Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Manifestasi Tawakal Fase Makkah

5 menit baca 98 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Manifestasi Tawakal Fase Makkah
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Mengapa sebuah gerakan spiritual yang baru lahir, tanpa kekuatan militer dan tanpa logistik yang mapan, justru diperintahkan untuk “berserah diri” sejak awal Islam?

Dalam diskursus kontemporer, sering menyaksikan agama terjebak dalam dua kutub ekstrem antara formalisme ritual yang kering atau spiritualisme utopis yang mengabaikan realitas. Namun, jika melacak kembali genetika Islam ke fase paling awal, yaitu periode Makkah, maka akan menemukan sebuah konsep sosiologis dan teologis yang sangat kokoh: tawakal.

Melalui surat Al-Muzzammil ayat 9, Allah mendidik mental Rasulullah dan para sahabat pada awal masa kenabian. Ayat ini bukan sekadar pelipur lara bagi Rasulullah yang sedang ditekan oleh oligarki Quraisy, melainkan sebuah strategi psikologis dan metodologis dalam berislam.

Bagaimana para pakar tafsir otoritatif membedah ayat ini, dan mengapa tawakal menjadi kurikulum penting sebelum perintah perjuangan fisik diturunkan?

Allah berfirman dalam surat Al-Muzzammil ayat 9:

رَّبُّ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذْهُ وَكِيلًا

“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.”

Baca juga: Menghadirkan Kepatuhan Syariah dalam Tata Kelola Zakat Nasional

Secara kronologis, ayat ini turun saat instabilitas sosial-politik menghimpit dakwah Islam. Rasulullah diperintahkan untuk melakukan kerja-kerja peradaban yang besar dengan sumber daya manusia yang sangat terbatas. Di sinilah Allah menurunkan ayat ini sebagai jangkar eksistensial.

Untuk memahami kedalaman ayat ini secara akademis, saya merasa perlu meninjau pembacaan dari tiga mufasir lintas era. Berikut keterangannya:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, seorang pakar tafsir abad ke-14 H, menyoroti frasa “Rabbul masyriq wal maghrib” sebagai “isim jenis” yang mencakup seluruh dimensi ruang. Allah “memposisikan” diri-Nya bukan hanya sebagai Pencipta (Khaliq), melainkan Pengatur kemaslahatan (Rabb) atas hukum fisik maupun metafisik. Jadi, sebelum manusia diperintahkan bersandar, Allah menunjukkan bahwa “tiang sandaran” tersebut memegang kendali penuh atas seluruh variabel kehidupan.

Prof Dr Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz, beliau mengorelasikan antara “uluhiyah” (ketuhanan) dan tawakal. Kalimat “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia” adalah premis mayor, sedangkan “Maka ambillah Dia sebagai pelindung (Wakil)” adalah kesimpulan logisnya. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat mengklaim tauhidnya sempurna jika fungsi pengurusan urusannya masih diserahkan kepada makhluk. Sebab tawakal adalah buah empiris dari pohon tauhid.

Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi melalui An-Nafahat Al-Makkiyah, menjelaskan bahwa ayat ini dipotret sebagai bekal strategi dakwah. Sebelum terjun ke masyarakat, seorang “agen perubahan” harus menjalin hubungan dengan Dzat Penguasa alam semesta. Dan tawakal di fase Makkah berfungsi sebagai pelindung mental agar tidak frustrasi saat menghadapi penolakan dan tidak jemawa saat mencapai keberhasilan.

Baca juga: Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?

Menolak Pasrah Buta

Sering kali tawakal disalahartikan secara peyoratif sebagai fatalisme (pasrah bongkokan). Perspektif akademik Islam menolak keras reduksi ini. Sahl at-Tusturi rahimahullah menegaskan batasannya dengan sangat elegan: “Barang siapa mencela tawakal, sungguh ia telah mencela iman. Dan barang siapa mencela usaha (ikhtiar), sungguh ia telah mencela sunnah.”

Secara operasional, tawakal yang benar ditopang oleh dua pilar. Pertama, dimensi kausalitas (sunnatullah), yakni melakukan usaha dengan anggota badan. Ini adalah bentuk ketaatan fisik, seperti perintah bersiap siaga dalam perang (QS. An-Nisa’: 71) atau bertebaran mencari karunia setelah shalat (QS. Al-Jumu’ah: 10). Kedua, dimensi spiritual-transendental, yaitu ketergantungan hati secara total hanya kepada Allah, bukan pada usaha tersebut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa rahasia tawakal adalah kepasrahan hati yang mutlak. Beliau membuat perumpamaan yang menyentuh: “Orang yang bertawakal itu seperti anak kecil yang tidak mengetahui apa pun yang dapat melindunginya selain ibunya. Ke mana pun ia pergi, hatinya hanya terpaku pada sang ibu.”

Sederhananya, jika di dalam hati masih ada ketergantungan pada sebab (makhluk, materi, atau kepintaran diri), maka tawakalnya cacat. Karenanya, ucapan “Saya bertawakal kepada Allah” di lisan akan menjadi sia-sia jika hatinya masih bersandar pada selain-Nya. Sama seperti orang yang berkata “Saya bertaubat”, namun fisiknya terus berkubang dalam maksiat.

Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

Esensi Tertinggi dalam Tawakal

Kesalahan umum manusia modern adalah mereduksi tawakal hanya untuk urusan domestik-duniawi; seperti urusan rezeki, jodoh, atau karier. Padahal, level tertinggi dari konsep ini adalah tawakal dalam urusan akhirat.

Ibnul Qayyim menyatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid, konsisten mencontoh Rasulullah serta berjuang melawan kebatilan. Inilah potret tawakal para nabi dan pengikut utamanya. Mereka tidak mencemaskan apa yang mereka makan besok, melainkan bagaimana agar iman ini tidak goyah esok hari.

Oleh karena itu, Alquran secara eksplisit menjadikan tawakal sebagai syarat mutlak keimanan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 23, yang artinya: “…Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Begitu juga firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 2, yang artinya: “... Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Lalu bagaimana mengetahui bahwa kita sudah tawakal? Di sini indikatornya tidak lain adalah lahirnya ridha. Ibnul Qayyim menyebutkan, bahwa ridha adalah buah paling mulia dari tawakal. Ketika kita sudah menyerahkan seluruh urusan kepada Dzat Yang Maha Tahu, maka apa pun keputusan-Nya, baik yang sesuai keinginan kita maupun tidak, akan diterima dengan dada yang lapang dan hati yang tenang.

Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

Mari kita renungkan garansi absolut dari Allah, sebagaimana ditegaskan dalam surat Ath-Thalaq ayat 3, yang artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Suatu hari, Rasulullah membacakan ayat di atas kepada Abu Dzar al-Ghifari, lalu bersabda, yang artinya: “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.”

Imam al-Qurthubi menjelaskan ayat ini dengan lebih sederhana. Ditafsirkan menjadi, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan mengambil alih seluruh kebutuhannya.”

Di tengah dunia modern yang bising dan penuh kecemasan eksistensial ini, tidak ada terapi psikologis yang lebih menenangkan selain menyadari bahwa kita memiliki Tuhan (Rabb) Penguasa Timur dan Barat.

Oleh karena itu, berikhtiarlah menjadi lebih profesional di bumi. Lepaskan kecemasanmu dan biarkan Allah yang mengurus sisanya. Sungguh, Allah itu Mahacukup, dan cukuplah Allah bagi kita.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.