Lewati ke konten utama
Minggu, 6 September 2026 / 24 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Dunia Olah Raga Ottoman: Potret Latihan Fisik Para Pria Masa Akhir Kekaisaran

5 menit baca 28 dibaca
Pria berbaju ottomann- Photo by ONUR KURT on Unsplash
Pria berbaju tradisional Ottoman- Photo by ONUR KURT on Unsplash
Bagikan:

Daha, MUI Digital-Sebuah foto hitam putih yang menampilkan seorang pria bertubuh kekar tanpa mengenakan baju muncul dalam sebuah majalah Utsmani pada 1910.

Pria dengan tubuh berotot dan terlatih itu tengah memperlihatkan kebugaran fisiknya yang ia peroleh melalui latihan rutin dan aktivitas di pusat-pusat kebugaran.

Namun, Selim Sirri bukan sekadar memamerkan hasil latihannya. Ia merupakan bagian dari gerakan reformis yang memandang pendidikan jasmani, pendisiplinan tubuh, dan olah raga sebagai bagian penting dari upaya memodernisasi Kekaisaran Ottoman.

Surat kabar dan majalah menggunakan sosok Sirri untuk menegaskan gagasan bahwa pendidikan jasmani memiliki makna simbolis—Kekaisaran Ottoman telah bergabung dengan komunitas global pendidikan jasmani.

Di tempat lain, sebuah surat bertanggal 1906 yang berisi keluhan mengenai wasit dalam pertandingan sepak bola Galatasaray, bahkan menyebut sang wasit sebagai sosok yang melakukan “ketidakbermoralan yang menjijikkan” dan “anak keledai” .

Surat tersebut memberikan gambaran awal mengenai emosi dan gairah yang mulai muncul seiring berkembangnya olahraga baru itu. Pada akhir abad ke-19, budaya olahraga dan kebugaran mulai mengubah kehidupan masyarakat Istanbul.

Baca juga: CAT PPIH 2027 Non Nakes Digelar Serentak, Kemenhaj Gandeng BKN Perkuat Transparansi

Dalam buku The Ottoman World of Sports: Refashioning Bodies, Men, and Communities in Late Imperial Istanbul, Murat C Yildiz menulis sejarah perkotaan tentang bagaimana olah raga dan kebugaran berkembang menjadi komponen penting identitas masyarakat kota sekaligus bagian dari dinamika politik kekaisaran pada masa akhirnya.

Kekalahan militer yang dialami Kekaisaran Utsmani, sebutan lain Ottoman,  sepanjang abad ke-19, globalisasi budaya dan ekonomi, serta berkembangnya pers cetak menciptakan kebutuhan kuat akan reformasi di kalangan pemikir, politisi, dan wartawan Ottman.

Tubuh manusia sendiri mulai mendapat perhatian serius. Muncul pandangan bahwa budaya fisik yang tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan militer merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat yang sedang menuju modernitas.

Yildiz menjelaskan bahwa moralitas menjadi salah satu perhatian utama para pendidik di Istanbul. Pendirian pusat-pusat kebugaran memang dipandang sebagai tanda kemajuan, tetapi muncul pula kekhawatiran bahwa tempat tersebut dapat menjadi ruang bagi perilaku yang dianggap tidak bermoral. Karena itu, pendidikan jasmani dipandang perlu berjalan beriringan dengan pembentukan etika.

“Perawatan tubuh, menurut buku teks Utsmani-Turki karya Ali Irfan Egriboz, Teaching Children the Virtues of Morality (Mengajarkan Anak-Anak Nilai-Nilai Moral), merupakan salah satu ciri utama moralitas.”

Baca juga: Prof Niam Optimis Wajib Halal Oktober Berdampak Positif, Minta Semua Pihak Saling Dukung

Pusat-pusat kebugaran kemudian mulai bermunculan di sekolah-sekolah modern di Istanbul karena dianggap sebagai bagian dari proses membentuk manusia modern, khususnya laki-laki modern. Gagasan mengenai perawatan tubuh bahkan mulai memengaruhi wacana keagamaan.

Ulama Muslim Hekimbasizade Muhyiddin, misalnya, mengkaji manfaat fisik dari ibadah salat. “Dengan merujuk pada ibadah sebagai salah satu bentuk ‘latihan fisik’ dan ‘senam’, Muhyiddin berpendapat bahwa salat memenuhi ‘kewajiban’ (vazife), baik secara agama maupun jasmani, karena salat merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh ruh sekaligus tubuh.”

Lahirnya konsep waktu luang

Di balik berkembangnya kecintaan baru terhadap olah raga dan kebugaran, terjadi pula perubahan dalam cara masyarakat Istanbul memandang waktu.

Pembagian hari ke dalam waktu kerja, waktu sekolah, dan waktu luang merupakan konsep sosial yang saat itu berkembang di berbagai belahan dunia.

Setiap pembagian waktu tersebut membawa aturan dan etika tersendiri mengenai perilaku yang dianggap pantas. Waktu luang, misalnya, mulai dipandang sebagai kesempatan yang seharusnya digunakan untuk berolahraga dan menjaga kebugaran tubuh. Dengan demikian, olahraga tidak lagi sekadar aktivitas fisik.

Ia menjadi bagian dari perubahan cara masyarakat mengatur kehidupan sehari-hari dan memahami hubungan antara tubuh, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, serta waktu luang.

Klub-klub olah raga bermunculan di berbagai penjuru Istanbul. Setiap komunitas memiliki klubnya sendiri, mulai dari orang Turki, Yunani, Armenia, Yahudi, hingga kelompok masyarakat lainnya. Pada awalnya, klub-klub tersebut sering kali terbagi berdasarkan identitas agama dan komunitas.

Namun, seiring berkembangnya olahraga menjadi lebih profesional, kebutuhan untuk mendapatkan pemain terbaik mulai mendorong terbukanya ruang bagi anggota dari komunitas yang berbeda untuk bermain dalam satu tim.

Upaya membentuk “manusia baru” melalui olahraga juga tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Muslim Utsmani.

Komunitas Yunani, Yahudi, dan kelompok lainnya sama-sama memandang olahraga sebagai sarana untuk membentuk generasi baru sesuai dengan identitas komunitas mereka masing-masing.

Baca juga: LPPOM Buka Opsi Sertifikasi Halal Bertahap untuk Restoran Berjaringan Besar

Tim-tim olahraga yang pada awalnya berkembang di berbagai kawasan Istanbul pada akhirnya menjadi cikal bakal klub-klub sepak bola modern yang hingga kini bermain di liga Turki, seperti Galatasaray, Beşiktaş, Fenerbahçe, dan klub-klub lainnya.

Namun, diskriminasi sosial tetap menjadi bagian dari budaya olahraga Istanbul. Pada 1895, 12 pria Yahudi-Jerman mendirikan Jewish Gymnastics Club of Constantinople di kawasan Beyoğlu.

Sebelumnya, mereka merupakan anggota German Gymnastics Club of Constantinople. Namun, kekhawatiran terhadap antisemitisme mendorong mereka untuk membentuk klub sendiri. Keragaman masyarakat Istanbul tercermin dengan jelas dalam sejarah olahraganya.

Pada saat yang sama, berbagai persoalan yang dihadapi Kekaisaran Utsmani juga ikut terbawa ke dalam dunia olahraga. Menjelang Perang Dunia I, negara Utsmani mulai meningkatkan keterlibatannya dalam dunia olahraga, yang sebelumnya berada relatif di luar kendali negara.

Olah raga, Politik, dan Transformasi Masyarakat The Ottoman World of Sports berupaya menceritakan transformasi kehidupan perkotaan melalui olahraga serta berbagai proses yang saling bertaut dalam kemunculan budaya kebugaran.

Berolahraga bukan semata-mata tentang memperbaiki kondisi fisik atau meningkatkan kemampuan diri. Aktivitas tersebut juga berkaitan dengan gagasan-gagasan baru mengenai spiritualitas, moralitas, pendidikan, kesehatan, dan politik.

Ruang-ruang olahraga bahkan menjadi perhatian pemerintah di berbagai negara hingga saat ini karena adanya kekhawatiran terhadap kerumunan besar, potensi kekacauan, dan gejolak politik. Revolusi 1908 dan kemudian Perang Dunia I semakin memunculkan pertanyaan sulit mengenai posisi dan peran olahraga dalam masyarakat.

Dengan mempelajari sejarah olahraga, kita dapat melihat kembali ketegangan sosial yang muncul pada suatu periode tertentu. Melalui kajiannya, Yildiz dengan cermat memperlihatkan harapan, ketakutan, dan berbagai ketegangan yang mewarnai kehidupan masyarakat pada masa akhir Kekaisaran Utsmani