3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
Jakarta, MUI Digital — Bulan Rabiul Awal memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Pasalnya, pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Kehadiran Rasulullah menjadi salah satu nikmat terbesar bagi umat manusia, karena melalui beliau Allah SWT menyampaikan risalah Islam yang membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam.
Sehingga Rabiul Awal juga dikenal sebagai
bulan Maulid. Momentum ini tidak hanya diisi dengan kegembiraan mengenang
kelahiran Rasulullah, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat
kecintaan kepada beliau melalui berbagai amal kebajikan dan ibadah.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus
al-Makki (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur menjelaskan
sejumlah amalan yang dianjurkan selama bulan Rabiul Awal. Di antaranya adalah
memperbanyak puasa dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad.
Selain itu, tradisi umat Islam dalam
memuliakan bulan kelahiran Rasulullah ialah dengan memberikan sedekah, jamuan
makanan, memperbanyak amal kebaikan, serta memberikan perhatian terhadap kisah
kelahiran beliau.
إِعْلَمْ أَنَّهُ يُطْلَبُ فِي هَذَا
الشَّهْرِ كَثْرَةُ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِ الْأَنَامِ،
صَلَّى اللهُ تَعَالَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَزَادَهُ شَرَفًا وَكَرَمًا لَدَيْهِ.
لِأَنَّ هَذَا الشَّهْرَ الْعَظِيمَ قَدْ ظَهَرَ فِيهِ الْخَيْرُ الْعَمِيمُ
وَطَلَعَ فِيْهِ سَعْدُ السُّعُودِ، بِإِشْرَاقِ طَلْعَةِ نَبِيِّنَا السَّنِيَّةِ
عَلَى الْوُجُودِ ...وَلَا زَالَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ يَحْتَفِلُوْنَ بِشَهْرِ
مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَعْمَلُوْنَ الْوَلَائِمَ،
وَيَتَصَدَّقُوْنَ لَيَالِيَهُ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ
السُّرُوْرَ بِهِ وَيَزِيْدُونَ فِي الْمَبَرَّاتِ، وَيَعْتَنُونَ بِقِصَّةِ
مَوْلِدِهِ الْكَرِيمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ
عَمِيْمٍ
“Ketahuilah, pada bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak puasa dan membaca shalawat kepada Nabi kita, pemimpin seluruh manusia, semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepadanya serta menambah kemuliaan dan kehormatan beliau di sisi-Nya. Sebab, pada bulan yang agung ini telah tampak kebaikan yang melimpah dan terbit keberuntungan yang besar dengan hadirnya cahaya Nabi kita yang mulia ke alam semesta. …. Sejak dahulu kala, kaum muslimin senantiasa memuliakan bulan kelahiran Nabi SAW. Mereka mengadakan jamuan, bersedekah pada malam-malamnya dengan berbagai bentuk sedekah, menampakkan kegembiraan, memperbanyak amal kebajikan, serta memberikan perhatian khusus terhadap kisah kelahiran beliau yang mulia. Berkat semua itu, tampak pada mereka berbagai limpahan kebaikan dan keberkahan.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 130)
Baca juga: Apakah Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?
Bertolak dari keterangan tersebut,
setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat diperbanyak umat Islam selama bulan
Maulid. Berikut dalil beserta penjelasannya:
1. Memperbanyak bacaan shalawat
Amalan pertama adalah memperbanyak membaca shalawat
kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat merupakan bentuk doa sekaligus penghormatan
serta ungkapan kecintaan seorang muslim kepada Rasulullah. Anjuran bershalawat
ini diperintahkan secara langsung dalam Alquran. Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَه
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Keutamaan shalawat juga diterangkan dalam
riwayat hadis. Rasulullah menyatakan bahwa satu kali shalawat yang dibaca
seorang muslim akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh shalawat, dihapus sepuluh
kesalahan, dan diangkat sepuluh derajatnya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ
وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Barang siapa bershalawat
kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali kebaikan,
dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.”
(HR Ahmad)
Selain itu, keistimewaan shalawat juga
mendapat perhatian Imam Abu Laits as-Samarqandi (wafat 373 H). Menurutnya,
terdapat keistimewaan tersendiri dalam perintah bershalawat. Pada berbagai
ibadah, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakannya.
Sementara dalam shalawat, Allah terlebih
dahulu bershalawat kepada Nabi SAW, kemudian para malaikat-Nya, lalu
memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan hal yang sama.
فَفِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ أَمَرَ
اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ بِهَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ صَلَّى عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوَّلًا، وَأَمَرَ
مَلَائِكَتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ
يُصَلُّوا عَلَيْهِ، فَثَبَتَ بِهَذَا أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ
“Dalam berbagai ibadah lainnya, Allah
Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Tetapi dalam hal bershalawat
kepada Nabi SAW, Allah terlebih dahulu bershalawat kepada beliau, kemudian
memerintahkan para malaikat-Nya untuk bershalawat kepadanya, lalu memerintahkan
orang-orang beriman agar turut bershalawat kepada beliau. Dari sini dapat
dipahami bahwa bershalawat kepada Nabi SAW memiliki kedudukan yang sangat utama
di antara berbagai bentuk ibadah.” (Tanbih
al-Ghafilin [Beirut: Dar Ibn Katsir], vol. 1, h. 412)
Sebab itulah, bulan kelahiran Rasulullah dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin membiasakan lisan dengan bacaan shalawat, sekaligus memperkuat hubungan batin dan kecintaan kepada beliau.
Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW
2. Melaksanakan puasa
Di samping memperbanyak bacaan shalawat,
puasa menjadi amalan berikutnya yang dapat dilakukan sepanjang bulan Rabiul
Awal. Salah satu landasannya, bisa dilihat dari kebiasaan Rasulullah SAW
berpuasa pada hari Senin, hari di mana beliau dilahirkan. Tatkala ditanya
mengenai puasa Senin, beliau lantas menjawab:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ
الْإِثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ
أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Artinya: “Nabi SAW ditanya mengenai
puasa hari Senin. Beliau menjawab; Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari
itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu.” (HR Muslim)
Hadis di atas menunjukkan adanya hubungan
antara puasa dan rasa syukur terhadap nikmat besar yang Allah anugerahkan pada
suatu hari. Rasulullah sendiri mengaitkan puasa Senin dengan hari kelahiran dan
turunnya wahyu kepadanya.
Terkait hal ini, Imam Ibn Rajab al-Hanbali
(wafat 795 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung
isyarat perihal anjuran berpuasa pada hari ketika nikmat Allah kembali
dikenang. Adapun diutusnya Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu nikmat
terbesar bagi umat Islam.
وَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ: ذَاكَ
يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَتْ عَلَيَّ فِيْهِ النُّبُوَّةُ، إِشَارَةٌ
إِلَى اسْتِحْبَابِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الَّتِي تَتَجَدَّدُ فِيْهَا نِعَمُ اللهِ
تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ. فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ
إِظْهَارُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَبَعْثَتُهُ،
وَإِرْسَالُهُ إِلَيْهِمْ... فَصِيَامُ يَوْمٍ تَجَدَّدَتْ فِيْهِ هَذِهِ
النِّعَمُ مِنَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ حَسَنٌ جَمِيلٌ، وَهُوَ
مِنْ بَابِ مُقَابَلَةِ النِّعَمِ فِي أَوْقَاتِ تَجَدُّدِهَا بِالشُّكْرِ
“Dalam sabda Nabi SAW saat beliau
ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari ketika aku
dilahirkan dan pada hari itu pula kenabian diturunkan kepadaku. Hadis ini
mengisyaratkan anjuran berpuasa pada hari-hari ketika nikmat Allah Ta’ala
kembali dikenang dan diperbarui bagi para hamba-Nya. Sebab, di antara nikmat
Allah yang paling agung bagi umat ini adalah diutus dan dihadirkannya Nabi
Muhammad SAW kepada mereka sebagai rasul. …. Karena itu, berpuasa pada hari
yang menjadi momentum datangnya nikmat-nikmat tersebut merupakan amalan yang
baik dan terpuji. Hal ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat Allah pada waktu
ketika nikmat itu kembali dikenang dan dirasakan.”
(Lathaif al-Ma’arif [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 236)
Oleh karenanya, melaksanakan puasa, terlebih puasa Senin, bisa menjadi salah satu cara mengisi bulan Maulid dengan ibadah sekaligus mensyukuri nikmat kelahiran dan diutusnya Rasulullah.
Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW
3. Memperingati Maulid Nabi SAW
Amalan selanjutnya adalah memperingati
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid menjadi salah satu bentuk
ekspresi kegembiraan, kecintaan, dan penghormatan umat Islam kepada Rasulullah.
Dalam pelaksanaannya, Maulid lazimnya diisi
dengan kegiatan kumpul bersama, membaca Alquran, mengisahkan perjalanan dan
kelahiran Rasulullah, bershalawat, bersedekah, serta menyediakan makanan bagi
jamaah. Dengan demikian, momentum Maulid sejatinya menghimpun berbagai bentuk
amal kebajikan dalam satu majelis.
Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H)
menuturkan bahwa bentuk peringatan Maulid yang berisi kegiatan-kegiatan
demikian termasuk “bid’ah hasanah”. Menurutnya, pelakunya memperoleh
pahala lantaran terdapat unsur pengagungan terhadap kedudukan Rasulullah serta
ekspresi kegembiraan atas kelahiran beliau.
أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ
الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ،
وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ
يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطًا يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ
عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا
لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِهِ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ
بِمَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّرِيْفِ
“Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Alquran yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi SAW serta tanda-tanda yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Setelahnya, dihidangkan makanan untuk disantap bersama. Kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut. Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi SAW serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia.” (Husnul-Maqshud fil-’Amal al-Maulidi [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], h. 41)
Dengan begitu, kegiatan peringatan Maulid
hakikatnya tidak sebatas mengenang sebuah peristiwa bersejarah. Ketika diisi
dengan membaca Alquran, shalawat, sedekah, pembacaan sirah, dan berbagai amalan
lainnya, momentum ini juga menjadi sarana guna menumbuhkan kecintaan kepada
Rasulullah dan mensyukuri nikmat Allah atas diutusnya beliau.
Demikianlah tiga amalan yang dapat diperbanyak selama bulan Maulid, yakni bershalawat, berpuasa, dan memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Ketiganya memiliki landasan yang kuat dari Alquran, hadis, dan penjelasan para ulama, sebagaimana uraian yang telah dipaparkan di atas. Wallahu a‘lam bis shawab.