Lewati ke konten utama
Selasa, 15 September 2026 / 3 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Menginternalisasi Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim” di Tengah Krisis Empati Modern
Foto: AI Modified/ChatGPT
Opini

Menginternalisasi Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim” di Tengah Krisis Empati Modern

Menginternalisasi Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim” di Tengah Krisis Empati Modern

/ 3 Rabiul Akhir 1448 H 8 menit baca 120 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Di dalam lembaran Alquran, setelah kita mengagungkan Allah sebagai “Rabbul ‘Alamin”, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta. Allah langsung menyapa jiwa kita dengan ayat ketiga surah Al-Fatihah: “Ar-Rahmanir-Rahim”.

Secara metodologis, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya mencermati susunan indah ini. Penempatan sifat “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” setelah Rabbul ‘Alamin adalah bentuk penyeimbang antara peringatan dan harapan. Kata “Rabb” menghadirkan rasa hormat, cemas, dan segan (khauf), sedangkan “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” meniupkan kesejukan, cinta, dan harapan (raja’).

Bagi seorang muslim yang mengemban amanah sebagai khalifah (“wakil” Allah di bumi), ayat ketiga Al-Fatihah ini bukan sekadar kalimat hafalan ritual. Ia adalah mandat etis universal bahwa tugas utama kekhalifahan setelah bertauhid adalah menyebarkan kasih sayang (rahmah) tanpa batas.

Untuk memahami bagaimana kita harus berkasih sayang di dunia nyata, kita perlu membedah hakikat rahmat Ilahi. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dan para ulama Salaf menegaskan satu kaidah penting, bahwa iman kepada nama dan sifat Allah berarti mengimani nama-Nya, sifat yang dikandungnya, serta dampak nyata rahmat tersebut pada ciptaan-Nya.

Allah memiliki sifat “Ar-Rahmah” (Maha Kasih Sayang). Manifestasi dari rahmat ini melimpah kepada hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW mengungkapkan gambaran dahsyat tentang luasnya rahmat Allah dalam sebuah hadis: “... dari seratus rahmat yang dimiliki Allah, Dia hanya menurunkan satu rahmat ke bumi”.

Satu rahmat yang diturunkan di dunia itu telah cukup untuk menghidupi, menaungi, dan menjadikan seluruh makhluk dari manusia hingga binatang dapat saling mengasihi. Sementara sembilan puluh sembilan rahmat lainnya disimpan untuk melingkupi hamba-hamba-Nya di Hari Kiamat.

Memahami Makna “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim

Secara kebahasaan, Syekh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan bahwa “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” berakar dari kata “ar-rahmah”. Pada manusia, kasih sayang kerap dibayangi oleh gejolak emosional atau rasa iba yang menyiksa hati. Namun, bagi Allah, rahmat-Nya suci dari keterbatasan emosi makhluk. Rahmat Allah berarti ihsan, yaitu kehendak dan tindakan nyata untuk memberikan kebaikan serta memenuhi kebutuhan makhluk tanpa mengharapkan imbalan.

Ar-Rahman menunjukkan sifat yang penuh, melimpah, dan tanpa batas. Abu Ali al-Farisi menekankan bahwa “Ar-Rahman” adalah nama khusus bagi Allah yang tidak boleh disematkan kepada makhluk.

Ar-Rahman” mencakup rahmat universal bagi seluruh makhluk di dunia, baik orang beriman, orang kafir, hingga hewan dan tumbuhan.

Ar-Rahim”, menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, lebih dimaknai sebagai sifat yang berkaitan dengan pemberian rahmat yang spesifik, mendalam, dan abadi bagi kaum mukminin, yang puncaknya disempurnakan di akhirat kelak.

Lantas, bagaimana Allah mengasihi mereka yang mendurhakai-Nya? Sesuai surat Al-An’am ayat 44, Allah tetap memberikan rezeki duniawi kepada orang-orang yang melupakan peringatan-Nya.

Namun demikian, bagi yang membangkang, kelimpahan materi tanpa iman itu sejatinya adalah bentuk ujian dan kenikmatan sementara (istidraj), berbeda dengan rahmat hakiki yang diliputi keberkahan bagi orang beriman.

Oase di Tengah Maraknya “Cyberbullying” dan Degradasi Moral

Jika kita menengok realitas sosial hari ini, pesan “Ar-Rahman Ar-Rahim” terasa kian mendesak dan krusial. Kita hidup di era digital yang kerap diwarnai krisis empati, maraknya perundungan siber (cyberbullying), serta maraknya ujaran kebencian di media sosial. Tidak sedikit orang yang merasa berhak menghakimi, mencaci, dan mempermalukan sesama hanya demi meluapkan ego atau mencari popularitas instan.

Di sinilah letak kegagalan memahami fungsi kekhalifahan. Sungguh sebuah penyalahgunaan mandat dari Allah apabila kehadiran seseorang, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, selalu menjadi ancaman bagi orang lain. Setiap kali ia muncul atau membuat unggahan, orang-orang di sekitarnya merasa cemas karena ia gemar mencela, memprovokasi, dan menyusahkan sesama.

Imam al-Ghazali menerangkan bahwa manusia yang berhasil menginternalisasi sifat “Ar-Rahman” adalah mereka yang menunjukkan rasa iba, empati kepada orang yang lalai. Kasih sayang itu diwujudkan dengan merangkul dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar melalui nasihat yang lembut dan edukatif, bukan dengan caci maki atau penghakiman publik.

Tugas kekhalifahan yang meneladani “Ar-Rahman Ar-Rahim” juga menuntut kasih sayang yang menembus batas spesies: kepada satwa dan tumbuh-tumbuhan.

Kita kerap menyaksikan fenomena sederhana namun menyentuh di sekitar kita. Seseorang yang memelihara puluhan ekor kucing dengan penuh kasih sayang diberi makan teratur, dirawat kesehatannya, dan disediakan tempat tinggal yang layak akan menghasilkan hewan yang jinak, bersih, dan tahu tata krama.

Sebaliknya, mengapa ada hewan liar yang sering merusak atau mengganggu? Sering kali, karena mereka tidak diperlakukan dengan baik, mereka justru diusir, ditendang, dan dipukuli.

Dalam skala yang lebih luas, alam semesta merespons perilaku manusia dengan cara yang sama. Krisis iklim, bencana banjir bandang, dan tanah longsor yang marak terjadi hari ini adalah cerminan dari kerakusan manusia yang kehilangan sifat rahmat terhadap alam.

Teladan Ekologis dari Pesantren

Sekadar sebagai contoh, pesan menjaga alam ini diwujudkan secara nyata di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Pendirinya, Ustadz Abdullah Said, menanamkan kesadaran mendalam kepada seluruh santri bahwa seorang khalifah harus menjadi pelopor kelestarian lingkungan.

Di kawasan kampus yang dikelilingi hutan lindung, para santri dilarang keras membawa ketapel atau senjata berburu. Mereka dilarang menyakiti burung-burung yang beterbangan.

Hasilnya, berbagai jenis satwa, seperti burung cica-rawa yang merdu, jalak, elang, hingga pipit, hidup berdampingan dengan damai bersama manusia. Membiarkan burung terbang bebas menikmati kebebasannya adalah manifestasi nyata dari pengamalan internalisasi sifat “Ar-Rahman Ar-Rahim”.

Lalu, jika dikaji lebih jauh, dalam dimensi sosial dan profesional saat ini, pemaknaan “Ar-Rahim” sangat erat kaitannya dengan memperkuat tali silaturahim. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah menegaskan bahwa barang siapa yang menyambungkan silaturahim, maka Allah akan menyambungkan rahmat-Nya untuk orang tersebut.

Memaknai “Ar-Rahim” tidak cukup sekadar bertegur sapa di media sosial. Ia menuntut kapasitas yang lebih kompleks: kemampuan memobilisasi, mengorganisasi, dan membangun jaringan ukhuwah dalam manajemen ilmiah yang profesional. Konteks modern tidak bisa mengubah atau menggantikan hal itu.

Sifat “Ar-Rahim” memanggil kaum muslimin untuk saling menguatkan keahlian, membangun kolaborasi yang solid, serta menghadirkan solusi konkret atas masalah-masalah sosial dan ekonomi masyarakat.

Membaca “Ar-Rahman Ar-Rahim” dalam setiap shalat kita adalah pembaharuan ikrar. Setiap kali lafadz ini diucapkan, kita diingatkan untuk mengetuk pintu rahmat Allah sekaligus berjanji untuk menjadi saluran rahmat itu bagi semesta alam.

Membangun Manajemen Ukhuwah Modern

Di tengah dunia yang makin bising oleh kebencian, mari kita jadikan kehadiran kita sebagai peneduh bagi sesama, pelindung bagi alam, serta perekat tali ukhuwah. Sebab, hanya dengan jiwa yang dipenuhi kasih sayang, kita layak berdiri tegak sebagai “wakil” Sang Maha Pengasih di atas bumi Allah ini.

Dalam konteks pembentukan karakter diri dan pembangunan peradaban Islam, dengan menghidupkan nilai “Ar-Rahman Ar-Rahim” dalam diri berarti menempatkan kasih sayang sebagai napas utama dalam setiap pikiran, tutur kata, dan tindakan.

Di tengah dunia yang sering terjebak dalam kompetisi tidak sehat dan egoisme, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk memancarkan energi kedamaian dan ketulusan. Kasih sayang tanpa batas (Ar-Rahman) mendorong kita untuk menjadi pribadi yang inklusif, merangkul sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap krisis kemanusiaan dan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, dimensi kasih sayang yang berkelanjutan (Ar-Rahim) menggembleng mentalitas diri untuk selalu konsisten menjaga hubungan yang penuh kehangatan, empati, dan pengampunan. Karakter yang dibangun di atas landasan kasih ini akan mengikis sikap menghakimi, kekerasan, dan balas dendam, lalu menggantikannya dengan semangat pembinaan serta pengayoman.

Ketika kepribadian bernafaskan kasih sayang ini menjelma dalam ruang sosial, peradaban Islam yang dibangun bukan lagi peradaban yang menakutkan atau kaku, melainkan peradaban yang dipenuhi dengan makna rahmatan lil ’alamin.

Inilah yang kemudian kita sebut sebagai sebuah tatanan masyarakat yang tegak di atas keadilan yang humanis, di mana kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi yang berorientasi pada penyebaran perdamaian, kesejahteraan bersama, serta pemuliaan martabat manusia.

Pondasi Sejati Peradaban Islam

Penyebutan sifat “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” langsung setelah “Rabbul ’Alamin” dalam surat Al-Fatihah menegaskan amanat etis kekhalifahan: tugas utama manusia setelah bertauhid adalah menyebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru bumi.

Rahmat Allah bukanlah membiarkan emosi sesaat, melainkan ihsan, tindakan nyata memberi kebaikan tanpa pamrih. Di tengah dunia modern yang terjangkit krisis empati, kegaduhan ruang digital, dan kerakusan yang merusak ekologi, membumikan asma Allah ini menjadi kunci keselamatan zaman.

Peradaban Islam yang sejati tidak diukur dari megahnya bangunan atau melimpahnya materi, melainkan dari kebaruan orientasinya: menjadikan rahmat sebagai arsitektur tatanan sosial.

Karakter “Ar-Rahman” bekerja sebagai payung inklusif yang melahirkan sistem ekonomi berkeadilan serta kesadaran ekologis yang menjaga alam tanpa eksploitasi. Sementara itu, karakter “Ar-Rahim” menjadi energi pelatihan yang memuliakan manusia, mengubah pendekatan hukum yang menghukum menjadi budaya yang memulihkan dan merawat persaudaraan.

Ketika kedua sifat ini menyatu dalam umat sanubari, peradaban tidak lagi dibangun di atas dominasi rasa takut atau arogansi kekuasaan.

Sains berkembang untuk menyelamatkan kemanusiaan, kepemimpinan hadir untuk mengayomi yang lemah, dan hubungan sosial yang bertumpu pada keikhlasan. Dari kesucian dzikir di mihrab masjid hingga kesejahteraan di ruang publik, “Ar-Rahman Ar-Rahim” menjadi landasan abadi yang melahirkan peradaban Islam yang ramah, kokoh, dan sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi semesta alam.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: