Diklat Petugas Haji 2026, Gus Irfan Tekankan Disiplin dan Semangat Kebersamaan
Admin
Penulis
Jakarta — Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia KH. Mohammad Irfan Yusuf (Gus Irfan) menegaskan bahwa kesiapan petugas menjadi faktor penentu utama keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 2026. Hal itu disampaikannya saat memimpin apel pagi dan silaturahmi dengan peserta Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Selasa (14/1/2026).
Gus Irfan menyampaikan, para peserta diklat merupakan ujung tombak pelayanan haji Indonesia di Arab Saudi. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan haji sangat bergantung pada kualitas dan kinerja para petugas di lapangan.
“Bapak dan Ibu sekalian adalah ujung tombak kami. Keberhasilan Anda semua dalam melayani jamaah sudah 60 persen menentukan keberhasilan kami. Tapi jika petugas gagal, itu bisa menjadi sebab utama kegagalan penyelenggaraan haji,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh peserta diklat yang berjumlah sekitar 1.500 orang adalah sosok terpilih dari lebih dari 100 ribu pendaftar yang ingin menjadi petugas haji. Karena itu, kesempatan ini harus disyukuri dengan menjalankan tugas secara profesional dan penuh tanggung jawab.
“Hari ini Anda mendapatkan nikmat berupa kesempatan menjadi petugas haji. Cara bersyukur adalah mengikuti diklat ini dengan baik dan menjadi pelayan tamu-tamu Allah yang terbaik di Tanah Suci,” ujarnya.
Dalam arahannya, Gus Irfan juga menekankan pentingnya sikap kebersamaan dan penghapusan sekat-sekat institusi. Ia menyebut bahwa petugas haji berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari TNI, Polri, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, pesantren, hingga lembaga pemerintah.
“Di sini tidak ada lagi instansi, tidak ada senior atau junior. Yang ada hanya satu identitas: petugas haji. Tidak ada ‘saya’, yang ada ‘kita’,” katanya.
Gus Irfan juga mengingatkan bahwa petugas haji adalah representasi negara dan umat di Arab Saudi. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk selalu tanggap terhadap situasi jamaah, termasuk dalam hal-hal kecil seperti kebersihan dan kerapian.
“Negara harus hadir dalam setiap situasi jamaah. Kalau ada sampah, siapa pun yang buang, ambil. Kalau ada kamar mandi kotor, bersihkan. Kebiasaan kecil ini akan berdampak besar pada kualitas pelayanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa petugas haji tidak boleh memilih-milih jamaah yang dilayani. Semua jamaah harus mendapatkan pelayanan yang sama, tanpa memandang jabatan, asal daerah, atau kondisi fisik.
“Petugas bukan melayani pejabat, bukan melayani kelompok tertentu. Kita melayani seluruh jamaah haji. Satu jamaah tertinggal adalah kegagalan kita semua,” tegasnya.
Sebagai penutup, Gus Irfan menekankan tiga prinsip utama yang harus dipegang oleh setiap petugas haji: disiplin waktu, kesiapan bekerja di bawah tekanan, dan mendahulukan kepentingan jamaah di atas kepentingan pribadi.
“Tepat waktu adalah harga mati. Siap menerima arahan, siap bekerja di bawah tekanan, dan siap mendahulukan jamaah daripada diri sendiri. Itulah kunci keberhasilan kita,” pungkasnya. (Sanib/Azhar)