi sama. Tetapi dialog di antara keduanya dapat memperkaya cara kita memahami manusia, bahwa apa yang terus-menerus memperoleh perhatian berpotensi memengaruhi pikiran, emosi, kebiasaan, dan akhirnya orientasi hidup.
Baca juga: Luka karena Pedang Dapat Sembuh, Luka karena Ucapan Dapat Diwariskan
Tetap Waspada akan Tipu Daya Setan
Sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, di samping waswasah,
tazyin, dan khuthuwat, ada satu mekanisme yang sangat dekat
dengan kehidupan sehari-hari yang menjadi alternatif setan menjalankan tipu
dayanya: “taswif”, yaitu menunda kebaikan dengan terus mengatakan “sawfa”—“nanti”.
Nanti bertaubat setelah tua. Nanti belajar agama setelah
pekerjaan stabil. Nanti membaca Alquran setelah urusan selesai. Nanti meminta
maaf ketika keadaan lebih tenang. Nanti bersedekah ketika sudah kaya.
Problem mendasarnya bukan sekadar manajemen waktu. Taswif
dapat menjadi persoalan moral-spiritual karena ia menciptakan ilusi seakan-akan
manusia memiliki jaminan atas masa depan.
Alquran menggunakan bahasa yang tegas dalam menyatakan perlawanan
akan kebiasaan menunda kebaikan itu:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu.” (QS. Ali
‘Imran: 133)
Dalam materi Tadabbur Ta‘awwudz, “taswif”
ditempatkan sebagai salah satu tipu daya yang halus: manusia tidak selalu
disuruh menolak kebaikan, tetapi cukup dibuat menundanya sampai kesempatan itu
berlalu.
Ada jarak yang tipis antara “nanti” dan “tidak pernah”.
Berapa banyak rekonsiliasi keluarga tidak terjadi karena masing-masing menunggu
pihak lain meminta maaf terlebih dahulu? Berapa banyak orang ingin memperbaiki
ibadah tetapi menunggu datangnya situasi ideal? Berapa banyak kebaikan berhenti
sebagai niat karena manusia merasa esok masih tersedia?
Setan tidak harus membuat manusia membenci kebaikan. Kadang
cukup membuat manusia mengagumi kebaikan tanpa pernah segera melakukannya.
Yang lebih menarik, Alquran menunjukkan bahwa godaan tidak
berhenti ketika manusia telah berada di jalan kebaikan. Dalam Alquran,
disebutkan bahwa Iblis berkata:
لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
“Aku benar-benar akan menghadang mereka di jalan-Mu yang
lurus.” (QS. Al-A‘raf: 16)
Objek yang disebut adalah “shirathaka al-mustaqim”, yang
berarti jalan-Mu yang lurus. Ini memberi pelajaran bahwa kesalehan tidak secara
otomatis menghilangkan kerentanan moral. Orang berilmu dapat diuji melalui
kesombongan intelektual. Pendakwah melalui popularitas. Orang yang gemar
bersedekah melalui riya. Pemimpin melalui kekuasaan. Aktivis melalui fanatisme.
Ahli ibadah melalui perasaan lebih suci daripada orang lain.
Ibn al-Qayyim dalam pembahasannya mengenai jerat setan
menggambarkan adanya gradasi strategi. Ketika satu pintu gagal, godaan setan
berpindah kepada pintu lain, bahkan sampai menyibukkan seseorang dengan perkara
yang kurang utama sehingga ia meninggalkan amal yang lebih utama.
Perspektif tersebut membuat evaluasi moral seorang muslim
tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah yang saya kerjakan baik?” tetapi
berlanjut kepada pertanyaan yang lebih dalam: “Apa motivasinya? Apa dampaknya?
Apakah amal ini semakin mendekatkan saya kepada Allah atau justru sedang
membesarkan ego saya?”
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى
الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir pada diri anak Adam
sebagaimana mengalirnya darah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak semestinya dibaca dengan imajinasi yang
berlebihan, apalagi dijadikan legitimasi bagi berbagai klaim pseudo ilmiah
tentang tubuh manusia. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencatat
adanya beberapa penafsiran ulama mengenai hadis tersebut, termasuk pemaknaan
literal dan pemaknaan yang menekankan intensitas waswas serta kedekatan godaan
setan dengan manusia. Beliau kemudian menekankan perlunya kewaspadaan terhadap
tipu daya dan bisikan setan.
Yang jelas, Islam tidak mendidik manusia untuk terobsesi
kepada setan. Islam mendidik manusia untuk semakin sadar kepada Allah.
Perbedaannya fundamental. Pusat kehidupan seorang mukmin bukan ketakutan terhadap kekuatan setan, tetapi keyakinan terhadap kekuasaan dan perlindungan Allah.
Baca juga: Ketika Kemajuan Tak Selalu Berarti Kemuliaan
Setan menggoda, tetapi tidak menentukan keputusan. Ia
membisikkan, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab moral. Karena itu,
menyalahkan setan atas setiap kegagalan diri tampaknya bertentangan dengan
pesan etis Alquran.
Allah menyebutnya “al-waswas al-khannas”:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي
يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Dari kejahatan pembisik yang bersembunyi, yang
membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5)
Banyak tafsir menjelaskan bahwa “al-khannas”
berkaitan dengan karakter setan yang mundur ketika Allah diingat dan kembali
membisikkan ketika manusia lalai. Karena itu, dzikir bukan sekadar aktivitas
verbal, tetapi bagian dari pembentukan kesadaran spiritual yang menjaga
orientasi hati.
Adapun isti‘adzah perlu disadari sebagai sebuah
dzikir yang bukan lagi sekadar rutinitas lisan, melainkan menjadi kesadaran
yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika tangan hendak meneruskan berita yang belum
terverifikasi, kita ucapkan: a‘udzu billah. Ketika emosi mendorong kita
menulis komentar yang merendahkan orang lain, kita ucapkan: a‘udzu billah.
Ketika satu klik mulai membawa mata menuju sesuatu yang
Allah haramkan, kita ucapkan: a‘udzu billah. Ketika jabatan menumbuhkan
perasaan bahwa diri selalu benar, kita ucapkan: a‘udzu billah.
Ketika ilmu melahirkan perasaan lebih tinggi daripada orang
lain, kita ucapkan: a‘udzu billah. Dan ketika hati berbisik, “taubatnya
nanti saja,” maka kita lawa, dan kita ucapkan: a‘udzu billah.
Pada titik itu, ta‘awwudz atau isti‘adzah
tidak lagi berhenti sebagai bacaan sebelum Alquran. Ia menjadi mekanisme
kesadaran spiritual: berhenti sejenak, mengenali dorongan, menimbang akibat,
mengingat Allah, lalu memilih tindakan yang benar.
Sebab kehidupan manusia pada akhirnya memang banyak dibentuk
oleh keputusan-keputusan yang tampak kecil: satu pandangan, satu klik, satu
komentar, satu penundaan, satu pembenaran, satu kebiasaan, lalu satu langkah
berikutnya.
Barangkali karena itulah Alquran tidak hanya memperingatkan
manusia tentang tujuan akhir setan. Ia memperingatkan sejak prosesnya:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.”
Manusia sering kali tidak tersesat melalui satu lompatan
besar. Ia dapat tersesat sedikit demi sedikit ketika kesalahan dinormalisasi,
hati kehilangan sensitivitas, dan pembenaran terus diproduksi.
Sebaliknya, perjalanan kembali kepada Allah pun dapat
bermula dari satu keputusan kecil: berhenti, menyadari kelemahan diri,
mengoreksi arah, kemudian dengan kesadaran penuh mengucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Kalimat yang pendek, tetapi mengandung bangunan teologis
yang besar. Ini adalah pengakuan atas kelemahan manusia, kesadaran terhadap
kompleksitas godaan, penegasan tanggung jawab moral, dan pada saat yang sama
keyakinan bahwa perlindungan terakhir seorang hamba berada pada Allah.
Wallahu a‘lam bis shawab.