Ketika Sayyid Utsman Bin Yahya Menyalakan Sebuah “Lampu”
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di Jakarta masih banyak kita jumpai manuskrip dan litografi (cetak batu) berupa kitab-kitab tipis beraksara Jawi atau Arab Melayu. Di dalamnya banyak tercatat pemikiran para ulama yang tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun kehidupan yang lebih baik. Salah satu di antaranya adalah sebuah risalah ringkas berjudul Lampu Bercahaya Menyatakan Perihal Dua Perangai Manusia karya Sayyid Utsman Bin Yahya (1822–1914) yang disusun pada 1889 atau 1317.
Kitab yang ditulis di
Kampung Petamburan, Betawi (Jakarta) ini pada pandangan pertama tampak sebagai
risalah akhlak sederhana. Di samping hanya setebal 8 halaman, pembahasannya
juga singkat dan tidak terdapat referensi atau rujukan kitab-kitab besar.
Jika dibaca lebih detail, kitab ini merupakan sebuah moral mengenai bagaimana seorang manusia membentuk nasibnya melalui pilihan-pilihan hidup.
Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara
Sayyid Utsman sebenarnya ingin menjawab sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, apa sebab seseorang menjadi manusia bijaksana yang memperoleh berbagai keuntungan, dan apa sebab seseorang menjadi manusia jahat yang memperoleh berbagai kerugian?
Jawaban yang ia
berikan berpangkal pada pertarungan dua perangai yang selalu hadir dalam diri
manusia, yakni perangai sabar dan perangai mengikuti nafsu jahat.
Sabar dalam pengertian
yang digunakan Sayyid Utsman tidak semata berarti menahan emosi, tetapi
kemampuan menahan kesulitan pada awal perjalanan demi memperoleh kebaikan pada
masa yang akan datang. Sebaliknya, mengikuti nafsu jahat digambarkan sebagai
pilihan terhadap kenikmatan sesaat yang pada akhirnya mendatangkan penyesalan.
Dari dua perangai
tersebut, Sayyid Utsman kemudian menerjemahkannya ke dalam kehidupan sosial
yang sangat konkret.
Perangai sabar melahirkan kesungguhan dalam belajar, kesediaan bekerja secara halal, kesadaran mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak, kemampuan menjaga keluarga, serta keteguhan memelihara amanah dan kepercayaan. Sebaliknya, mengikuti nafsu jahat tampak dalam kemalasan menuntut ilmu, keengganan bekerja sehingga memilih jalan tipu daya, pengabaian pendidikan anak, kelalaian terhadap keluarga, dan pengkhianatan terhadap amanah.
Baca juga: Buya Hamka dan Kisah Pulau Serendib
Apa yang menarik dari
risalah kecil ini adalah kedekatannya dengan persoalan masyarakat yang sedang
berubah. Sayyid Utsman hidup pada masa Batavia kolonial yang mengalami transformasi
sosial cukup besar. Perkembangan birokrasi modern, perdagangan, ekonomi uang,
serta semakin kompleksnya hubungan sosial menuntut lahirnya nilai-nilai baru
seperti profesionalitas, kedisiplinan, pendidikan, dan kepercayaan.
Karena itu, Lampu
Bercahaya tidak berhenti pada nasihat kesalehan individual, tetapi
menghadirkan sebuah etika sosial yang menghubungkan akhlak dengan ilmu,
pekerjaan, keluarga, dan kehormatan di tengah masyarakat.
Dalam hal ini, karya Sayyid
Utsman menunjukkan bahwa ulama Nusantara pada pengujung abad ke-19 telah
terlibat dalam proses pembentukan masyarakat modern melalui bahasa yang mudah
dipahami oleh masyarakat awam.
Sayyid Utsman tidak memilih menyusun kitab dengan perdebatan teologis yang rumit, tetapi menggunakan bahasa Melayu sehari-hari dengan struktur fasal yang sederhana dan pengulangan yang kuat agar pesan-pesan moralnya mudah diingat. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama karya tersebut.
Baca juga: Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung
Soal pentingnya
pendidikan, Sayyid Utsman berkata, “Sebab yang ketiga mengusahakan dengan
mengukurkan ongkos buat pelajaran ke anak2 akan mendapatkan pengertian dan
kepintaran yang baik. Maka dengan pengajaran itu nanti ia dapat senang hati
melihatnya ke anak2nya menjadi orang baik dan juga diharap dibelakang kalinya
menjadi berguna padanya”.
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa dalam pandangan Sayyid Utsman, pendidikan bukanlah sekadar
perkara memperoleh kepandaian atau menjadi jalan mencari penghidupan, tetapi
merupakan ikhtiar jangka panjang untuk membentuk manusia yang baik dan
bermanfaat. Ia juga ingin memberikan kesadaran bahwa pendidikan membutuhkan
pengorbanan materi dan kesungguhan orang tua.
Dalam konteks
masyarakat Betawi tahun 1889, gagasan ini memperlihatkan pandangan yang cukup
progresif, orang tua didorong untuk mengalokasikan sebagian hartanya demi ilmu
anak-anaknya, karena buah dari pendidikan bukan hanya kecerdasan, melainkan
kebahagiaan moral ketika melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan
kelak dapat memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.
Kajian tentang Sayyid
Utsman sendiri telah banyak dilakukan oleh para sarjana. Nico J.G. Kaptein (2014),
dalam berbagai penelitiannya mengenai kehidupan dan karya Sayyid Utsman,
menunjukkan posisinya sebagai ulama yang memiliki peranan penting dalam
jaringan intelektual Islam di Nusantara dan hubungan yang kompleks dengan
pemerintahan kolonial Belanda.
Ali Yahya (2024) melalui kajian biografisnya menyoroti peranan Sayyid Utsman sebagai seorang mufti, pendidik, dan penulis yang sangat produktif dalam tradisi keilmuan Betawi dalam perspektif tokoh ulama Betawi, KH Saifuddin Amsir.
Baca juga: Islam tak Berhenti pada Simbol
Menguji Relevansi
Sebagaimana setiap
karya yang lahir dari konteks sejarah tertentu, Lampu Bercahaya juga
perlu dibaca secara kritis. Pembagian manusia hanya ke dalam dua kategori,
yaitu manusia baik dan manusia jahat, menunjukkan cara pandang moral yang
cenderung dikotomis.
Dari sudut pandang
ilmu sosial modern, kegagalan seseorang dalam pendidikan atau ekonomi tidak
selalu dapat dijelaskan sebagai akibat kelemahan karakter pribadi. Struktur
sosial, kemiskinan, ketimpangan akses, dan kebijakan negara juga memiliki
pengaruh besar terhadap perjalanan hidup seseorang.
Bagian mengenai pendidikan anak menjadi contoh yang menarik untuk didialogkan dengan keadaan Indonesia hari ini. Pada 1899, Sayyid Utsman mengingatkan orang tua agar mau mengorbankan biaya demi pendidikan anak-anaknya karena ilmu adalah jalan menuju kehidupan yang baik.
Baca juga: Membaca Fatwa MUI dengan Perspektif Fiqih: Tidak Semua Alkohol Haram?
Namun demikian, lebih
dari satu abad kemudian, persoalan pendidikan tinggi justru menghadapi ironi
yang berbeda. Banyak keluarga yang memiliki kesadaran tinggi terhadap
pentingnya pendidikan, tetapi terbentur oleh mahalnya biaya kuliah,
meningkatnya tunggakan Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan risiko putus kuliah.
Dengan demikian, persoalannya tidak lagi sesederhana keinginan untuk
bersekolah, melainkan juga berkaitan dengan akses dan keadilan pendidikan.
Di sinilah menariknya
membaca kembali manuskrip lama. Teks seperti Lampu Bercahaya tidak harus
diterima secara harfiah sebagai jawaban untuk seluruh persoalan zaman, tetapi
dapat diajak berdialog dengan kondisi masyarakat sekarang.
Dari Sayyid Utsman kita memperoleh pelajaran bahwa ilmu, kerja keras, tanggung jawab keluarga, dan amanah merupakan fondasi utama kehidupan yang baik. Dari realitas masa kini kita diingatkan bahwa masyarakat dan negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan jalan menuju ilmu tetap terbuka bagi setiap orang.
Baca juga: Menyoal Orang Tua yang Mengeluarkan Anak dari Ahli Waris
Lebih dari seratus dua puluh tahun setelah ditulis, cahaya kecil yang dinyalakan Sayyid Utsman melalui risalah ini masih dapat menerangi pembacanya. Bukan karena seluruh pandangannya harus diterima tanpa kritik, melainkan karena menyimpan kesaksian penting tentang bagaimana seorang ulama Betawi pada masa kolonial membayangkan masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang berilmu, bekerja dengan jujur, menjaga keluarga, dan memegang teguh kepercayaan.