8 Dusta Amerika Serikat dalam Perang Iran
Oleh: Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digita-Tiga pekan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada 28 Februari 2026, serangkaian kebohongan pemerintah AS mulai terbongkar.
Saking seringnya berbohong, tidak salah kemudian dikatakan bahwa Pemerintahan Trump ‘berbohong semudah ia bernafas.’
Kebohongan tersebut bukan sekadar propaganda, melainkan strategi membanjiri publik dengan informasi kontradiktif yang dirancang untuk membingungkan publik. Berikut adalah ‘list kebohongan’ AS dalam Perang Iran 2026 ini.
1. Kebohongan bahwa Iran memiliki nuklir
Klaim Presiden Trump bahwa Iran memiliki senjata nuklir adalah kebohongan fundamental. Mengutip Mitchell Plitnick, seluruh badan intelijen AS, termasuk Badan Intelijen Pertahanan di bawah pemerintahan Trump sendiri sebenarnya ‘secara konsisten menyimpulkan bahwa Iran tidak memiliki program senjata nuklir aktif sejak 2003’ (Mondoweiss, 4/3/2026). Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga tidak menemukan bukti tentang itu. Plitnick mencatat bahwa isu senjata nuklir telah menjadi semacam chimera (‘monster mengerikan’) sejak sebelum perang.
Fakta yang lebih memberatkan adalah pada 27 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Oman mengumumkan bahwa Iran telah setuju untuk tidak lagi menyimpan uranium yang diperkaya. Artinya, Iran taat pada keputusan bersama. Pernyataan Oman tersebut belum pernah terjadi sebelumnya, mengingat Oman biasanya sangat tertutup dalam negosiasi.
Lalu mengapa perang terjadi? Shaiel Ben-Ephraim dalam wawancaranya dengan India Today (17/3/2026) menjawab tegas bahwa alasan sebenarnya dari perang ini adalah terkait dengan politik domestik Israel. PM Israel, Netanyahu punya kepentingan pada pemilu yang akan datang.
Baca juga: AS dan Israel Serang Iran, MUI Desak Pemerintah RI Mundur dari Board of Peace
Dengan 90 persen warga Israel yang mendukung perang, Iran dalam perspektif Netanyahu akan menjadi alat pengalih perhatian dari kegagalan di Gaza.
Kita tahu bahwa di Gaza, sampai sekarang tidak bisa dilumpuhkan oleh Israel. Untuk itu, ‘kebohongan nuklir’ dipakai sebagai kamuflase untuk agenda politik Netanyahu.
2. Kebohongan ‘ancaman yang akan datang ke AS
Narasi bahwa AS menyerang karena ‘ancaman Iran yang akan datang’ akhirnya jadi runtuh saat Menteri Luar Negeri Marco Rubio menjelaskan alasannya. Seperti dikutip Mitchell Plitnick (4/3/2026), Rubio mengakui bahwa dia mengetahui Israel akan menyerang, dan konsekuensinya ‘AS juga akan diserang Iran’.
Maka, daripada menunggu diserang, AS kemudian memilih serangan lebih awal. Kata Rubio, “Dan kami tahu bahwa jika kami tidak menyerang mereka lebih dulu, kami akan menderita korban yang lebih tinggi.”
Pentagon sendiri mengakui dalam briefing kongres bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran merencanakan serangan. Ancaman Iran bagi AS tidak terpisahkan dengan ancaman Iran bagi Israel. Sebagai satu paket, serangan Iran ke Israel juga akan berdampak pada serangan terhadap AS, terutama kepentingan dan aset militer AS di Timur Tengah.
Padahal, sejauh ini Iran selalu bertahan untuk tidak menyerang lebih awal, dan itu mereka praktikkan sampai sekarang. Artinya, serangan Iran adalah dalih saja yang digunakan Rubio untuk melakukan aborsi kekuasaan Iran sebelum Iran semakin kuat.
3. Kebohongan 7.000 target yang telah menghancurkan nuklir Iran
Presiden Trump terus mengklaim bahwa pasukannya telah menghancurkan 7.000 target dan menetralkan program nuklir Iran.
Shaiel Ben-Ephraim membantah keras berdasarkan percakapannya dengan pejabat Israel dan AS bahwa sebenarnya program nuklir Iran hampir tidak tersentuh. Satu-satunya cara untuk benar-benar menetralkannya adalah dengan mengeluarkan secara fisik material yang diperkaya, sesuatu yang pada dasarnya mustahil (India Today, 17/3/2026).
Baca juga: AS-Israel Serang Iran, Majelis Ulama Indonesia Sampaikan 10 Tausiyah
Memang benar ribuan target dihantam, akan tetapi fasilitas nuklir tersebut tidak hancur, atau tidak benar-benar hancur. Serangan tersebut malah semakin meningkatkan resistensi Iran yang didukung oleh masyarakatnya yang revolusioner.
Dengan terus membom Iran, AS justru sangat potensial memperkuat tekad Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium menjadi senjata nuklir. Artinya, kebohongan Trump yang katanya telah menghancurkan program nuklir Iran malah menciptakan kondisi yang justru mendorong proliferasi atau perkembangan senjata nuklir.
4. Kebohongan bahwa Iran menyerang Sekolah Minab
Saat rudal Tomahawk menghantam Sekolah Dasar Putri di Minab dan menewaskan 180 anak, Presiden Trump menyalahkan Iran.
David Smith di Guardian (14/3/2026) melaporkan Trump mengklaim pasukan keamanan Iran sangat tidak akurat dengan amunisi yang dipersepsi digunakan untuk menyerang AS. Padahal, Trump keliru dengan klaim bahwa Tehran memiliki akses ke rudal Tomahawk, senjata buatan Amerika yang hanya tersedia untuk AS dan beberapa sekutu dekat. Iran tidak memiliki akses pada senjata tersebut.
Selanjutnya, investigasi internal militer AS kemudian menemukan bahwa Amerika-lah yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Data target yang digunakan sudah using (dulu lokasi tersebut pernah berada dalam kompleks militer, sekarang tidak). Ketika wartawan bertanya apakah ia akan bertanggung jawab, Trump menjawab, “I don’t know about it.”
Dalam catatan David Smith, gaya itu adalah pola yang terus berulang, yakni ketika kebohongan terbongkar, ia berpura-pura tidak tahu. Kita bisa sebut bahwa kejadian tersebut adalah tragedi kemanusiaan yang mencoba ditutupi dengan kebohongan.
5. Kebohongan koalisi kuat sekutu
Klaim Presiden Trump tentang ia berada dalam koalisi kuat terbukti tidak. Faktanya terlihat dari konferensi pers Trump yang menyerukan agar sekutu-sekutunya membantu membuka Selat Hormuz dari blokade Iran.
Hal ini dapat diibaratkan seperti teriakan minta tolong dan putus asa, sekaligus menunjukkan bahwa ia berada dalam koalisi lemah dalam perang Iran. Trump salah membaca risiko sejak awal dan kini mencoba menyebarkan tanggung jawab kepada sekutunya.
Di antara alasan penolakan sekutu atas ajakan Trump adalah karena sebelumnya Trump berintensi kuat untuk mengambil alih Greenland dari Denmark yang secara praktis telah mengasingkan hampir semua mitra NATO.
Hal itu kemudian jadi masalah ketika Trump membutuhkan bantuan untuk membuka blokade selat Hormuz. Pernyataan Trump tersebut juga tanda bahwa ia dilanda kepanikan.
Scott Lucas dalam tulisannya di EA WorldView (15/3/2026) menegaskan bahwa kubu Trump sebenarnya tidak memiliki Rencana B pada titik ini.
6. Kebohongan klaim kemenangan dan kontradiksi internal
Pada 9 Maret 2026, Presiden Trump mengumumkan bahwa perang sudah sangat selesai dan cukup.’Akan tetapi, di hari yang sama, Pentagon mengunggah di akun X mereka, "Perang ini baru permulaan dan kami tidak akan gentar sampai misi selesai.”
Baca juga: Menyimak Respons Negara Teluk atas Serangan Iran
Ketika seorang wartawan bertanya kepada Trump tentang kontradiksi ini, dia menjawab, “Yah, saya pikir Anda bisa mengatakan keduanya.” (Guardian, 14/3/2026). Artinya, kedua hal itu—misi selesai dan misi baru dimulai—dianggap benar, padahal ini sangat kontradiktif.
Kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa ada masalah dalam pengambilan keputusan di tingkat elite AS. Satu mengatakan sudah, yang lainnya mengatakan belum; sudah tapi belum.
Dalam hal ini, citra AS jadi turun di masa internasional, dan Iran mendapatkan fakta nyata bagaimana pimpinan AS tidak seirama dalam penyataan publiknya.
7. Kebohongan rencana pascaperang dan Reza Pahlavi
Jika rezim Iran jatuh, AS membayangkan Reza Pahlavi akan memimpin Iran baru. Mitchell Plitnick (4/3/2026) mengingatkan bahwa ayah Pahlavi adalah seorang diktator yang dipasang CIA dalam kudeta 1953 setelah menggulingkan perdana menteri terpilih Mohammad Mosaddegh.
Pahlavi sendiri tinggal di pengasingan selama beberapa dekade dan pada 1982 terlibat plot kudeta yang didukung AS-Israel.
Pemerintahan Trump juga terlihat menciptakan proksi yakni mendorong milisi Kurdi untuk membantu menggulingkan pemerintah Iran.
Baca juga: Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?
Akan tetapi upaya tersebut disambut skeptisisme oleh Kurdi. Hal ini tidak mengherankan mengingat sejarah AS yang kerap meninggalkan sekutu lokal dan tidak memihak pada kepentingan Kurdi.
AS sepertinya tidak tahu apa yang akan terjadi jika pemerintah Iran jatuh. Mereka membunuh satu pemimpin demi pemimpin lain, berpikir mereka akan menemukan seseorang yang mau bekerja sama dengan Amerika plus melayani kepentingan Israel.
8. Kebohongan kepemimpinan perang
Presiden Trump mengabaikan tradisi kepemimpinan perang Amerika. David Smith mencatat bahwa Trump menghindari pidato khidmat di Oval Office (Guardian, 14/3/2026). Sejak zaman Franklin Roosevelt, tradisi kepemimpinan perang Amerika mengharuskan presiden memberikan pidato khidmat dari Oval Office yang disiarkan ke seluruh negeri untuk menjelaskan alasan perang, menyatukan bangsa, dan memberikan ketenangan kepada publik.
Contoh terkenal dari tradisi tersebut adalah "fireside chats" (‘obrolan di samping perapian’ yang mendalam) Roosevelt saat Perang Dunia II dan pidato George W Bush setelah serangan 9/11. Pidato sebelum perang tersebut dirancang untuk membangun kepercayaan publik dan menghormati pengorbanan para prajurit yang akan berperang.
Trump juga tidak mengunjungi West Point (atau kapal induk) untuk menyatukan prajurit dan bangsanya. Dalam tradisi kepemimpinan perang, Amerika mengharuskan presiden mengunjungi Akademi Militer West Point untuk bertemu calon perwira dan menyampaikan visi strategis, serta kapal induk untuk bertemu langsung dengan prajurit di garis depan sebagai bentuk dukungan dan kehadiran.
Kunjungan tersebut dirancang untuk menunjukkan kepedulian pemimpin tertinggi terhadap mereka yang berjuang di medan perang dan menyatukan semangat tempur seluruh pasukan.