Lewati ke konten utama
Rabu, 16 September 2026 / 4 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Alquran dan Ilmu Pengetahuan: Antara Wahyu, Akal, dan Realitas
Foto: AI Modified/ChatGPT
Opini

Alquran dan Ilmu Pengetahuan: Antara Wahyu, Akal, dan Realitas

Alquran dan Ilmu Pengetahuan: Antara Wahyu, Akal, dan Realitas

/ 4 Rabiul Akhir 1448 H 8 menit baca 101 dibaca
Abd. Hakim Abidin

Oleh: Abd. Hakim Abidin

Redaktur Keislaman MUI Digital

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Setiap kali ilmu pengetahuan menemukan sesuatu yang baru, ada satu godaan yang selalu muncul. Orang-orang bergegas mencari ayat Alquran yang dianggap “cocok”, lalu berseru bahwa kitab suci ini telah membuktikan penemuan itu jauh sebelum sains modern ada.

Kecenderungan itu sepertinya terdengar mulia. Tapi di saat yang sama, hal itu menyimpan bahaya yang jarang disadari, bahaya yang justru bisa “mencederai” wibawa Alquran itu sendiri.

Untuk memahami hal ini, ada baiknya kita mulai dari sebuah gagasan yang sejak lama dijadikan prinsip para sarjana muslim. Pada dasarnya, Alquran bukanlah kitab yang hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi juga mukjizat Allah yang senantiasa relevan sepanjang zaman.

Alquran merupakan “kitabullah al-masthur”, kitab Allah yang tertulis dan terbaca, sementara alam semesta adalah “kitabullah al-mandhur”, kitab Allah yang terbentang dan dapat diamati. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT. Karena itu, antara wahyu dan realitas alam semestinya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.

Dengan demikian, pada dasarnya, wahyu dan alam tidak pernah benar-benar bertentangan. Yang sering bertentangan bukan keduanya, melainkan cara manusia memahaminya.

Allah SWT berfirman dalam Alquran:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf ayat 54)

Ayat ini menegaskan hal yang sederhana namun penting. Penciptaan dan segala ketentuan berada dalam satu kekuasaan yang sama. Dari sinilah tradisi keilmuan Islam mengenal dua jalan menuju pengetahuan, yaitu wahyu dan alam nyata.

Wahyu menuntun manusia pada kebenaran dan tujuan hidup. Alam menyediakan ruang bagi manusia untuk mengamati dan menemukan tanda-tanda kebesaran Allah.

Menurut lembaga fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mishriyyah, sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Hasunah an-Nawawi dalam artikelnya yang berjudul “Hukm at-Ta’wil al-‘Ilmi lil-Quran”, dinyatakan bahwa cara pandang seperti inilah yang justru ikut menumbuhkan tradisi keilmuan dan peradaban Islam.

Memahami Makna “Ilmiah”

Sebelum membahas lebih jauh soal penafsiran ilmiah Alquran, ada pertanyaan mendasar yang sering terlewat. Apa sebenarnya yang kita maksud dengan “ilmu”?

Istilah “tafsir ‘ilmi atau ta’wil ‘ilmi” terhadap Alquran perlu terlebih dahulu dipahami secara tepat. Sebab, kata “ilmiah” dapat memiliki pengertian yang berbeda tergantung pada kerangka epistemologi yang digunakan.

Dunia modern sering menganggap ilmu hanya sah kalau bisa diamati, diukur, dan diuji lewat pancaindra. Cara pandang ini memang penting dalam penelitian sains. Tapi bisa menjadi keliru kalau dipaksakan sebagai satu-satunya cara untuk menilai semua bentuk pengetahuan manusia.

Coba bayangkan akibatnya. Kalau ilmu hanya diakui saat bisa diamati secara inderawi, maka pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, yang memang berada di luar jangkauan laboratorium, otomatis dianggap bukan pengetahuan. Padahal tradisi keilmuan Islam tidak pernah sesempit itu. Pengetahuan bisa diraih lewat penelitian dan pengamatan, tapi juga lewat penalaran yang masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan.

Islam memiliki pengertian ilmu yang lebih luas. Pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui eksperimen, tetapi juga melalui kebiasaan yang berulang dan konsisten serta melalui argumentasi rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kerangka ini, ilmu dapat mencakup penelitian empiris sekaligus penalaran rasional.

Artinya, dalam pandangan Islam, ilmu adalah pengetahuan yang benar dan sesuai kenyataan, yang didukung oleh dalil yang kuat. Dalil itu bisa berupa hasil penelitian, pola alam yang terus berulang, atau penalaran yang masuk akal. Membedakan hal ini menjadi penting, sebab di sinilah sering muncul kesalahpahaman antara agama dan sains, yaitu karena keduanya memakai definisi ilmu yang berbeda tanpa disadari.

Cara pandang yang luas inilah yang dulu membuat peradaban Islam begitu terbuka menerima ilmu dari peradaban lain. Para ulama dan ilmuwan muslim pada masa lalu tidak sekadar menerima pengetahuan dari luar begitu saja. Mereka meneliti, menguji, mengkritik, dan bila perlu mengoreksinya. Dan sikap ini membuktikan satu hal, bahwa terbuka terhadap ilmu pengetahuan tidak berarti harus kehilangan prinsip agama.

Ta’wil ‘Ilmi” dan Tradisi Keilmuan Islam

Upaya menafsirkan Alquran dengan bantuan ilmu pengetahuan sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, para ulama berusaha memahami ayat-ayat yang berbicara tentang alam sesuai dengan pengetahuan zaman mereka.

Masalah baru muncul ketika arahnya dibalik. Bukan lagi ilmu yang membantu memahami ayat, tapi Alquran yang dipaksa mengikuti satu teori ilmiah tertentu. Ilmu yang seharusnya jadi alat bantu, malah dijadikan penentu tunggal benar atau salahnya sebuah tafsir.

Cara pandang seperti ini sebaiknya dihindari. Alasannya sederhana. Ilmu pengetahuan itu terus berubah. Teori bisa diperbaiki, direvisi, bahkan ditinggalkan begitu ada bukti baru. Sementara Alquran sebagai wahyu Allah tidak ikut berubah hanya karena teori manusia berubah.

Karena itu, penting membedakan antara kebenaran wahyu dan tafsiran manusia atas fenomena alam. Jangan sampai sebuah teori yang masih dalam proses pembuktian justru dijadikan makna final sebuah ayat. Sebab kalau suatu saat teori itu runtuh, orang bisa keliru mengira Alquran ikut terbantahkan, padahal yang sebenarnya runtuh hanyalah tafsiran manusia yang terburu-buru.

Kehati-hatian dalam Mencari “Bukti Ilmiah” Alquran

Pembahasan soal kemukjizatan ilmiah Alquran, atau dikenal dengan istilah “i’jaz ‘ilmi”, memang punya tempat tersendiri dalam kajian keislaman masa kini. Ketika sebuah temuan sains ternyata selaras dengan makna sebuah ayat, hal itu bisa menjadi sarana untuk memperlihatkan betapa luasnya tanda kekuasaan Allah.

Tentu, mencari kaitan semacam itu boleh saja dilakukan, asalkan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan. Jadi usaha menghubungkan ayat dengan temuan sains tidak perlu dianggap sebagai sebuah masalah.

Namun demikian, di sini perlu dicatat secara tegas, bahwa yang jadi masalah adalah kecenderungan memaksakan ayat agar cocok dengan satu teori tertentu, seolah-olah Alquran adalah buku panduan teknis.

Selain itu, pandangan tersebut juga bisa membuat Alquran justru dipaksa mengikuti satu paradigma ilmu pengetahuan tertentu yang sejak awal menolak keberadaan segala sesuatu yang berada di luar wilayah empiris. Dalam keadaan demikian, bukan lagi ilmu yang digunakan untuk membantu memahami Alquran, melainkan Alquran yang dipaksa tunduk kepada batasan epistemologis tertentu.

Padahal ketika sebuah ayat berbicara tentang penciptaan manusia, langit, bumi, hujan, atau tumbuhan, itu tidak otomatis berarti Alquran sedang menulis teori ilmiah dalam pengertian modern. Semua itu hadir sebagai tanda yang mengajak manusia berpikir dan mengenal kebesaran Allah.

Di sinilah kehati-hatian menjadi penting. Tidak semua kemiripan antara temuan sains dan bunyi ayat layak langsung diklaim sebagai bukti ilmiah Alquran. Klaim seperti itu butuh kajian tafsir yang kuat, pemahaman bahasa yang cermat, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan terus bergerak dan berubah.

Yang jelas, memaksakan makna ilmiah yang sebenarnya tidak didukung oleh teks Alquran bisa jadi masalah di kemudian hari. Kalau teori itu berubah atau muncul data baru yang bertentangan, orang bisa salah paham dan menganggap Alquran yang keliru. Padahal yang berubah sebenarnya hanyalah cara manusia menafsirkan.

Alquran Bukan Buku Pelajaran Sains

Ada satu hal yang perlu ditegaskan. Alquran bukan buku fisika, bukan buku biologi, bukan pula buku astronomi, atau buku sains lainnya. Alquran adalah kitab petunjuk hidup, atau oleh sebagian sarjana muslim disebut sebagai kitab hidayah.

Ketika Alquran berbicara tentang alam semesta, manusia, hujan, atau tumbuhan, tujuannya bukan menyusun teori ilmiah seperti buku sains pada umumnya. Alquran mengajak manusia melihat semua itu sebagai jejak kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.

Dari sini kita bisa melihat pembagian perannya dengan lebih jelas. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami bagaimana suatu fenomena terjadi. Sementara wahyu memberi arah untuk apa manusia memahami kehidupan, dan bagaimana pengetahuan itu semestinya digunakan.

Dengan kata lain, hubungan Alquran dan ilmu pengetahuan seharusnya dibangun di atas dialog antara wahyu, akal, dan realitas, bukan pertentangan di antara ketiganya. Sebab dari sinilah tradisi keilmuan Islam dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya cenderung pada dua sikap yang berlebihan. Yang pertama adalah takut berlebihan terhadap sains. Yang kedua adalah menundukkan wahyu pada setiap teori yang sedang populer.

Sikap yang lebih tepat adalah menghormati wilayah masing-masing. Sains bekerja lewat pengamatan, eksperimen, dan pengujian atas fenomena yang bisa diamati. Tafsir bekerja lewat ilmu bahasa Arab, pemahaman konteks ayat, hadis, tradisi keilmuan tafsir, dan penalaran yang bertanggung jawab.

Ketika keduanya bertemu, yang dibutuhkan adalah ketelitian, bukan ketergesa-gesaan. Ayat tidak boleh dipaksa mengatakan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh bahasanya. Sebaliknya, kemajuan ilmu pengetahuan juga tidak seharusnya dipakai untuk menolak kemungkinan adanya hal-hal yang memang berada di luar jangkauan penelitian empiris.

Jadi, penafsiran ilmiah atas Alquran lebih baik dipahami sebagai salah satu cara untuk membaca hubungan antara wahyu dan alam. Bukan sebagai cara untuk membuktikan semua teori sains lewat ayat-ayat suci.

Sebuah Prinsip

Kekuatan Alquran tidak pernah bergantung pada nasib sebuah teori ilmiah, entah teori itu terbukti benar atau kelak terbantahkan. Teori manusia bisa berubah berkali-kali, sementara wahyu tetap menjadi sumber petunjuk yang tidak lekang oleh waktu.

Namun demikian, umat Islam perlu terus merawat tradisi keilmuan. Alternatifnya adalah dengan membaca Alquran secara mendalam, memahami bahasa dan tradisi tafsirnya, sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan modern, tanpa mencampuradukkan mana yang tetap dan mana yang terus berubah.

Demikianlah sikap yang sehat dalam membaca kitab suci. Tidak mempertentangkan wahyu dengan akal, tapi juga tidak melebur keduanya hingga kehilangan batas.

Yang jelas, Alquran menuntun manusia memahami makna kehidupan. Sedangkan ilmu pengetahuan membantu manusia menangkap sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di sepanjang kehidupan itu. Dan pemahaman secara proporsional terkait hal ini akan menunjukkan letak keindahan yang sesungguhnya. 

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: