Lewati ke konten utama
Jumat, 2 Oktober 2026 / 20 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah Jumat: Mencintai Sesama Manusia, Cermin Kesempurnaan Iman
Foto: Pinterest
Khutbah

Khutbah Jumat: Mencintai Sesama Manusia, Cermin Kesempurnaan Iman

Khutbah Jumat: Mencintai Sesama Manusia, Cermin Kesempurnaan Iman

/ 20 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 176 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Admin Admin Editor: Admin

Oleh: Dr. KH. Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 2 MUI Kota Tangerang

Khutbah I

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً، وَأَمَرَ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَاةً دَائِمَةً مَقْبُوْلَةً تُؤَدِّيْ بِهَا عَنَّا حَقَّهُ الْعَظِيْمَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ)


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sering kali kita memahami iman hanya sebatas hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Sang Pencipta melalui shalat, zakat, dan puasa. Namun, Islam adalah agama yang sempurna yang juga menekankan hubungan horizontal antar sesama manusia. Salah satu tolak ukur paling nyata dari kesempurnaan iman seseorang adalah sejauh mana ia mampu mencintai sesamanya.

Islam adalah agama yang dibangun di atas kasih sayang dan cinta. Salah satu bukti kesempurnaan iman seorang muslim bukan hanya terletak pada ibadah ritualnya, tetapi pada sikap cintanya kepada sesama manusia. Iman yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia, penuh empati, dan menjauhkan diri dari kebencian serta permusuhan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Allah Ta‘ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia, tanpa memandang latar belakang, selama tidak mengajak kepada kemaksiatan.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa cinta kepada sesama merupakan ukuran kualitas iman seseorang. Semakin tinggi imannya, semakin besar kasih sayangnya.

Setidaknya terdapat dua hal penting yang tersirat dalam hadis di atas, yakni sebagai berikut:

Pertama, cinta di antara sesama manusia adalah syarat kesempurnaan iman. Artinya, iman bukanlah sekadar ucapan di lisan atau keyakinan di hati, melainkan tercermin dalam akhlak dan empati.

Hadis tersebut merupakan kaidah emas dalam Islam. Standar kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, haruslah menjadi standar kebaikan yang kita inginkan bagi orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Jika kita tidak ingin disakiti, maka janganlah menyakiti sesama.

Kedua, membangun empati dan kepedulian. Ketahuilah, bahwa mencintai sesama manusia berarti merasakan penderitaan mereka dan ikut berbahagia atas keberuntungan mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaiakanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Di sini ditegaskan, bahwa persaudaraan (ukhuwah) yang dibangun di atas fondasi iman melampaui batas-batas nasab, suku, maupun bangsa. Dan bahwa mencintai dan menyayangi sesama manusia adalah bentuk pengakuan bahwa kita semua adalah hamba Allah yang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dan keadilan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kedengkian kepada sesama manusia. Al-Ghazali juga menekankan bahwa ibadah yang paling cepat mengangkat derajat seseorang adalah menebar kemanfaatan bagi manusia lainnya.

Bahkan, ulama besar Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata: “Bukanlah seseorang dikatakan mengenal Allah jika ia tidak mengasihi makhluk-Nya? Barang siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti akan mencintai apa yang dicintai Allah, dan Allah mencintai kasih sayang di antara hamba-Nya.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mencintai sesama manusia dalam konteks kehidupan modern saat ini dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, di antaranya:

1. Menjaga lisan dan tangan di ruang digital

Wujud nyata kasih sayang di era digital adalah dengan bijak bermedia sosial. Kita dapat mengamalkannya dengan tidak menyebarkan berita bohong (hoaks), tidak memproduksi fitnah, serta menghindari komentar yang menghina atau menjatuhkan orang lain, demi terciptanya ekosistem digital yang sehat dan damai.

2. Peka dan ringan tangan membantu kesulitan sesama

Kepedulian sosial dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti sigap membantu tetangga atau rekan kerja yang sedang tertimpa musibah. Bantuan ini tidak selalu harus berupa materi, tetapi juga bisa melalui tenaga, waktu, atau sekadar kehadiran untuk menguatkan mental mereka.

3. Berjiwa besar dengan memberi maaf

Menebar cinta kasih juga berarti merawat kesehatan mental dan batin dengan cara tidak menyimpan dendam. Selalu membuka pintu maaf atas kesalahan orang lain adalah bentuk kedewasaan emosional yang memutus rantai kebencian dan menciptakan keharmonisan antarsesama.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Jamaah sekalian, mari kita jadikan cinta kepada sesama sebagai gaya hidup. Iman kita tidak akan mencapai derajat kesempurnaan jika kita masih memelihara kebencian, rasisme, atau sikap takabur yang merendahkan manusia lain. Ingatlah bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, dan puncak dari akhlak adalah kasih sayang (rahmah).

Mencintai sesama manusia bukan hanya dengan ucapan, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata. Kita menolong yang lemah, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, serta menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain.

Islam melarang segala bentuk kebencian, fitnah, dan permusuhan yang merusak persaudaraan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim adalah sumber keselamatan bagi orang lain, baik dari lisan maupun tangannya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa hakikat iman tampak pada akhlak seseorang terhadap sesamanya. Oleh karena itu, marilah kita jadikan cinta dan kasih sayang sebagai prinsip hidup. Di tengah perbedaan, kita kedepankan toleransi. Di tengah perselisihan, kita utamakan musyawarah. Di tengah ujian kehidupan, kita hadir sebagai penebar kebaikan.

Sebagai penutup, marilah kita merenungi bahwa setiap manusia yang kita temui adalah ladang pahala bagi kita. Dengan mencintai mereka karena Allah, kita sebenarnya sedang menjemput cinta dan ridha Allah SWT.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

BAGIKAN: