Makna Filosofis Gerakan Ibadah Shalat
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Sepertinya tidak sedikit umat Islam yang menganggap shalat hanya sebatas rangkaian gerakan yang diulang lima kali sehari. Bahkan ada yang merasa ibadah shalat sebagai beban dalam hidupnya. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, setiap gerakan shalat menyimpan makna filosofis yang sangat dalam.
Dalam kitab Hikmah
at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Syekh al-Jurjawi menguraikan dengan menarik
makna filosofis gerakan dalam ibadah shalat. (Lihat Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu
[Beirut: Dar al-Fikr], juz 1, h. 76-78)
Pemaparan tersebut kiranya penting untuk direnungkan agar setiap gerakan shalat semakin bermakna. Sebab, pada hakikatnya ibadah shalat lebih dari sekadar ritual. Dalam ibadah shalat terdapat proses pembentukan adab, penyucian jiwa, dan peneguhan posisi seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Baca juga: Shalat Tahajud Lengkap: Tata Cara Hingga Doa
Berdiri: Etika Kehadiran di Hadapan Yang
Maha Tinggi
Secara fitrah, manusia
memiliki naluri untuk bersikap tenang dan tertib ketika berada di hadapan sosok
yang lebih tinggi derajatnya. Di hadapan seorang pemimpin, guru, atau tokoh
yang dihormati, seseorang akan menjaga sikap, menahan gerak, dan berbicara dengan
penuh pertimbangan.
Jika demikian
fitrahnya, lantas bagaimanakah seharusnya seorang hamba berdiri di hadapan
Allah? Di sinilah letak inti dari makna “qiyam” dalam shalat.
Berdiri menjadi simbol
kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap kepada Dzat Yang Maha Agung. Jadi
ini bukan sekadar soal posisi tubuh yang berdiri.
Karena itu, gerakan harus terjaga, hati harus hadir, dan pikiran harus dipusatkan hanya kepada Allah SWT. Dan inilah adab tertinggi di sini, yakni menghadirkan diri secara lahir dan batin sekaligus.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Disarikan dari Alquran dan Hadits
Posisi Tangan: Menjaga Keseimbangan
Ruhani
Dalam kitab Hikmah
at-Tasyri’, Syekh Al-Jurjawi menjelaskan secara menarik tentang posisi
tangan dalam shalat, yang mana dianjurkan diletakkan di bawah dada, tangan
kanan di atas tangan kiri. Menurutnya ini bukanlah gerakan tanpa makna.
Secara simbolik,
posisi tersebut menjaga seorang manusia dari dua tarikan ekstrem, yaitu kecenderungan
menuju “alam atas” (spiritualitas tanpa kendali) dan “alam bawah” (materialisme
yang berlebihan).
Dengan posisi demikian,
manusia ditempatkan dalam keseimbangan. Artinya tidak melayang tanpa pijakan,
dan tidak tenggelam dalam keduniaan.
Ibadah shalat, dengan demikian, mendidik manusia untuk stabil secara spiritual. Menjaga diri agar tetap tenang, seimbang, dan terkendali.
Baca juga: Bolehkah Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Setelah Shalat Fardhu? Begini Penjelasannya
Menundukkan Kepala: Meruntuhkan Kesombongan
Leher dalam perspektif
simbolik adalah representasi keangkuhan dan kebanggaan diri. Orang yang sombong
cenderung menegakkan kepala; sebaliknya, orang yang rendah hati akan
menundukkannya.
Dalam shalat, kepala
ditundukkan sebagai bentuk pengakuan bahwa tidak ada yang layak diagungkan
selain Allah.
Oleh karena itu,
menundukkan kepala ini bukan sekadar gestur, tetapi latihan psikologis yang
terus diulang agar kesombongan terkikis sedikit demi sedikit.
Jika ini dihayati,
shalat akan menjadi benteng terhadap penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu
kesombongan diri.
Sikap ini sejalan
dengan firman Allah:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن
تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah
engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena engkau tidak akan dapat menembus
bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
Maka, jika ibadah shalat ditunaikan dengan benar, ia akan membentuk pribadi yang rendah hati.
Baca juga: Tata Cara, Niat, dan Doa Shalat Dhuha
Sujud: Puncak Kehinaan, Pintu Kemuliaan
Di antara seluruh
gerakan shalat, sujud adalah yang paling sarat makna. Wajah, sebagai bagian
tubuh paling mulia, ternyata diletakkan di atas tanah yang merupakan simbol unsur
paling rendah. Hakikatnya, hal ini adalah simbol totalitas penghambaan.
Menurut Syekh al-Jurjawi, seakan-akan seorang hamba berkata: “Wahai Tuhanku, aku letakkan yang paling
mulia dariku di atas yang paling hina, karena aku sadar Engkaulah Yang Maha
Tinggi.”
Namun demikian, justru
di titik kehinaan itulah manusia mencapai kemuliaan. Karena ini adalah momentum
seorang hamba untuk mendekat kepada Allah.
Terkait hal ini Rasulullah
bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ
سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan seorang
hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka
perbanyaklah doa.” (HR Muslim)
Karena itu, harus diresapi maknanya bahwa sujud bukan hanya simbol kerendahan, tetapi jalan menuju kemuliaan dengan mendekat pada Allah. Sebab pada saat yang sama memang
Allah memerintahkannya demikian. Allah berfirman:
وَاسْجُدْ
وَاقْتَرِبْ
“Bersujudlah dan
dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-‘Alaq:
19)
Jadi, gerakan sujud ini
benar-benar mengandung makna filosofis. Sujud bukanlah berarti merendahkan
martabat manusia, justru sebaliknya, dengan sujud ini derajatnya akan diangkat
oleh Allah ke derajat yang lebih tinggi.
Semakin sering seseorang bersujud, semakin dekat ia kepada Allah. Dan kedekatan itu bukan sebagai konsep spiritual belaka, tetapi sangat berdampak nyata dalam menjaga diri dari dosa, membersihkan jiwa, dan meninggikan derajat.
Baca juga: Kesadaran Titik Nol untuk Sujud
Konsistensi Sujud:
Jalan Menuju Kedekatan Hakiki
Syekh al-Jurjawi
menekankan bahwa konsistensi dalam sujud akan membentuk karakter. Orang yang
terbiasa sujud tidak mudah terjerumus dalam dosa besar, bahkan cenderung
menjauhi dosa kecil.
Mengapa demikian? Karena
ia sadar bahwa setiap maksiat akan menjauhkannya dari Allah. Sementara seluruh
tujuan hidupnya adalah menjadi bagian dari al-muqarrabun (orang-orang
yang dekat dengan Allah).
Ini standar yang
tinggi. Bahkan ketika seseorang merasa sudah berbuat baik, ia tetap
menganggapnya belum cukup. Bukan karena putus asa, tetapi karena memahami bahwa
kedekatan dengan Allah menuntut kesungguhan tanpa batas.
Rasulullah SAW
bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا
رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
“Tidaklah seorang
Muslim bersujud kepada Allah satu kali sujud, melainkan Allah akan mengangkat
derajatnya dan menghapus satu kesalahannya.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain,
ketika seseorang meminta kedekatan dengan Nabi di surga, beliau bersabda:
أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Bantulah aku
(untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim)
Artinya, konsistensi
dalam bersujud kepada Allah sangat berpengaruh pada kepribadian seorang hamba
dan mengantarkannya untuk selalu dekat dengan Allah.
Selain itu, sujud juga
menjadi penanda seorang muslim yang beriman, sebagaimana ditegaskan dalam surat
Al-Fath ayat 29:
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.”
Baca juga: Bolehkah Mengerjakan Shalat Sunnah Sambil Duduk?
Tasyahud dan Shalawat: Etika Menghargai Perantara
Setelah mencapai
puncak kedekatan dalam sujud, shalat tidak langsung ditutup. Ada tasyahud dan
shalawat. Ini juga mengandung pesan penting.
Nabi Muhammad SAW adalah perantara
terbesar antara manusia dan Allah. Melalui beliau, manusia mengenal Islam,
memahami ibadah, dan menemukan jalan menuju Tuhan.
Karena itu, terkait
Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman dengan tegas memerintahkan kepada kita:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah
dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman!
Bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Maka, membaca shalawat
adalah bentuk penghargaan dan rasa terima kasih. Ini juga menunjukkan bahwa
dalam Islam, adab terhadap perantara kebaikan tidak boleh diabaikan. Jangan
seperti orang yang mendapatkan bantuan, lalu melupakan jasa orang yang membantunya.
Bahkan penyebutan Nabi
Ibrahim AS dalam shalawat mengandung makna historis. Beliau adalah nabi yang
memohon kepada Allah agar diutus seorang rasul dari keturunannya yang kelak diharapkan
menyampaikan petunjukan Tuhan kepada umat manusia. Doanya diabadikan di dalam Alquran:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا
عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
“Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan ayat-ayat-Mu,
mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka, serta menyucikan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 129)
Maka menyertakan Nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam shalawat adalah bentuk penghormatan terhadap mata rantai kebaikan itu.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Dhuha yang Disebutkan Rasulullah SAW
Salam: Menutup Ibadah
dengan Kesadaran Sosial
Menariknya, shalat
tidak ditutup dengan dzikir personal semata, tetapi dengan salam, dengan menoleh
ke kanan dan ke kiri.
Ini isyarat bahwa
setelah berkomunikasi dengan Allah, seorang muslim selayaknya kembali ke
masyarakat dengan membawa kedamaian. Jadi, ibadah shalat tidak memutus hubungan
sosial, tapi justru memperbaikinya.
Salam ini juga perlu
disadari sepenuhnya bahwa dirinya juga menyapa malaikat di sekitarnya, dan sekaligus
melatih diri untuk menjadi pribadi yang menebarkan keselamatan kepada sesama.
Terkait hal ini, Syekh
al-Jurjawi menjelaskannya secara menarik. Beliau mengatakan bahwa karena Allah menyebut
hamba yang sedang shalat dan bersujud itu di hadapan para malaikat-Nya serta
memujinya, maka hal itu menjadi sebab timbulnya kerinduan para malaikat untuk
melihat dan mengunjunginya.
Adapun sebab Allah
menyebutnya dengan pujian adalah karena hamba tersebut mengingat-Nya di dalam
shalatnya. Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا
تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan
janganlah kalian mengingkari (nikmat-Ku).”
Maka ketika seseorang
selesai dari shalatnya, ia mengucapkan salam kepada mereka (para malaikat). Ia
memulai dari sebelah kanannya, karena malaikat di sebelah kanan lebih utama
daripada malaikat di sebelah kiri.
Dan karena adab menuntut untuk memuliakan para tamu, maka bagaimana lagi jika yang datang itu adalah para malaikat yang dekat (kepada Allah) dan suci? Apalagi kunjungan itu terkait dengan perkara yang mulia ini (yaitu shalat). Maka ucapan salam di akhir shalat itu adalah wujud memuliakannya.
Baca juga: Shalat Tahiyyatul Masjid Disunnahkan, Kecuali dalam Keadaan Ini
Shalat sebagai Sebuah
Kebutuhan
Jika seluruh makna ini
dipahami, maka shalat tidak lagi menjadi beban, tetapi kebutuhan. Shalat bukanlah sekadar ibadah yang diwajibkan, tetapi sarana untuk menjadikan diri selalu dekat dengan Allah.
Dan secara tidak langsung, jika makna filosofis gerakan shalat ini dihayati, maka kita akan menemukan hikmah yang terkandung di dalamnya. Ibadah shalat mengajarkan adab di hadapan yang lebih tinggi, keseimbangan dalam hidup, kerendahan hati, makna kedekatan dengan Allah, penghargaan terhadap perantara kebaikan, dan tanggung jawab sosial.
Baca juga: Umat Islam Disunnahkan Shalat Khusuf ketika Terjadi Gerhana Bulan, Begini Tuntunan Lengkapnya
Selama shalat hanya
dipahami sebagai rutinitas, tentu ibadah ini akan terasa berat. Tetapi ketika
dipahami sebagai perjalanan ruhani yang utuh, maka ibadah shalat ini bisa
menjadi sumber kekuatan.
Oleh karena itu, kita harus menjaga kualitas shalat, karena di dalamnya ada seluruh fondasi kehidupan seorang muslim yang beriman. Wallahu a’lam bis shawab.