Bimtek Petugas Haji Digelar 20 Hari, Kemenhaj dan Umrah Tekankan 4 Sasaran Utama
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Kementerian Haji dan Umrah RI menyiapkan pola baru pembinaan petugas haji Indonesia dengan menekankan empat sasaran utama.
Keempat sasaran utama tersebut adalah kekuatan fisik, ketangguhan mental, kompetensi teknis, dan soliditas tim. Pola ini diterapkan dalam pelatihan terpadu yang melibatkan unsur Kementerian Haji dan Umrah, TNI, dan Polri.
Hal tersebut disampaikan Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, dalam kegiatan Bimbingan Teknis Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang digelar Kementerian Haji dan Umrah, di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Dendi, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik, sehingga petugas harus memiliki kondisi tubuh yang lebih prima dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, petugas juga dituntut memiliki mental yang kuat sebagai pelayan jamaah.
“Haji itu 90 persen ibadah fisik. Maka petugasnya juga harus lebih kuat. Selain itu, mentalnya harus siap melayani, karena petugas itu pelayan jamaah,” ujar Dendi.
Dia menjelaskan, pembinaan petugas haji difokuskan pada empat sasaran utama. Pertama, fisik yang kuat dan bugar. Kedua, mental tangguh sebagai pelayan umat. Ketiga, pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Keempat, bonding atau kekompakan tim agar tercipta persatuan dalam menjalankan tugas.
Dia menyebut nilai-nilai positif dari TNI dan Polri, seperti disiplin, keberanian, semangat, rela berkorban, dan kekompakan, juga diadopsi dalam pola pelatihan ini.
“Kita ingin menghadirkan petugas haji yang profesional dan berintegritas. Disiplin, keberanian, dan kekompakan itu menjadi nilai penting yang kita bawa,” kata Dendi.
Dia menjelaskan pelatihan dilakukan selama 20 hari mulai tanggal 10-30 Januari 2026. Pada pekan pertama, peserta dilatih melalui metode Peraturan Baris-Berbaris (PBB) untuk membiasakan peserta mendengar dan melaksanakan instruksi dengan cepat dan tepat.
“PBB itu penting untuk melatih kedisiplinan dan ketaatan pada instruksi. Siap, dengar perintah, lalu bergerak,” jelasnya.
Pada pekan berikutnya, pelatihan difokuskan pada tugas dan fungsi (tusi) masing-masing, seperti pelayanan di bandara, akomodasi hotel, konsumsi, kesehatan, sistem informasi haji (Siskohat), hingga media dan kehumasan. Seluruh alur operasional, mulai dari Madinah, Makkah, Arafah, Mina, hingga kembali ke hotel, juga disimulasikan.
“Semua itu operasional dan berulang setiap tahun. Kalau polanya sudah ketemu, ke depan akan semakin baik,” tambahnya.
Dendi juga menyinggung tantangan bertugas di wilayah otoritas negara lain, yakni Arab Saudi. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi kunci utama karena petugas Arab Saudi harus mengatur jamaah dari berbagai negara di dunia.
“Wajar kalau aparat Saudi terlihat tegas. Mereka menghadapi jamaah dari seluruh dunia, bukan hanya dari Indonesia,” ujarnya.
Dalam pelatihan ini, sebanyak 179 personel dari TNI dan Polri dilibatkan sebagai pelatih. Dia mengapresiasi dukungan Panglima TNI dan Kapolri yang sangat antusias karena penyelenggaraan haji merupakan tugas nasional.
“Haji ini hajatan besar, bahkan terbesar kedua setelah mudik Lebaran. Ini adalah tanggung jawab nasional,” tegas Dendi.
Lebih lanjut, Dedi mengingatkan menjadi petugas haji merupakan pekerjaan yang mulia. Bagi petugas yang belum pernah berhaji, pemerintah memberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dengan ketentuan tertentu.
“Petugas yang belum berhaji boleh melaksanakan haji, tapi saat wukuf di Arafah tidak boleh melepas seragam dan tidak mengenakan ihram. Itu melanggar sunnah, bukan rukun, dan bisa ditebus dengan dam. Ini adil, karena jutaan jamaah sudah menunggu antrean,” jelasnya.
Pelatihan yang relatif panjang juga dimaksudkan untuk membangun kebersamaan dan jiwa korsa antarpetugas sejak masih di Tanah Air.
“Kalau sudah saling kenal, akan muncul rasa kebersamaan. Kita ingin bersatu dalam kebaikan dan kebenaran,” tutur Dendi. (M Sanib, ed: Nashih)