Pola Tipu Daya Setan pada Ahli Ibadah yang Serakah
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Salah satu gambaran paling telanjang tentang tipu daya setan terdapat dalam firman Allah:
كَمَثَلِ
الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي
بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“(Mereka itu)
seperti setan ketika berkata kepada manusia, ‘Kafirlah engkau!’ Maka ketika ia
telah kafir, setan berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sungguh,
aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-Hasyr: 16)
Ayat ini, sebagaimana dijelaskan para ulama tafsir, bukan sekadar kisah tentang kekafiran. Ia adalah pola. Pola lama yang terus berulang. Awalnya setan menggoda, lalu manusia terjerumus, dan pada akhirnya setan berlepas diri. Selesai. Korban dibiarkan menanggung akibatnya sendiri.
Baca juga: Allah Memuji Seorang Mukmin yang Sabar Menghadapi Ujian Hidup
Dalam Tafsir
ath-Thabari, ayat ini mula-mula dikaitkan dengan pengkhianatan kaum munafik
yang menjanjikan pertolongan kepada Yahudi, namun pada saat genting justru
meninggalkan mereka.
Jika dikaji lebih
dalam, maknanya jauh lebih luas. Pesan yang tersirat mencakup siapa saja yang
tertipu oleh janji palsu setan, lalu ditinggalkan dalam kehancuran.
Untuk memperjelas pola
ini, ath-Thabari menghadirkan sebuah kisah yang begitu terkenal di kalangan
ulama, yaitu kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang tekun beribadah
selama puluhan tahun.
Meski sebagian ulama
meragukan kebenaran riwayat kisah ini, tetapi dalam banyak tafsir kisah ini
tetap dikutip dan dijadikan permisalan.
Ahli ibadah dari Bani Israil yang disinggung dalam kisah tersebut bukan orang biasa. Namanya adalah Barshisha. Ia dikenal, dipercaya, bahkan dijadikan rujukan oleh umat. Naifnya, dari titik inilah kemudian setan memulai serangannya.
Baca juga: Makna Filosofis Gerakan Ibadah Shalat
Kisahnya cukup
panjang. Dalam Tafsir ath-Thabari, riwayat ini antara lain disebut
diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu. Kutipan ringkasnya kurang
lebih begini:
إن راهبا تعبد
ستين سنة، وإن الشيطان أراده فأعياه، فعمد إلى امرأة فأجنها ولها إخوة، فقال
لإخوتها: عليكم بهذا القس فيداويها... فبينما هو يوما عندها إذ أعجبته، فأتاها
فحملت، فعمد إليها فقتلها... فقال الشيطان للراهب: أنا صاحبك... فاسجد لي سجدة.
فسجد له، فلما سجد له قال: إني بريء منك، إني أخاف الله رب العالمين
Seorang rahib
(Barshisha) telah beribadah selama enam puluh tahun. Lalu setan ingin
menyesatkannya, namun merasa kesulitan (karena kuatnya ibadahnya). Maka setan
pun mendatangi seorang perempuan, lalu menjadikannya gila, sementara perempuan
itu memiliki beberapa saudara laki-laki.
Setan kemudian berkata
kepada saudara-saudaranya, “Bawalah dia kepada pendeta (rahib) ini agar ia
mengobatinya.”
Mereka pun membawanya
kepada rahib tersebut, dan ia mulai merawatnya. Hingga pada suatu hari, ketika sang
rahib sedang bersamanya, ia mulai tertarik kepadanya. Maka rahib itu pun
menggaulinya hingga sang perempuan hamil.
Sang rahib merasa
takut karena perbuatannya terbongkar. Lalu ia pun memutuskan untuk membunuh
perempuan itu.
Setelah itu, setan mendatangi
sang rahib dan berkata kepadanya, “Akulah yang telah menyeretmu ke dalam semua
ini. Taatilah aku, niscaya aku akan menyelamatkanmu dari apa yang telah
menimpamu. Sujudlah kepadaku sekali saja.”
Maka rahib itu pun sujud kepadanya. Dan ketika ia telah bersujud, setan berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Tafsir ath-Thabari [Kairo: Dar Hajar], juz 22, h. 540)
Baca juga: 5 Penampakan Setan dalam Wujud Manusia di Masa Rasulullah SAW
Kisah ini tampaknya
berlangsung secara pelan dan pasti. Tidak ada lompatan drastis. Semuanya
bertahap. Dari sebuah kepercayaan untuk mengobati seorang perempuan yang sakit,
yang mana amal demikian ini memang terlihat mulia. Tapi siapa yang menduga ternyata
kemudian berubah menjadi ketertarikan, jatuh dalam dosa, dan ketika dosa itu
menuntut penutupan, lahirlah dosa yang lebih besar lagi, yakni pembunuhan.
Hingga akhirnya, dalam
kondisi terdesak, sang rahib ahli ibadah itu menerima tawaran paling hina. Ia
bersujud kepada setan demi keselamatan dirinya. Dan pada akhirnya setan yang
sejak awal menjerumuskannya ternyata berlepas diri darinya.
Riwayat lain menguatkan alur yang sama, disebutkan ath-Thabari dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Terkait kisah yang dikaitkan
dengan tipu daya setan dalam tafsir surat Al-Hasyr ayat 16, Ibnu Katsir menjelaskan
bahwa kisah ini bukan satu-satunya kasus. Kisah ini hanyalah contoh dari pola
yang terus berulang dalam kehidupan manusia.
وقد ذكر بعضهم ها هنا قصة لبعض عباد بني إسرائيل هي كالمثال لهذا المثل، لا
أنها المرادة وحدها بالمثل، بل هي منه مع غيرها من الوقائع المشاكلة لها
“Sebagian ulama menyebutkan di sini
sebuah kisah tentang salah seorang ahli ibadah dari Bani Israil, yang berfungsi
sebagai contoh untuk perumpamaan ini. Bukan berarti kisah itu satu-satunya yang
dimaksud oleh ayat tersebut, melainkan ia termasuk bagian dari sekian banyak
peristiwa lain yang serupa dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 8,
h. 104)
Jika kita jujur
melihat realitas hari ini, pola itu tidak hanya bisa dilihat penjelasannya dalam
kitab-kitab tafsir. Tapi ternyata dalam banyak kasus pola yang sama terjadi di
sekitar kita.
Kejatuhan seorang ahli ibadah itu tidak terjadi karena kurangnya ibadah, tetapi karena adanya celah dalam jiwa. Celah yang dibiarkan terbuka. Merasa aman terhadap amal, lalu lengah terhadap godaan kecil, dan yang paling berbahaya, adanya “keserakahan” yang dibungkus dengan legitimasi religius.
Baca juga: Sikapi Kekerasan Seksual, KPRK MUI Dorong Hukuman Maksimal Beri Efek Jera
Tipu daya itu
benar-benar nyata dan muncul kembali, bahkan dengan wajah yang lebih
menyakitkan. Kabar baru-baru ini (27/4/2026), terungkap kasus pelecehan seksual
yang melibatkan pimpinan Pesantren Ndolo Kusumo, Tlogowungu,
Pati, terhadap para santriwatinya
adalah salah satu bukti paling telanjang. Sepertinya kasus yang sama juga sering
kali terjadi di sejumlah pesantren.
Miris mendengarnya. Ini
adalah tragedi kepercayaan. Seorang yang dipandang sebagai penjaga agama malah
menggunakan posisinya untuk merusak kehormatan orang lain.
Seperti dalam kisah
klasik seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang celaka di atas, semuanya tidak
terjadi secara tiba-tiba. Hal itu berjalan melalui celah-celah yang dibiarkan
terbuka. Ada otoritas tanpa kontrol, kedekatan tanpa batas, dan nafsu yang
tidak pernah benar-benar ditundukkan.
Di titik ini, pelajaran
besar yang bisa diambil adalah bahwa ibadah yang tidak menumbuhkan rasa takut
kepada Allah, justru akan bisa menjadi pintu kehancuran.
Seorang bisa lama bersujud, tetapi jika hatinya tidak dijaga, ia tetap rentan jatuh, bahkan jatuh lebih dalam karena ia membawa nama agama bersamanya.
Baca juga: MUI Dukung Proses Hukum Terduga Pelaku Pencabulan Pati, Ingatkan Pentingnya Langkah Preventif
Kisah dalam tafsir dan
realitas di hadapan kita hari ini seakan saling menjelaskan. Setan tidak pernah
tergesa-gesa. Ia “sabar”, menunggu, kemudian membungkus dosa dengan niat baik,
memperhalus jalan menuju pelanggaran, hingga manusia tidak lagi merasa sedang
melangkah menuju kehancuran.
Lalu ketika semuanya
sudah terlambat, setan pergi begitu saja, meninggalkan manusia dengan kehinaan
yang tidak bisa ditutupi. Inilah kerapuhan seorang manusia.
Bahwa yang paling
berbahaya bukanlah ketika seseorang tidak beribadah, tetapi ketika ia merasa
ibadahnya sudah cukup untuk menyelamatkannya. Maka pada saat itulah, pintu tipu
daya benar-benar terbuka.
Alternatif dalam mengantisipasinya, tidak lain adalah dengan mempelajari ilmu agama yang seutuhnya dan sebenar-benarnya dengan guru yang jelas sanad keilmuannya, karena ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu akan mudah terjerumus dalam kesesatan tipu daya setan.