Menyimak Respons Negara Teluk atas Serangan Iran
Oleh: Dr Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Sejak Sabtu, 28 Februari 2026, “Operation Epic Fury” (Amerika Serikat) dan “Operation Roaring Lion” (Israel) terhadap Iran telah memicu eskalasi konflik terbesar dalam dekade terakhir di Timur Tengah.
Iran terpaksa merespons—mengutip kata
Presiden Iran Massoud Pezeshkian—dengan
“Operation True Promise 4” yang tidak hanya menyerang Israel,
tetapi juga menyerang dengan ratusan rudal dan drone ke negara-negara Teluk,
yakni sekutu dekat AS yang menjadi “tuan rumah” pangkalan militer Amerika.
Merujuk pada berita dari BBC (4/3/2026) dan Al Jazeera (7/3/2026), kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi, Riyadh, Kuwait City, Manama, dan Doha ikut menjadi sasaran. Fasilitas minyak, bandara, hotel, bahkan kawasan permukiman terkena dampak serangan atau puing-puing rudal yang dicegat tersebut.
Baca juga: Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?
UEA menjadi target terbesar dengan lebih dari 1.000 serangan rudal dan drone sejak eskalasi dimulai. Sumber dari Anadolu (4/3/2026) memberitakan bahwa Pemerintah UEA melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan negaranya bukan pihak dalam perang ini dan tidak mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk menyerang Iran.
Namun demikian, Pemerintah UEA tetap
mempertahankan hak membela diri sesuai hukum internasional. Meski sempat muncul
laporan akan mempertimbangkan respons militer, pemerintah memastikan belum ada
keputusan untuk mengubah postur pertahanan (Kompas, 4/3/2026).
Bahrain, tuan rumah Pangkalan Armada Kelima
AS, menunjukkan ketangguhan sistem pertahanannya dengan berhasil mencegat dan
menghancurkan 92 rudal dan 151 drone sejak awal agresi yang dilakukan oleh Iran
yang disebut oleh Pasukan Pertahanan Bahrain sebagai “a terrorist Iranian
attack targeting the Kingdom of Bahrain” (Bernama, 8/3/2026; News
of Bahrain, 3/3/2026).
Pemerintah Bahrain menegaskan bahwa penargetan objek sipil dan properti pribadi menggunakan rudal balistik dan drone merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional dan Piagam PBB. Ini juga dianggap menjadi ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan regional. Oleh karena itu, mereka memiliki hak yang sah untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna mempertahankan kedaulatan dan keamanannya (Gulf Times, 4/3/2026).
Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran
Arab Saudi mengambil pendekatan diplomasi
dengan peringatan keras (Samaa TV, 8/3/2026). Menlu Pangeran Faisal bin
Farhan melakukan pembicaraan dengan mitranya dari Iran, menyampaikan
keterbukaan terhadap mediasi dan menegaskan bahwa Riyadh tidak mengizinkan AS
menggunakan wilayahnya untuk menyerang Iran (Radio New Zealand,
8/3/2026).
Namun demikian, Menlu Pangeran Faisal juga memperingatkan bahwa jika serangan berlanjut terhadap infrastruktur energi Saudi, Riyadh akan
mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan militer mereka dan melakukan
pembalasan. Kerajaan menegaskan akan mengambil semua tindakan yang penting
untuk mempertahankan keamanan, termasuk opsi merespons agresi (Al Arabiya,
1/3/2026).
Qatar merespons dengan langkah diplomatik
tegas kepada PBB, mengirimkan nota keempat kepada Sekjen PBB dan Dewan Keamanan
melaporkan agresi Iran sebagai pelanggaran kedaulatan dan eskalasi tak dapat
diterima (MOFA Qatar, 5/3/2026).
Mengutip dari Kementerian Luar Negeri Qatar (5/3/2026), Kementerian Pertahanan melaporkan pada 4 Maret 2026, Qatar diserang 10 drone dan dua rudal jelajah Iran; enam drone dicegat oleh pertahanan udara, sisanya dinetralisir oleh Angkatan Udara dan Laut.
Selain itu, Qatar juga menangkap dua sel
Garda Revolusi Iran dengan 10 tersangka spionase dan sabotase. PM Qatar menolak
klaim Iran bahwa serangan hanya diarahkan pada kepentingan Amerika, karena
bukti menunjukkan bahwa serangan mengenai area sipil dan mengancam infrastruktur LNG.
Kuwait mengambil langkah pencegahan di sektor energi atas serangan Iran yang terkesan berulang dan bermusuhan (Bernama, 8/3/2026). Perusahaan Minyak Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah dan operasi pemurnian sebagai langkah antisipatif, bersifat sementara dan akan dievaluasi sesuai perkembangan situasi (Bernama, 8/3/2026).
Baca juga: Membaca Geopolitik Timur Tengah dalam Perspektif Hadis Akhir Zaman
Keputusan tersebut diambil setelah Iran
meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk sejak 28 Februari, yang
menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di lokasi sipil.
Sedangkan Irak, melalui pemimpin Kurdi
Bafel Talabani (53 tahun), menolak ajakan AS untuk melibatkan milisi Kurdi dalam
konflik melawan Iran. Talabani menegaskan kelompoknya tidak ingin terlibat dan
lebih memilih peran sebagai jembatan diplomasi (Asharq Al-Awsat,
8/3/2026).
Talabani mengaku adanya komunikasi dengan
Trump mengenai kemungkinan pengerahan milisi Kurdi, namun menolak karena akan
menimbulkan masalah besar di Timur Tengah. Ia lebih menekankan peran sebagai
penengah, bukan pihak yang bertempur (Republika, 8/3/2026).
Kalkulasi Strategis
Setelah menyimak respons dari sejumlah negara
Teluk di atas, pertanyaan yang mengemuka adalah: Mengapa negara-negara
Teluk—yang memiliki kemampuan militer cukup canggih dan aliansi kuat dengan AS—memilih
menahan diri dan tidak membalas serangan Iran?
Bukankah kedaulatan mereka telah dilanggar?
Bukankah warga sipil mereka menjadi korban?
Jawabannya terletak pada kalkulasi strategis yang kompleks, di mana menahan diri justru menjadi pilihan paling rasional di tengah pusaran konflik yang tidak mereka kehendaki.
Pertama,
negara-negara Teluk tidak menginginkan perang ini sejak awal. Mereka adalah “reluctant
bystanders”, atau pihak yang terpaksa terlibat dalam konflik yang tidak
mereka mulai.
Sebagaimana ditulis Sultan Al-Khulaifi, senior
researcher di Center for Conflict and Humanitarian Studies, negara-negara Teluk telah menginvestasikan modal diplomatik besar untuk
mencegah secara tepat momen ini.
Mereka telah terlibat dengan Teheran,
mempertahankan kedutaan, dan memberikan jaminan berulang bahwa wilayah mereka
tidak akan digunakan sebagai landasan serangan terhadap Republik Islam Iran (Al
Jazeera, 7/3/2026).
Negara-negara Teluk cenderung ingin damai dengan
membangun harmoni. Saudi Arabia memilih dialog pada 2019 dan menandatangani
kesepakatan normalisasi yang ditengahi China pada 2023.
Sementara Qatar bertahun-tahun menjadi
mediator antara Hamas dan Israel, juga antara Iran dan AS. Sedangkan Oman
menjadi saluran komunikasi diam-diam yang menjaga dialog tetap terbuka.
Mereka telah memberikan segalanya untuk
perdamaian, dan kini mereka menuai rudal sebagai balasan. Tetapi jika mereka membalas
Iran, hal ini berarti mengakui bahwa tahun-tahun diplomasi itu sia-sia.
Kedua,
serangan Iran justru memperkuat solidaritas internal Dewan Kerja Sama Teluk
(GCC), tetapi tidak serta-merta mendorong respons militer kolektif.
Dalam sidang darurat 1 Maret, Dewan Menteri
GCC mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Iran sebagai tindakan
keji dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan. Begitu juga ditegaskan soal
hak untuk membela diri (BBC, 4/3/2026). Namun, pernyataan keras itu
tidak diikuti dengan aksi militer. Mengapa?
Para pemimpin Teluk sadar bahwa
respons militer justru akan menjerumuskan kawasan ke dalam perang
berkepanjangan yang dampaknya tak terbayangkan.
Barbara Plett-Usher, koresponden BBC di
Doha, melaporkan bahwa sejauh ini negara-negara Teluk menolak mengizinkan AS
menggunakan wilayah udara dan darat mereka untuk meluncurkan serangan ke Iran (BBC,
4/3/2026). Ini menunjukkan bahwa meskipun marah, mereka tetap berpegang pada
prinsip tidak menjadi bagian dari agresi.
Ketiga,
kepentingan ekonomi menjadi pertimbangan utama. Uni Emirat Arab, misalnya,
mengalami serangan terbesar di antara negara-negara Teluk.
Dalam tulisannya, “The Gulf that emerges
from the Iran war will be very different” (Atlantic Council,
2/3/2026), Direktur Proyek Integrasi Timur Tengah di Rafik Hariri Center &
program-program Timur Tengah Atlantic Council, Allison Minor mencatat
bahwa UEA menghadapi hampir 150 rudal dan 500 drone dalam 48 jam pertama yang
jumlahnya hampir menyamai serangan terhadap Israel.
Namun di sini menjadi dilematis, membalas
Iran berarti mempertaruhkan reputasi Dubai sebagai pusat bisnis dan pariwisata
global yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Seperti dikutip Minor dari Atlantic
Council (2/3/2026), pada 2019 UEA memilih de-eskalasi dengan Iran justru
karena menyadari bahwa konfrontasi terlalu berisiko dan jaminan keamanan AS
tidak cukup.
Kini, dengan serangan yang jauh lebih
dahsyat, logika yang sama justru semakin kuat: membalas akan
menghancurkan fondasi ekonomi yang bergantung pada stabilitas.
Keempat, ada
kekecewaan terhadap AS yang tidak memberi peringatan dini. Laporan Associated
Press mengungkap bahwa para pejabat Teluk kecewa karena tidak diberi tahu
sebelumnya tentang serangan 28 Februari, dan keluhan mereka bahwa perang akan
berdampak devastatif bagi kawasan diabaikan (PBS, 6/3/2026).
Seorang pejabat Teluk bahkan mengatakan bahwa stok interceptor missiles (rudal pencegat) negara mereka cepat
habis dan merasa AS lebih fokus melindungi Israel dan pasukannya sendiri
ketimbang sekutu Teluk (PBS, 6/3/2026).
Oleh karena itu, dalam situasi di mana
sekutu utama dianggap tidak cukup melindungi, menahan diri menjadi pilihan yang
aman ketimbang terlibat dalam perang tanpa dukungan penuh.
Kelima, ada
harapan bahwa Iran akan mengubah strateginya. Pada 7 Maret, Presiden Iran
Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga
dan mengumumkan bahwa Iran akan menghentikan serangan balasan (retaliatory
strikes) terhadap basis-basis kepentingan AS di negara mereka, kecuali jika
Iran diserang lebih dulu (Al Jazeera, 7/3/2026).
“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran. Para komandan, pemimpin, dan orang-orang yang kami cintai gugur akibat agresi brutal yang terjadi, dan angkatan bersenjata kami adalah pahlawan yang mengorbankan jiwa mereka untuk mempertahankan integritas teritorial kami. Kami tidak bermaksud melanggar wilayah negara-negara tetangga. Seperti yang telah saya katakan berkali-kali, mereka adalah saudara kami. Kami berdiri bersama mereka yang kami cintai di kawasan ini,” kata Pezeshkian.
Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal
Di sini kita bisa melihat bahwa pilihan
negara-negara Teluk untuk menahan diri adalah cerminan kedewasaan politik di
tengah krisis.
Mereka memahami bahwa dalam perang modern,
membalas tidak selalu berarti menang. Terkadang, kekuatan terbesar justru
terletak pada kemampuan untuk tidak menarik pelatuk, sambil terus membangun
jalan keluar diplomatik.
Seperti ditegaskan dalam pernyataan GCC,
hak untuk membela diri tetap ada, tetapi opsi itu akan digunakan dengan sangat
hati-hati. Karena sekali lagi, perang ini bukan perang mereka. Dan mereka
bertekad untuk tidak membiarkan Iran atau Israel atau AS menjadikan kawasan
Teluk sebagai medan pembakaran yang akan menghanguskan masa depan bersama.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.