Lewati ke konten utama
Rabu, 1 Juli 2026 / 15 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Ketika Sayyid Utsman Bin Yahya Menyalakan Sebuah “Lampu”

5 menit baca 533 dibaca
Fathurrochman Karyadi, M.A

Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A

Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Kitab Sayyid Utsman Bin Yahya “Lampu Bercahaya” dalam tab
Kitab Sayyid Utsman Bin Yahya “Lampu Bercahaya” dalam tab. Foto: Atunk
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di Jakarta masih banyak kita jumpai manuskrip dan litografi (cetak batu) berupa kitab-kitab tipis beraksara Jawi atau Arab Melayu. Di dalamnya banyak tercatat pemikiran para ulama yang tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun kehidupan yang lebih baik. Salah satu di antaranya adalah sebuah risalah ringkas berjudul Lampu Bercahaya Menyatakan Perihal Dua Perangai Manusia karya Sayyid Utsman Bin Yahya (1822–1914) yang disusun pada 1889 atau 1317.

Kitab yang ditulis di Kampung Petamburan, Betawi (Jakarta) ini pada pandangan pertama tampak sebagai risalah akhlak sederhana. Di samping hanya setebal 8 halaman, pembahasannya juga singkat dan tidak terdapat referensi atau rujukan kitab-kitab besar.

Jika dibaca lebih detail, kitab ini merupakan sebuah moral mengenai bagaimana seorang manusia membentuk nasibnya melalui pilihan-pilihan hidup.

Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara

Sayyid Utsman sebenarnya ingin menjawab sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, apa sebab seseorang menjadi manusia bijaksana yang memperoleh berbagai keuntungan, dan apa sebab seseorang menjadi manusia jahat yang memperoleh berbagai kerugian?

Jawaban yang ia berikan berpangkal pada pertarungan dua perangai yang selalu hadir dalam diri manusia, yakni perangai sabar dan perangai mengikuti nafsu jahat.

Sabar dalam pengertian yang digunakan Sayyid Utsman tidak semata berarti menahan emosi, tetapi kemampuan menahan kesulitan pada awal perjalanan demi memperoleh kebaikan pada masa yang akan datang. Sebaliknya, mengikuti nafsu jahat digambarkan sebagai pilihan terhadap kenikmatan sesaat yang pada akhirnya mendatangkan penyesalan.

Dari dua perangai tersebut, Sayyid Utsman kemudian menerjemahkannya ke dalam kehidupan sosial yang sangat konkret.

Perangai sabar melahirkan kesungguhan dalam belajar, kesediaan bekerja secara halal, kesadaran mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak, kemampuan menjaga keluarga, serta keteguhan memelihara amanah dan kepercayaan. Sebaliknya, mengikuti nafsu jahat tampak dalam kemalasan menuntut ilmu, keengganan bekerja sehingga memilih jalan tipu daya, pengabaian pendidikan anak, kelalaian terhadap keluarga, dan pengkhianatan terhadap amanah.

Baca juga: Buya Hamka dan Kisah Pulau Serendib

Apa yang menarik dari risalah kecil ini adalah kedekatannya dengan persoalan masyarakat yang sedang berubah. Sayyid Utsman hidup pada masa Batavia kolonial yang mengalami transformasi sosial cukup besar. Perkembangan birokrasi modern, perdagangan, ekonomi uang, serta semakin kompleksnya hubungan sosial menuntut lahirnya nilai-nilai baru seperti profesionalitas, kedisiplinan, pendidikan, dan kepercayaan.

Karena itu, Lampu Bercahaya tidak berhenti pada nasihat kesalehan individual, tetapi menghadirkan sebuah etika sosial yang menghubungkan akhlak dengan ilmu, pekerjaan, keluarga, dan kehormatan di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, karya Sayyid Utsman menunjukkan bahwa ulama Nusantara pada pengujung abad ke-19 telah terlibat dalam proses pembentukan masyarakat modern melalui bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Sayyid Utsman tidak memilih menyusun kitab dengan perdebatan teologis yang rumit, tetapi menggunakan bahasa Melayu sehari-hari dengan struktur fasal yang sederhana dan pengulangan yang kuat agar pesan-pesan moralnya mudah diingat. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama karya tersebut.

Baca juga: Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung

Soal pentingnya pendidikan, Sayyid Utsman berkata, “Sebab yang ketiga mengusahakan dengan mengukurkan ongkos buat pelajaran ke anak2 akan mendapatkan pengertian dan kepintaran yang baik. Maka dengan pengajaran itu nanti ia dapat senang hati melihatnya ke anak2nya menjadi orang baik dan juga diharap dibelakang kalinya menjadi berguna padanya”.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam pandangan Sayyid Utsman, pendidikan bukanlah sekadar perkara memperoleh kepandaian atau menjadi jalan mencari penghidupan, tetapi merupakan ikhtiar jangka panjang untuk membentuk manusia yang baik dan bermanfaat. Ia juga ingin memberikan kesadaran bahwa pendidikan membutuhkan pengorbanan materi dan kesungguhan orang tua.

Dalam konteks masyarakat Betawi tahun 1889, gagasan ini memperlihatkan pandangan yang cukup progresif, orang tua didorong untuk mengalokasikan sebagian hartanya demi ilmu anak-anaknya, karena buah dari pendidikan bukan hanya kecerdasan, melainkan kebahagiaan moral ketika melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kelak dapat memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.

Kajian tentang Sayyid Utsman sendiri telah banyak dilakukan oleh para sarjana. Nico J.G. Kaptein (2014), dalam berbagai penelitiannya mengenai kehidupan dan karya Sayyid Utsman, menunjukkan posisinya sebagai ulama yang memiliki peranan penting dalam jaringan intelektual Islam di Nusantara dan hubungan yang kompleks dengan pemerintahan kolonial Belanda.

Ali Yahya (2024) melalui kajian biografisnya menyoroti peranan Sayyid Utsman sebagai seorang mufti, pendidik, dan penulis yang sangat produktif dalam tradisi keilmuan Betawi dalam perspektif tokoh ulama Betawi, KH Saifuddin Amsir.

Baca juga: Islam tak Berhenti pada Simbol

Menguji Relevansi

Sebagaimana setiap karya yang lahir dari konteks sejarah tertentu, Lampu Bercahaya juga perlu dibaca secara kritis. Pembagian manusia hanya ke dalam dua kategori, yaitu manusia baik dan manusia jahat, menunjukkan cara pandang moral yang cenderung dikotomis.

Dari sudut pandang ilmu sosial modern, kegagalan seseorang dalam pendidikan atau ekonomi tidak selalu dapat dijelaskan sebagai akibat kelemahan karakter pribadi. Struktur sosial, kemiskinan, ketimpangan akses, dan kebijakan negara juga memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan hidup seseorang.

Bagian mengenai pendidikan anak menjadi contoh yang menarik untuk didialogkan dengan keadaan Indonesia hari ini. Pada 1899, Sayyid Utsman mengingatkan orang tua agar mau mengorbankan biaya demi pendidikan anak-anaknya karena ilmu adalah jalan menuju kehidupan yang baik.

Baca juga: Membaca Fatwa MUI dengan Perspektif Fiqih: Tidak Semua Alkohol Haram?

Namun demikian, lebih dari satu abad kemudian, persoalan pendidikan tinggi justru menghadapi ironi yang berbeda. Banyak keluarga yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pendidikan, tetapi terbentur oleh mahalnya biaya kuliah, meningkatnya tunggakan Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan risiko putus kuliah. Dengan demikian, persoalannya tidak lagi sesederhana keinginan untuk bersekolah, melainkan juga berkaitan dengan akses dan keadilan pendidikan.

Di sinilah menariknya membaca kembali manuskrip lama. Teks seperti Lampu Bercahaya tidak harus diterima secara harfiah sebagai jawaban untuk seluruh persoalan zaman, tetapi dapat diajak berdialog dengan kondisi masyarakat sekarang.

Dari Sayyid Utsman kita memperoleh pelajaran bahwa ilmu, kerja keras, tanggung jawab keluarga, dan amanah merupakan fondasi utama kehidupan yang baik. Dari realitas masa kini kita diingatkan bahwa masyarakat dan negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan jalan menuju ilmu tetap terbuka bagi setiap orang.

Baca juga: Menyoal Orang Tua yang Mengeluarkan Anak dari Ahli Waris

Lebih dari seratus dua puluh tahun setelah ditulis, cahaya kecil yang dinyalakan Sayyid Utsman melalui risalah ini masih dapat menerangi pembacanya. Bukan karena seluruh pandangannya harus diterima tanpa kritik, melainkan karena menyimpan kesaksian penting tentang bagaimana seorang ulama Betawi pada masa kolonial membayangkan masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang berilmu, bekerja dengan jujur, menjaga keluarga, dan memegang teguh kepercayaan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.