Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah Setiap Saat

8 menit baca 1.128 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah Setiap Saat
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, gema shalawat membubung tinggi di udara, masjid-masjid bersolek indah, dan majelis ilmu dipadati lautan manusia yang memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun, di balik panggung syiar yang megah dan gelombang kerinduan itu, ada sebuah pertanyaan mendasar yang layak diendapkan dalam relung batin kita yang paling dalam: Cukupkah bukti cinta itu disematkan hanya pada momen seremonial setahun sekali?

Peringatan Maulid sejatinya adalah gerbang pengingat yang indah untuk memupuk kembali akar kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, kebersamaan baru menemukan ruhnya saat perayaan berganti menjadi pemahaman, dan kerinduan mewujud dalam perbuatan.

Cinta yang sejati tidak berhenti pada lisan yang fasih mengucapkan, melainkan terus berdenyut dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap ittiba' mengikuti jejak langkahnya secara utuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah cermin kesempurnaan akhlak. Beliau hadir sebagai sosok yang paling jujur ​​(ash-shiddiq), memegang teguh amanah (al-amin), penuh kelembutan, rendah hati, dan berprinsip adil dalam setiap urusan.

Nilai-nilai kenabian tersebut bukan sekadar lembaran sejarah kuno untuk dikagumi, melainkan jawaban atas krisis moral di era modern.

Di tengah zaman yang dihinggapi krisis kejujuran, maraknya praktik korupsi, ketidakadilan kepemimpinan, hingga krisis kepercayaan dalam bermasyarakat, keteladanan beliau menjadi penawar yang sangat mendesak.

Meneladani Rasulullah bukan lagi sekadar retorika mimbar, melainkan kebutuhan spiritual dan sosial agar peradaban manusia tidak kehilangan arah.

Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW

Ketika Cinta Terpotong Ruang dan Waktu

Banyak di antara kita dengan mudah mengklaim bahwa kita begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, pertanyaannya: Apakah cinta itu benar-benar hadir setiap saat, ataukah kita sengaja melepasnya begitu melangkah keluar dari tempat ibadah?

Sebuah paradoks nyata yang pernah dialami oleh seorang pengusaha muda muslim. Suatu hari, ia mendatangi kantor kedinasan untuk mengurus perizinan usahanya. Waktu pertemuannya bertepatan dengan adzan Dzuhur. Dengan senyum ramah dan isyarat yang teduh, sang pejabat menyapa dan mengajak: “Mari, anak muda, kita shalat berjamaah dulu di mushalla kantor.”

Di mushalla kantor, sang pengusaha menyaksikan betapa khusyuknya pejabat tersebut mendirikan shalat. Seusai shalat, nuansa religius kian kental terasa di ruang kerja.

Dinding ruangan dihiasi kaligrafi ayat suci yang indah, di atas meja terhampar mushaf Alquran, dan jemari pejabat itu tak henti-hentinya memutar bulir-bulir tasbih sambil lisannya berkomat-kamit melantunkan dzikir. Sekilas, ia adalah gambaran ideal seorang hamba yang begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Namun, rasa kagum itu tiba-tiba sirna. Tepat setelah tasbih diletakkan, dengan nada datar dan tanpa rasa canggung, pejabat tersebut meminta uang suap—“uang pelicin”—agar izin usaha sang pengusaha muda bisa diloloskan.

Pengusaha muda itu. Ada kegoncangan batin yang dahsyat di dada. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja menempelkan keningnya dalam sujud, yang jemarinya memutar tasbih, dan ruangannya dipenuhi simbol-simbol Alquran, dengan begitu mudah memperjualbelikan hukum demi keserakahan materi?

Kisah ini menelanjangi krisis paling akut di era modern: cinta yang terpotong oleh ruang dan waktu. Pejabat tersebut mungkin merasa mencintai Rasulullah saat berada di atas sajadah atau saat memegang tasbih. Namun, cintanya tiba-tiba putus saat ia memegang kekuasaan di meja kerjanya. Ia lupa bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas melaknat penyuap dan penerima suap.

Mencintai Rasulullah setiap saat berarti menolak dikotomi tersebut. Cinta sejati tidak mengenal kata “jeda” atau batas wilayah. Cinta kepada Beliau harus hadir di sajadah, di pasar, di jalanan, hingga di atas meja keputusannya seorang pejabat.

Baca juga: 5 Alasan Merayakan Maulid Nabi Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

Ketika Cinta Adalah Taruhan Jiwa

Mengikat rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah fondasi utama dalam beragama. Jika kita menengok ke belakang, sejarah mencatat bagaimana para sahabat menanamkan cinta dalam tingkatan yang paling murni. Bagi mereka, cinta kepada Nabi bukan sekedar perasaan haru, melainkan pengorbanan tanpa batas.

Lihatlah bagaimana Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menegakkan ego menyelamatkan dirinya hingga menempatkan cinta kepada Rasulullah di atas cintanya pada diri sendiri. Atau perhatikan pengorbanan para sahabat di medan Uhud, seperti Anas bin Nadhr radhiyallahu ‘anhu, yang memagari tubuh Nabi dari hujan panah musuh hingga tubuhnya terisi puluhan luka sabetan pedang.

Demikianlah gambar luar biasa, bagi generasi awal Islam, mencintai Rasulullah berarti siap menyerahkan harta, kedudukan, bahkan nyawa demi tegaknya risalah yang beliau bawa.

Ujian Cinta di Era Digital

Bagi kita yang hidup ratusan tahun setelah masa kenabian, tantangan untuk mencintai Rasulullah tentu berbeda. Kita tidak bertatap muka langsung dengan beliau, namun kita diuji melalui arus informasi dan modernitas yang begitu deras.

Di era digital saat ini, membela dan melindungi ajaran Nabi sering kali diuji ketika nilai-nilai kenabian disalahpahami, dinarasikan secara keliru, atau bahkan ditinggalkan oleh pengikutnya sendiri.

Mencintai Nabi di masa kini menuntut kita untuk cerdas dan tangguh. Bukti cinta modern tidak diukur dari seberapa riuh kita bersuara di media sosial, melainkan seberapa teguh kita memegang ajarannya di tengah arus zaman yang sering bertentangan dengan moral kenabian.

Sepatutnya, ketika dunia menawarkan kepalsuan, seorang pencinta Nabi akan memilih kejujuran; ketika dunia mengajarkan egoisme, ia memilih kepedulian sosial.

Baca juga: 5 Keutamaan Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Berdasarkan Penjelasan Ulama

Mahkota Ketaatan dan Janji Indah di Akhirat

Allah SWT telah menegaskan hakikat cinta sejati ini dalam firman-Nya, yang artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Ayat tersebut menegaskan bahwa puncak tertinggi dari cinta adalah ketaatan (ittiba’). Manusia sering menghabiskan tenaga untuk mengejar pengakuan duniawi, padahal ada janji manis yang menanti bagi mereka yang mengingatkan hati kepada Sang Nabi.

Coba kita renungkan sebuah analogi sederhana. Di dunia ini, kerap kita dapati seseorang yang merasa begitu bahagia dan bangga hanya karena sempat duduk sebentar atau berfoto bersama seorang pejabat publik dalam sebuah acara. Foto momen itu diunggah ke media sosial dengan rasa bangga yang meluap-luap, padahal sang pejabat belum tentu kenal, ingat, atau berharap kembali setelah acara usai.

Jika momen saat bersama manusia biasa yang memegang jabatan duniawi saja mampu membuat dada membusung bangga, lalu bagaimana jika kita kelak bisa duduk dekat dan tinggal bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah beliau adalah kekasih Allah? Manusia terbaik sepanjang sejarah, yang kelak bukan sekadar bersanding sekejap, melainkan membersamai kita di dalam surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira yang menenangkan jiwa. Beliau bersabda, yang artinya: “Engkau akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR Bukhari).

Betapa bahagianya jiwa yang kelak dihimpun bersama manusia paling mulia. Ikatan cinta dan shalawat yang tak pernah putus menjadi kunci terurainya berbagai kesusahan hidup, terhapusnya dosa-dosa, hingga dirasakannya manisnya keimanan di dalam dada.

Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya

Membumikan Cinta Rasulullah dalam Keseharian

Dalam menumpahkan rasa cinta dan pengagungan ini, Islam mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak di atas koridor yang lurus. Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk ibadah yang suci, bukan emosi tanpa kendali.

Beliau mengajarkan agar umatnya tidak berlebihan (ghuluw) hingga mendudukkan beliau melebihi kapasitasnya sebagai hamba Allah. Seagung-agungnya beliau, beliau tetaplah hamba Allah dan utusan-Nya yang mulia. Tidak boleh lantas diposisikan layaknya orang Nasrani mengagungkan dan memposisikan Isa sebagai anak Tuhan.

Cinta kepada Nabi tidak boleh berhenti menjadi narasi besar di panggung ceramah, melainkan harus hadir secara nyata dalam interaksi sehari-hari: di ruang keluarga, di pasar, hingga di lingkungan tempat kita bekerja.

Jika kita bedah secara sistematis, setidaknya ada empat ikhtiar konkret yang bisa kita hadirkan dalam keseharian:

Pertama, menjadikan Alquran dan hadis Nabi sebagai rujukan utama. Di tengah riuhnya pendapat dan kompleksitas ideologi modern, seorang pecinta Rasulullah memiliki pegangan yang jernih. Ketika menghadap ke kebuntuan, kita menatap ego visual di hadapan keagungan petunjuk kenabian, lalu mengamalkannya dengan mantap tanpa keraguan.

Kedua, merawat kebiasaan bertutur yang beradab melalui shalawat. Refleksi sederhana dari hati yang tersambung dengan Nabi adalah lisan yang basah oleh doa dan pujiannya (Allahumma shalli ’ala Sayyidina Muhammad). Kapan pun nama beliau diseru, lisan kita bergerak secara alami sebagai penanda adab yang mendasar.

Ketiga, menjaga dan melindungi ekosistem perjuangannya. Cinta yang utuh melingkupi lingkungan terdekat beliau. Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Kanjeng Nabi, namun di saat yang sama dengan mudah melontarkan celaan kepada para sahabat dan istri-istri beliau (Ummahatul Mu’minin). Menjaga kehormatan mereka adalah bentuk penghormatan langsung kepada Rasulullah.

Keempat, menghadirkan wajah Islam yang teduh dan merangkul. Muara dari seluruh ketaatan kita adalah lahirnya perilaku sosial yang menghadirkan rasa aman bagi sesama. Rasulullah diutus untuk menebarkan kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin). Dan wajah cinta itu terwujud dalam senyum yang tulus, tutur kata yang santun, kepedulian pada tetangga, serta kesediaan untuk tidak mudah menghakimi.

Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah), bukan sekadar agenda seremonial yang berlalu tanpa bekas. Jangan biarkan kerinduan itu padam seiring berakhirnya bulan Rabiul Awal.

Mari jadikan setiap terbitnya matahari sebagai ruang untuk menghidupkan ajaran Nabi Muhammad. Mulai dari cara bertutur kata yang jujur, bermuamalah secara adil, menyayangi keluarga, hingga menjadi penyebar kedamaian di lingkungan sekitar. Sebab, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berhenti pada peringatan tahunan; ia terus hidup, bernapas, dan membimbing setiap langkah kaki kita menuju keridhaan Allah Ta’ala.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.