Doktor Tafsir Alumni Al-Azhar Mesir, Direktur Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ)
Di antara anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah menjadikan waktu-waktu tertentu memiliki keutamaan dibanding lainnya sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Salah satunya adalah bulan Muharram, satu di antara empat bulan lainnya, yaitu Dzlqo`dah, Dzulhijjah dan Rajab, yang diagungkan dan disucikan oleh-Nya. Begitu mulianya empat bulan tersebut sampai-sampai Allah melarang perbuatan zalim dan maksiat, karena dosanya dilipatgandakan dibanding bulan-bulan lain (QS. At-Taubah: 36). Kata Muharram itu sendiri, secara bahasa, menegaskan keharaman melakukan kezaliman dan kemaksiatan di dalamnya, disamping kesucian dan keagungannya.
Salah satu kemuliaan bulan Muharram adalah keberadaan hari Asyura, yang merupakan hari kesepuluh di bulan tersebut. Kata Asyura popular di masa Islam, meskipun sebelum itu bangsa Arab telah biasa memuliakannya. Di hari itu Rasulullah perintahkan umatnya untuk berpuasa, karena memiliki kedudukan yang sangat luar biasa. Beliau sangat mengutamakan berpuasa di hari itu dibanding hari-hari lainnya, sebab puasa di hari itu, seperti dinyatakan dalam hadis riwayat Muslim, akan menghapuskan dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya (yukaffiru al-sanatal mâdhiyata). Bangsa Arab pada masa Jahiliyyah (sebelum Islam datang) juga memuliakannya dengan berpuasa. Demikian pula orang-orang Yahudi yang ada di Madinah.
Bahkan, dalam kisah sababul wurûd puasa Asyura, ketika tiba di Madinah Nabi menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyuro. Alasannya, menurut mereka, ini adalah hari baik, sebab di hari itu Allah telah menyelamatkan bani Israil yang dipimpin oleh Nabi Musa dari kejaran fir`aun dan bala tentaranya. Sebagai ungkapan rasa syukur, Nabi Musa berpuasa di setiap hari itu dan diikuti oleh umat Yahudi sampai masa Nabi Muhammad. Tentu, bukan hanya umat Yahudi, tetapi umat Nabi Muhammad juga lebih berhak memuliakan Nabi Musa, sehingga beliau perintahkan umatnya untuk berpuasa. Ana ahaqqu bi Mûsâ minkum (Aku lebih berhak memuliakan Musa daripada kalian), begitu katanya. Agar berbeda dengan umat Yahudi, beliau anjurkan untuk menambahkan puasa satu hari sebelum atau sesudah tanggal sepuluh Muharram.
Ma`âsyiral Muslimîn Hafizhakumullâh
Kisah tersebut mengajarkan kita untuk mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan. Seruan Nabi untuk berpuasa di hari Asyura adalah upaya menghidupkan kembali kesadaran tentang sejarah, terutama yang memiliki dampak besar bagi kehidupan. Di hari Asyura Allah menunjukkan akhir perjuangan panjang membela kebenaran, yaitu dengan membinasakan penguasa tiran dengan segala kezalimannya. Dalam konteks kisah Nabi Musa, ditenggelamkannya Firaun di Laut Merah merupakan sebuah kemenangan besar, sehingga sangat wajar jika Allah perintahkan Nabi Musa untuk selalu mengingatkan bani Israil tentang berbagai nikmat karunia Allah dalam hari-hari kehidupan mereka. Wadzakkirhum bi ayyâmillâh (Ingatkanlah mereka dengan hari-hari Allah) (QS. Ibrahim: 5).