Khutbah Idul Adha: Qurban di Tengah Krisis Ekonomi sebagai Komitmen Mempertebal Optimisme, Meneguhkan Tawakal, dan Menghidupkan Solidaritas
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Sholahudin Al Aiyub, Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah
Khutab I
الله أكبر (×9)
اللهُ أَكْبَرُ
كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ
جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا
نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبرُ وللهِ
الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأَضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هَذَا
الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ الَّذِي تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا
مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ
الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْمَنَّانِ
الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمُ (لَنْ
يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى
مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَيكُمْ ۖ
وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ)
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Hari ini kita
merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 H. Pada hari ini dan tiga hari setelahnya (yaitu hari-hari Tasyriq), kita
umat Islam disunnahkan untuk terus menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil.
Oleh karena itu,
mari kita syiarkan hari raya ini dengan menjalankan sunnah tersebut, setidaknya
setiap setelah shalat fardhu.
Hari Raya ini
disebut dengan Idul Adha (yang dalam bahasa Indonesia disebut Hari Raya Qurban),
karena kita semua umat Islam diserukan untuk memotong hewan qurban, yang
merupakan bentuk ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT, Dzat Yang Kuasanya
tiada terbilang dan tiada terhingga.
Allah SWT
berfirman:
فصل
لربك وانحر
“Sembahyanglah
kamu kepada Rabb-mu dan berqurban-lah” (QS. Al-Kautsar: 2)
Berqurban dapat
dilaksanakan pada hari ini, yaitu Hari Raya Idul Adha, dan tiga hari
setelahnya, yaitu hari-hari Tasyriq.
Adapun hewan yang
sah digunakan untuk berqurban ialah kambing, sapi atau unta yang telah cukup
umur, serta sehat dan tidak ada cacat. Diutamakan berqurban dengan hewan yang
lebih besar dan lebih gemuk serta memiliki daging yang lebih banyak.
Adalah lebih
utama, jika orang yang berqurban bisa menyembelih sendiri hewan yang diqurbankannya.
Tapi apabila hal itu tidak dimungkinkan, maka dapat dilakukan oleh orang lain
yang lebih ahli. Adapun niat dilakukan saat penyembelihan, yaitu dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Menurut mazhab
Syafi’i, berqurban hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat
dianjurkan. Oleh karena itu, bagi orang mampu, tapi tidak berqurban, maka
Rasulullah mengingatkan dengan keras:
مَنْ كَانَ
لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barang siapa
mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak berqurban maka janganlah mendekati
tempat shalat kami.” (HR
Ibnu Majah)
Maka, sepatutnya
bagi kita, sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk
memenuhi panggilan berqurban tersebut.
Apabila hari ini
belum sempat berqurban, maka masih ada tiga hari setelah hari ini yang dapat
dipergunakan untuk berqurban. Tidak lain, semua ini sebagai bukti ketundukan dan
kepatuhan kita pada ajaran agama.
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر
ولله الحمد
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Syariat berqurban
yang dilaksanakan umat Islam, selain sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan
serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga ada hikmah dan ibrah yang
dapat kita pelajari dan ikuti.
Di antara hikmah
yang dapat kita ambil ibrahnya adalah pentingnya optimisme dalam kondisi krisis
ekonomi global sebagaimana terjadi saat ini.
Saat ini kita
semakin sering mendengar suara keluh kesah masyarakat yang hidup dalam tekanan
ekonomi. Harga kebutuhan pokok naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit dan daya
beli melemah.
Banyak keluarga
yang menahan tangis dalam diam; tetap tersenyum di hadapan manusia, tetapi
hatinya dipenuhi kecemasan menghadapi hari esok.
Ada orang tua
yang mulai bingung membayar sekolah anaknya. Ada pedagang kecil yang
dagangannya sepi. Ada pekerja yang pendapatannya tidak lagi cukup memenuhi
kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada yang bertanya dalam hatinya: “Ya Allah,
sampai kapan ujian ini berlangsung?”
Di sinilah Idul
Adha hadir, bukan sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai
madrasah ruhani untuk menghadapi kehidupan.
Kondisi
perekonomian yang sulit saat ini bisa jadi merupakan ujian, agar kita dapat
melihat ulang dan kemudian memperbaiki hal-hal apa saja di dalam kehidupan ini
yang perlu untuk dibenahi dan diperbaiki.
Allah SWT
berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
“Dan sungguh
Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang
yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Syariat qurban
mengajarkan kepada kita bahwa jalan menuju kemuliaan tidak pernah lepas dari
ujian dan pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diuji dengan perintah
mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya: yaitu putranya sendiri, Ismail ‘Alaihissalam.
Bagi Ibrahim,
Ismail bukanlah sekadar anak. Ia adalah jawaban doa yang dipanjatkan selama
puluhan tahun. Ia adalah harapan di usia senja. Tetapi ketika Allah menguji
dengan perintah pengorbanan itu, Nabi Ibrahim tidak mendahulukan logika, emosi,
ataupun kepentingan dunia. Beliau mendahulukan ketaatan.
Ini semua
dikisahkah dalam Alquran:
فَلَمَّا
أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ
صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هٰذَا
لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا
عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ
“Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas
pelipisnya, Kami pun memanggilnya: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah
membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan
untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS.
Ash-Shaffat: 103-108)
Para ulama
menjelaskan bahwa inti pengorbanan Nabi Ibrahim adalah kemenangan cinta kepada
Allah di atas segala cinta dunia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
لَنْ يَصِحَّ
لِلْعَبْدِ التَّوْحِيدُ حَتَّى يَكُوْنَ اللهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ مَا
سِوَاهُ
“Tauhid
seorang hamba tidak akan sempurna sampai Allah lebih ia cintai daripada segala
sesuatu selain-Nya.”
Karena itu,
sebelum Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang agung, Allah terlebih
dahulu melihat ketulusan hati Ibrahim.
Dengan demikian,
hakikat qurban bukan semata-mata tentang darah dan daging. Tetapi tentang apa
yang sanggup kita korbankan demi menaati Allah dan Rasul-Nya.
Allah SWT
berfirman:
لَنْ يَنَالَ
اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging
dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai
kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Di tengah kondisi
ekonomi yang sulit, ibrah qurban justru semakin relevan. Qurban mengajarkan
bahwa rasa takut miskin tidak boleh mengalahkan keyakinan kepada Allah. Setan memang
selalu meniupkan ketakutan pada kondisi kekurangan:
...الشَّيْطَانُ
يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ...
“Setan
menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Karena itu,
ketika seorang mukmin tetap mau berbagi di tengah kesempitan, tetap bersedekah
di tengah keterbatasan, tetap membantu saudaranya saat dirinya sendiri belum
lapang, sesungguhnya ia sedang menyembelih “ketakutan” dalam dirinya.
Hasan Al-Bashri rahimullah berkata:
لَا تَكْرَهُوا
الْبَلَاءَ الْوَاقِعَ وَالضِّيقَ الْحَادِثَ، فَلَرُبَّ أَمْرٍ تَكْرَهُهُ فِيهِ
نَجَاتُكَ، وَلَرُبَّ أَمْرٍ تُؤْثِرُهُ فِيهِ عَطَبُكَ
“Janganlah
kalian membenci musibah dan kesempitan yang terjadi. Betapa banyak sesuatu yang
engkau benci justru di sanalah keselamatanmu. Dan betapa banyak sesuatu yang
engkau sukai justru di sanalah kehancuranmu.”
Inilah makna qurban
yang paling dalam: menyembelih kerakusan, egoisme, cinta dunia berlebihan, dan
ketergantungan hati kepada materi.
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Hari ini kita
menyaksikan banyak manusia hidup dalam budaya konsumtif. Tidak sedikit yang
memaksakan gaya hidup demi gengsi, sampai terjerat utang dan kehilangan
ketenangan hidup.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:
مَا عَالَ مَنِ
اقْتَصَدَ، وَلَا أَفْلَحَ مَنْ أَسْرَفَ
“Tidak akan
miskin orang yang hidup sederhana, dan tidak akan beruntung orang yang
berlebih-lebihan.”
Islam mengajarkan
keseimbangan. Hidup sederhana bukan berarti hina. Justru kesederhanaan sering
menjadi jalan keselamatan.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
رَأَيْتُ
الْقَنَاعَةَ رَأْسَ الْغِنَى فَصِرْتُ بِأَذْيَالِهَا مُتَمَسِّكَا
“Aku melihat
qanaah adalah puncak kekayaan, maka aku pun berpegang erat dengannya.”
Maka, meski di
tengah situasi ekonomi yang sulit, jangan sampai kesulitan mendorong kita
mengambil jalan yang haram: riba, korupsi, manipulasi, penipuan, dan kezaliman.
Sebab keberkahan hidup bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada
halalnya rezeki.
Sebagian ulama saleh
terdahulu berkata:
قَلِيلٌ مِنَ
الْحَلَالِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحَرَامِ
“Sedikit
tetapi halal lebih baik daripada banyak tetapi haram.”
Mungkin
penghasilan kita kecil, tetapi jika halal dan penuh keberkahan, ia akan membawa
ketenteraman bagi keluarga. Sebaliknya, harta haram mungkin tampak besar,
tetapi sering menjadi sebab kegelisahan dan kehancuran hidup.
الله أكبر الله
أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Qurban juga
mengajarkan solidaritas sosial. Di hari ini, orang miskin ikut merasakan
kebahagiaan. Anak-anak yatim tersenyum. Rumah-rumah yang lama tidak memasak
daging kembali merasakan nikmat Allah. Inilah keindahan Islam.
Ketika dunia
dibangun di atas persaingan tanpa belas kasih, Islam membangun masyarakat di
atas kasih sayang dan kepedulian. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
pernah berkata:
لَوْ أَنَّ
بَغْلَةً تَعَثَّرَتْ فِي الْعِرَاقِ لَخِفْتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللهُ عَنْهَا:
لِمَ لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيقَ يَا عُمَرُ؟
“Seandainya
seekor keledai tersandung di Irak, aku khawatir Allah akan bertanya kepadaku:
Mengapa engkau tidak memperbaiki jalan untuknya wahai Umar?”
Lihatlah,
bagaimana para ulama saleh terdahulu memiliki rasa tanggung jawab sosial yang
begitu besar. Karena itu, marilah kita meneladaninya. Jika kita memiliki
kelebihan rezeki, bantulah yang kesulitan. Jangan biarkan tetangga kita
menanggung lapar sementara kita hidup berlebihan.
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Ada pelajaran
besar lain dari keluarga Nabi Ibrahim: yaitu optimisme. Hal ini tergambarkan ketika
Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya Sayyidah Hajar dan putranya Ismail di lembah
tandus Makkah, yang tidak ada air, tidak ada tanaman, dan tidak ada kehidupan.
Di dalam hadis
shahih diriwayatkan bagaimana keteguhan itu tampak dalam percakapan mereka:
آالله الذي
أمرك بهذا ؟ قال: نعم، قالت: إذن لا يضيعنا الله
“...Apakah
Allah yang memerintahkan kepadamu tentang hal ini? Ibrahim menjawab: iya.
Kemudian Hajar berkata: jika demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.” (HR Bukhari)
Kalimat ini
pendek, tetapi mengguncang langit. Hari ini banyak manusia kehilangan harapan
karena terlalu bergantung kepada dunia. Ketika usaha menurun, ia putus asa.
Ketika jabatan hilang, ia merasa hidupnya selesai. Padahal pintu Allah tidak
pernah tertutup.
Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِذَا
أَقْبَلَتِ الدُّنْيَا عَلَى أَحَدٍ أَعَارَتْهُ مَحَاسِنَ غَيْرِهِ، وَإِذَا
أَدْبَرَتْ عَنْهُ سَلَبَتْهُ مَحَاسِنَ نَفْسِهِ
“Ketika dunia
datang kepada seseorang, ia dipinjamkan kelebihan-kelebihan orang lain. Tetapi
ketika dunia pergi darinya, bahkan kelebihan dirinya sendiri terasa hilang.”
Karena itu,
jangan gantungkan kemuliaan hidup kepada dunia. Gantungkanlah hati kepada Allah
Yang Menguasai dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّ أَرْجَى
مَا يَكُونُ الْعَبْدُ لِلْفَرَجِ إِذَا بَلَغَ الْجَهْدُ مِنْهُ
“Sesungguhnya
saat paling dekat datangnya kelapangan adalah ketika kesulitan telah mencapai
puncaknya.”
Maka jangan
menyerah menghadapi keadaan. Tetaplah bekerja dengan halal. Tetaplah menjaga
shalat. Tetaplah jujur. Tetaplah bertakwa. Karena sesungguhnya setelah
kesulitan ada kemudahan.
فَإِنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan
ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Kaum Muslimin
wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
الله أكبر الله
أكبر الله أكبر ولله الحمد
Semoga Allah
menjadikan kita hamba-hamba yang sabar dalam ujian, ikhlas dalam pengorbanan,
kuat dalam perjuangan, dan tetap istiqamah di tengah perubahan zaman.
إِنَّ أَحْسَنَ
الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ المْنَاَّنِ، وَبِهِ يَهْتَدِي
الْمُهْتَدُونَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. اِنَّآ
اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ، اِنَّ شَانِئَكَ
هُوَ الْاَبْتَرُࣖ
بَارَكَ اللهُ
لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ
وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ,
فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
اللهُ
أَكْبَرُ، (×7) لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
كَمَا أَمَرْ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ
جَحَدَ بِهِ وَكَفَرْ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ
تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا
مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اللّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ
انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،اللهم انصر المسلمين في كل مكان وخاصة في فلسطين، واخذل من خذل
المسلمين، واجعل بلدتنا إندونيسيا بلدة آمنة مطمئنة. ونَسْأَلُكَ اللهُمَّ دَوَامَ الْعِنَايَةِ وَ
التَأْيِيْدِ، لِحَضْرَةِ مَوْلاَنَا سُلْطَانِ الْمُسْلِمِيْنَ، الْمُؤَيَّدِ
بِالنَّصْرِ وَ التَّمْكِيْنِ.
اللهُمَّ
انْصُرْهُ وَانْصُرْ عَسَاكِرَهُ، وَ امْحَقْ بِسَيْفِهِ رِقَابَ الطَّائِفَةِ
الْكَافِرَةِ، وَ أَيِّدْ بِشَدِيْدِ رَأْيِهِ عِصَابَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ
اجْعَلْ بِفَضْلِكَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنَّا، وَارْفَعِ اللهُمَّ
مَقْتَكَ وَ غَضَبَكَ عَنَّا، وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ
يَخَافُكَ وَ لاَ يَرْحَمْنَا يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ
إِيَّاكَ نَسْأَلُ فَلاَ تُخَيِّبْنَا، وَإِلَيْكَ نَلْجَأُ فَلاَ تَطْرُدْنَا،
وَعَلَيْكَ نَتَوَكَّلُ فَاجْعَلْنَا لَدَيْكَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ
وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ
تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ.
اَللّٰهُ اَكْبَرُ (×3) لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.